Kapal perang Tiongkok dalam sebuah operasi militer. Foto: CGTN
AS Desak Tiongkok Hentikan Aktivitas Militer di Sekitar Taiwan
Muhammad Reyhansyah • 2 January 2026 22:58
Washington: Amerika Serikat (AS) menyerukan agar Tiongkok menghentikan aktivitas militernya di sekitar Taiwan dan kembali membuka jalur dialog, menyusul latihan militer besar-besaran yang dinilai meningkatkan ketegangan kawasan.
Pernyataan ini disampaikan Departemen Luar Negeri AS pada Jumat, 2 Januari 2026, setelah Presiden Tiongkok Xi Jinping kembali menegaskan komitmen Beijing untuk mengambil alih Taipei.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menilai langkah militer dan retorika Tiongkok terhadap Taiwan serta negara-negara lain di kawasan justru memperkeruh situasi.
“Aktivitas militer dan retorika Tiongkok terhadap Taiwan dan pihak lain di kawasan secara tidak perlu meningkatkan ketegangan. Kami mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan kembali terlibat dalam dialog yang bermakna,” kata Pigott dalam pernyataannya, dikutip dari India Today, Jumat 2 Januari 2026.
Pernyataan Washington muncul seiring digelarnya dua latihan militer skala besar oleh Tiongkok di sekitar Taiwan pada awal pekan ini, yang dikecam pemerintah Taiwan sebagai unjuk kekuatan militer.
Pernyataan Xi Jinping Soal Reunifikasi
Dalam pidato malam Tahun Baru yang disiarkan media pemerintah pada Rabu malam, Presiden Xi Jinping menegaskan kembali klaim Beijing atas Taiwan.“Kami, rakyat Tiongkok di kedua sisi Selat Taiwan, memiliki ikatan darah dan kekerabatan,” ujar Xi. Ia menambahkan, “Reunifikasi tanah air kita adalah tren zaman yang tak terhentikan.”
Otoritas Tiongkok menyatakan latihan tersebut mencakup peluncuran rudal serta pengerahan puluhan pesawat tempur, kapal angkatan laut, dan kapal penjaga pantai pada Senin dan Selasa. Menurut Beijing, manuver itu dirancang untuk mengepung pulau utama Taiwan dan mensimulasikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan penting.
Pemerintah Taiwan mengecam latihan tersebut sebagai tindakan “sangat provokatif” dan memperingatkan risiko destabilisasi kawasan. Tiongkok, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, secara konsisten menolak menyingkirkan opsi penggunaan kekuatan untuk menguasai pulau yang diperintah secara demokratis itu.
AS Tegaskan Dukungan pada Status Quo
Pigott kembali menegaskan kebijakan lama Amerika Serikat yang menentang perubahan sepihak atas situasi di Selat Taiwan.“Amerika Serikat mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan menentang perubahan sepihak terhadap status quo, termasuk melalui penggunaan kekuatan atau paksaan,” ujarnya.
Selama beberapa dekade, Washington mendukung kemampuan Taiwan untuk mempertahankan diri, sembari mempertahankan ambiguitas strategis mengenai apakah militer AS akan turun tangan langsung jika terjadi invasi oleh Tiongkok.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengambil nada lebih moderat dengan menyatakan dirinya tidak khawatir terhadap latihan tembak langsung Tiongkok dan menilai manuver tersebut tidak menandakan ancaman segera.
“Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Xi. Dia tidak memberi tahu saya apa pun soal itu. Saya memang melihatnya,” ujar Trump kepada wartawan.
“Saya tidak percaya dia akan melakukannya,” kata Trump, merujuk pada kemungkinan invasi. “Mereka sudah melakukan latihan angkatan laut selama 20 tahun di kawasan itu. Sekarang orang-orang memaknainya secara berbeda,” tambahnya.
Penjualan Senjata Tambah Ketegangan
Unjuk kekuatan terbaru Beijing terjadi setelah pemerintahan Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai USD11 miliar untuk Taiwan. Beijing secara konsisten menentang penjualan senjata AS ke pulau tersebut, dengan alasan langkah itu melanggar kedaulatannya dan mendorong separatisme.Latihan militer terbaru ini menandai putaran keenam manuver besar Tiongkok di sekitar Taiwan sejak 2022, ketika kunjungan Ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi, ke pulau tersebut memicu kemarahan Beijing dan latihan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak saat itu, aktivitas militer di Selat Taiwan semakin sering terjadi.