Kemenkes Catat 10 Kasus Super Flu di Jawa Barat, Ini Gejalanya

Ilustrasi virus. Foto: Medcom.id

Kemenkes Catat 10 Kasus Super Flu di Jawa Barat, Ini Gejalanya

Media Indonesia • 4 January 2026 14:24

Bandung: Kementerian Kesehatan mencatat kemunculan penyakit super flu atau virus Influenza tipe A sub-clade K (H3N2) di sejumlah provinsi. Total terdapat 62 kasus di Indonesia, dan 10 kasus terdeteksi di Jawa Barat.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, dr. Moh. Lutfi, menjelaskan super flu secara klinis memiliki gejala yang sama dengan influenza tipe A pada umumnya. Meski begitu, masyarakat tetap diminta waspada karena virus hasil mutasi ini berpotensi menular lebih cepat.

“Gejalanya sebetulnya sama saja, ada demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, hingga nyeri otot atau badan terasa lemah,” ujar dia, Minggu, 4 Januari 2025.

Lutfi menyebut, perbedaan utama super flu terletak pada kecepatan transmisi virus. Dia menyebut penularan super flu bisa lebih cepat antara satu orang ke orang lain. 

Tak Perlu Panik dan Hindari Penggunaan Antibiotik

IDI Jabar meminta masyarakat tidak panik dan menghindari penggunaan antibiotik tanpa indikasi medis. Penyakit ini disebabkan virus sehingga kekebalan tubuh memegang peran utama.

“Tidak ada obat yang spesifik. Untuk mengatasi gejala batuk pileknya, bisa menggunakan obat yang umum tersedia di apotek. Karena ini virus, daya tahan tubuh kita sendirilah yang akan mengatasi infeksinya,” jelas dia

Antibiotik hanya diberikan bila terdapat infeksi bakteri. Pasien dengan gejala ringan disarankan istirahat dan isolasi mandiri.

“Kalau gejalanya ringan, tidak perlu dibawa ke IGD. Kecuali, jika muncul gejala berat seperti sesak napas atau demam tinggi yang menetap, nah itu baru perlu diperiksakan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan,” oesan dia. Selain memakai masker dan menjaga kebersihan tangan, Lutfi juga mendorong masyarakat mempertimbangkan vaksinasi influenza untuk mencegah komplikasi serius.

“Satu lagi, mungkin vaksinasi influenza itu perlu ya menurut saya, untuk menghindari risiko peradangan di dalam ya. Terutama untuk populasi tertentu, misalkan usia lanjut atau orang-orang dengan daya tahan tubuh rendah seperti pasien kanker, pasien autoimun dan lain-lain," ujar dia. (MI/AN/Naviandri)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)