Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun. (Antara)
Tiongkok Protes Keras PM Jepang Takaichi yang Kirim Persembahan ke Kuil Yasukuni
Willy Haryono • 22 April 2026 15:38
Beijing: Pemerintah Tiongkok memprotes keras atas langkah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengirimkan persembahan ritual ke Kuil Yasukuni, yang selama ini dipandang Beijing sebagai simbol militerisme masa perang.
“Tiongkok menentang dengan tegas dan mengutuk keras langkah-langkah negatif terbaru Jepang yang berkaitan dengan Kuil Perang Yasukuni. Kami telah menyampaikan protes serius kepada pihak Jepang,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa kemarin.
Dikutip dari Antara, Rabu, 22 April 2206, Takaichi telah mengirimkan persembahan berupa ranting pohon masakaki ke kuil Yasukuni pada Selasa kemarin, bertepatan dengan dimulainya festival musim semi selama tiga hari.
Pengiriman persembahan merupakan gestur rutin sejumlah perdana menteri Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah pejabat tinggi Jepang lainnya, termasuk Ketua Majelis Rendah Eisuke Mori dan Presiden Majelis Tinggi Masakazu Sekiguchi, juga diketahui memberikan persembahan serupa.
Terkait kemungkinan kunjungan langsung, Takaichi menyebut hal itu sebagai urusan “pribadi” dan menolak memberikan komentar lebih lanjut.
Simbol Militerisme Jepang
Tiongkok menilai Kuil Yasukuni sebagai simbol spiritual kaum militeris Jepang yang bertanggung jawab atas agresi perang di masa lalu. “Pada kenyataannya, tempat ini merupakan kuil bagi para penjahat perang,” ujar Guo.Tahun ini menandai peringatan ke-80 dimulainya Pengadilan Tokyo, di mana hakim dari 11 negara mengadili kejahatan perang Jepang selama lebih dari dua setengah tahun.
Guo menegaskan bahwa hingga kini, kuil tersebut masih memuliakan 14 penjahat perang Kelas A yang telah divonis bersalah, serta lebih dari seribu penjahat perang Kelas B dan C.
Menurutnya, tindakan pejabat Jepang yang tetap mengunjungi atau memberikan persembahan merupakan bentuk penghindaran tanggung jawab sejarah.
“Langkah-langkah ini adalah penghinaan terhadap keadilan, provokasi terhadap korban perang, serta tantangan terhadap hasil kemenangan Perang Dunia II,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut telah menuai kecaman luas dari komunitas internasional dan mendesak Jepang untuk melakukan introspeksi. “Akankah Jepang terus membiarkan bayang-bayang militerisme menyebar?” kata Guo.
Sumber Kontroversi
Kuil Yasukuni sendiri telah lama menjadi sumber kontroversi karena menjadi tempat penghormatan bagi sekitar 2,5 juta arwah korban perang Jepang sejak abad ke-19, termasuk mereka yang terlibat dalam berbagai konflik seperti Perang Boshin hingga Perang Dunia II.Didirikan pada 1869 atas perintah Kaisar Meiji dengan nama Shokonsha, kuil tersebut kemudian berganti nama menjadi Yasukuni Jinja pada 1879. Nama “Yasukuni” sendiri bermakna “menjaga perdamaian bagi seluruh bangsa."
Setiap tahun, sekitar lima juta orang mengunjungi kuil ini untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang.
Kunjungan terakhir seorang perdana menteri Jepang yang sedang menjabat ke kuil tersebut terjadi pada Desember 2013 oleh Shinzo Abe, yang juga dikenal sebagai mentor politik Takaichi.
Baca juga: PM Jepang Sanae Takaichi Kirim Persembahan ke Kuil Kontroversial Yasukuni