Menlu Oman Bard Albusaidi bersama Menlu Iran Abbas Araghchi. (Anadolu Agency)
Menlu Oman Sebut Iran Berjanji Tak Akan Pernah Miliki Senjata Nuklir
Willy Haryono • 28 February 2026 13:29
Washington: Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan Iran telah sepakat bahwa mereka “tidak akan pernah, sama sekali tidak akan pernah” memiliki bahan nuklir yang dapat digunakan untuk membuat bom.
Ia menyebutnya sebagai sebuah terobosan yang membuat prospek kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat kini “dalam jangkauan.”
Berbicara kepada CBS News setelah bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington, Albusaidi menggambarkan perkembangan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Pencapaian paling penting, menurut saya, adalah kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki bahan nuklir yang dapat menciptakan bom,” katanya.
“Ini adalah sesuatu yang tidak ada dalam kesepakatan lama yang dinegosiasikan pada masa Presiden Obama. Ini benar-benar hal yang baru," lanjut Albusaidi, dikutip dari India Today, Sabtu, 28 Februari 2026.
Albusaidi, yang menjadi mediator dalam pembicaraan tersebut, mengatakan negosiasi telah membuat “kemajuan substansial” dan mendesak agar diplomasi diberi waktu.
“Saya bisa melihat bahwa kesepakatan damai berada dalam jangkauan, jika kita memberi diplomasi ruang yang dibutuhkan,” katanya. “Saya tidak berpikir alternatif selain diplomasi akan menyelesaikan masalah ini.”
Ia menjelaskan bahwa kerangka yang diusulkan mencakup “nol penimbunan” uranium yang diperkaya, sebuah perubahan penting dibanding kesepakatan sebelumnya.
“Sekarang kita berbicara tentang nol penimbunan,” kata Albusaidi. “Jika Anda tidak dapat menimbun bahan yang diperkaya, maka tidak ada cara untuk benar-benar membuat bom.”
Ia menambahkan bahwa persediaan uranium Iran yang ada saat ini akan “diencerkan ke tingkat serendah mungkin, ke tingkat netral, dan diubah menjadi bahan bakar, dan bahan bakar itu tidak dapat dikembalikan seperti semula.”
Albusaidi mengatakan verifikasi penuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan menjadi bagian dari kesepakatan, dan bahkan menyiratkan bahwa inspektur Amerika Serikat pada akhirnya dapat diberikan akses jika kesepakatan diselesaikan.
Komentarnya muncul ketika Presiden Donald Trump menyatakan frustrasi atas lambatnya negosiasi, dengan mengatakan ia “tidak senang dengan negosiasi” dan menegaskan kembali, “Saya katakan tidak ada pengayaan.”
Meski ada ketegangan tersebut, Albusaidi mengatakan ia percaya Washington dan Teheran sama-sama serius untuk mencapai kesepakatan.
“Saya pikir bahkan Presiden menginginkan kesepakatan ini berhasil,” katanya.
Dalam unggahan di platform X setelah wawancara, Albusaidi merangkum kerangka yang diusulkan dengan menulis: “Kesepakatan damai antara AS dan Iran kini dalam jangkauan. Tidak ada senjata nuklir. Tidak pernah. Nol penimbunan. Verifikasi menyeluruh. Damai secara permanen.”
Ia menambahkan: “Mari dukung para negosiator untuk menyelesaikan kesepakatan.”
Diskusi teknis dijadwalkan berlangsung di Wina, diikuti putaran pembicaraan tingkat tinggi lainnya dalam beberapa hari ke depan. Albusaidi mengatakan kesepakatan politik secara umum dapat dicapai dengan cepat, sementara proses implementasi—termasuk verifikasi dan penanganan persediaan yang ada—dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga bulan.
“Ada peluang yang benar-benar bersejarah untuk menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi,” ucapnya.
Baca juga: AS Desak Iran Bongkar Situs Nuklir dan Serahkan Seluruh Stok Uranium