Situasi kabut asap di Kota Balikpapan. MI
Kabut Asap Karhutl Mulai Selimuti Kota Balikpapan
Media Indonesia • 30 August 2026 12:19
Balikpapan: Kabut asap mulai terlihat di sejumlah kawasan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, seiring munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah provinsi tersebut.
Meski demikian, kondisi asap yang terpantau di Balikpapan belum memengaruhi jarak pandang maupun aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono mengatakan hasil pemantauan meteorologi menunjukkan adanya sejumlah titik yang mulai terpapar asap. Namun, konsentrasi asap di Balikpapan masih relatif tipis dan tidak bertahan lama.
"Pantauan kami sekarang memang ada beberapa titik yang sudah masuk kabut asap. Tetapi kabut asapnya tidak separah seperti yang ada di Kalimantan Selatan atau Kalimantan Barat termasuk di Kalimantan Tengan," ucapnya di Balikpapan, Minggu, 30 Agustus 2026.
Asap Kiriman dari Wilayah Lain
Djoko menjelaskan, asap yang terpantau di Balikpapan mayoritas berasal dari wilayah lain, terutama Kalimantan Selatan. Pergerakan angin membuat konsentrasi asap di Balikpapan relatif cepat berubah dan tidak menetap.
"Di Balikpapan kita cuma kiriman dari Kalimantan Selatan. Jadi tidak ada signifikan asap yang ada di sini," katanya.
Selain dari Kalimantan Selatan, aktivitas karhutla yang cukup besar juga terpantau di Kabupaten Berau. Namun, arah angin membuat asap dari wilayah tersebut tidak bergerak langsung menuju Balikpapan.
"Yang paling besar terjadi pantauan kami di Berau. Tetapi awan dan anginnya bertiup dari timur ke arah utara, sehingga Kalimantan Timur, tanda kutip, agak aman dengan asap," terangnya.
Kondisi tersebut turut membuat jarak pandang di Balikpapan masih berada dalam kondisi relatif aman. Berdasarkan pemantauan stasiun meteorologi setempat, jarak pandang berada di kisaran 8 hingga 10 kilometer.
“Tapi kami tetap mengingatkan, kondisi tersebut dapat berubah tergantung pada perkembangan titik api dan arah angin,” imbuh Djoko.

Temuan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 1.511,55 hektare areal konsesi perkebunan di Pulau Kalimantan oleh Kemenhut. (ANTARA/HO-Ditjen Gakkumhut)
Kondisi berbeda terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur yang mengalami kebakaran lokal dan proses pemadaman berlangsung lebih lama. Situasi tersebut sempat menyebabkan jarak pandang turun secara signifikan hingga sekitar 3,5 kilometer.
"Kemarin kita pantau ada wilayah di Kaltim jarak pandan menurun karena kabut asap sekitar 3,5 kilometer, dan itu sudah tidak normal," tegasnya.
Djoko mengatakan jarak pandang sekitar 3,5 kilometer berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk sektor transportasi dan penerbangan, akibat konsentrasi asap yang cukup tebal.
"Sudah berbahaya, kabutnya agak tebal di sana karena kebakarannya lokal dan lama dipadamkan," ujarnya.
Sementara di Balikpapan, kondisi dinilai masih lebih terkendali karena titik api yang muncul dapat segera ditangani. Djoko mengapresiasi respons petugas dan relawan dalam menangani kebakaran di wilayah tersebut.
"Saya salut dengan tim dan relawan-relawan kita yang sigap terhadap api yang ada di Balikpapan," katanya.
Penerbangan di Balikpapan Masih Aman
Djoko memastikan kabut asap yang mulai terpantau di Balikpapan belum mengganggu operasional penerbangan di Bandara SAMS Sepinggan. Kondisi jarak pandang masih mendukung aktivitas penerbangan.
"Penerbangan baik berangkat mau kedatangan di Balikpapan masih aman," sebut Djoko.
Di sisi lain, kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan sempat berdampak terhadap penerbangan menuju beberapa bandara. Dalam beberapa hari terakhir, Bandara SAMS Sepinggan menerima penerbangan yang dialihkan dari bandara tujuan akibat kondisi jarak pandang.
Djoko menyebut terdapat dua penerbangan yang dialihkan ke Balikpapan setelah kondisi asap di bandara tujuan tidak memungkinkan pesawat melakukan pendaratan. Penerbangan tersebut semula dijadwalkan menuju Banjarmasin dan Pontianak.
“Kita akui kabut asap akibat karhutla, sangat berdampak terhadap konektivitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan, meskipun Balikpapan sendiri masih relatif aman,” tutupnya. (Ervan Masbanjar)