Sebuah kapal tanker melintas di Selat Hormuz. (Press TV)
Melalui Mediator, Iran Tawarkan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Muhammad Reyhansyah • 27 April 2026 14:51
Teheran: Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang sembari menunda negosiasi terkait program nuklir ke tahap selanjutnya, mneurut keterangan sejumlah sumber.
Usulan tersebut disampaikan kepada Amerika Serikat (AS) melalui sejumlah mediator, termasuk Pakistan, di tengah kebuntuan diplomatik mengenai program nuklir Iran.
Mengutip media Anadolu, Senin, 27 April 2026, sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa penawaran Iran bertujuan melewati perbedaan pendapat soal pengayaan uranium demi mencapai kesepakatan yang lebih cepat dengan fokus pada pencabutan blokade serta pemulihan lalu lintas maritim.
Dalam proposal itu, gencatan senjata akan diperpanjang untuk jangka panjang atau dijadikan permanen, sementara pembicaraan nuklir baru akan dimulai setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan berbagai pembatasan dicabut.
Seorang pejabat AS dan sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan Gedung Putih telah menerima usulan itu, namun belum memberikan indikasi apakah akan menindaklanjutinya.
AS Masih Pertimbangkan Langkah Selanjutnya
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menggelar pertemuan di Situation Room pada Senin bersama pejabat senior keamanan nasional untuk membahas kebuntuan tersebut serta kemungkinan langkah berikutnya.Trump sebelumnya menyatakan lebih memilih mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
“Ketika Anda memiliki jumlah minyak yang sangat besar, jika jalur ini ditutup, jalur itu akan meledak dari dalam,” ujarnya, sambil menambahkan Iran mungkin hanya memiliki “sekitar tiga hari” sebelum menghadapi tekanan internal.
Upaya diplomatik meningkat sepanjang akhir pekan, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggelar pembicaraan di Islamabad, Pakistan, dan Muscat, Oman, yang berfokus pada isu selat tersebut.
Ia kemudian tiba di Saint Petersburg, Rusia, pada Senin pagi untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pejabat senior lainnya.
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales mengatakan pembahasan ini merupakan diskusi diplomatik yang sensitif dan menegaskan bahwa AS memegang kendali utama.
Iran dan AS sebelumnya menggelar perundingan di Islamabad pada 11–12 April, namun gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Perundingan itu berlangsung setelah Pakistan memediasi gencatan senjata dua pekan pada 8 April yang kemudian diperpanjang oleh Trump.
Meski upaya untuk putaran pembicaraan lanjutan masih dilakukan, sejumlah isu utama yang masih menghambat disebut mencakup Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, dan hak Iran untuk memperkaya uranium.
Baca juga: Oman Serukan Jalur Diplomasi untuk Jamin Kebebasan Navigasi di Selat Hormuz