Peran dan Profil Singkat Tiga Tokoh Muda dalam Kemerdekaan Indonesia

Soekarno membacakan teks Proklamasi. DOK Arsip Nasional

Peran dan Profil Singkat Tiga Tokoh Muda dalam Kemerdekaan Indonesia

Muhamad Marup • 16 August 2026 21:31

Jakarta: Kemerdekaan Indonesia diraih atas perjuangan semua pihak, termasuk para pemuda. Presiden dan Wakil Presiden Pertama RI, Soekarno dan Mohammad Hatta masih berusia 40 tahunan ketika menjabat posisi tersebut.

Selain kedua sosok tersebut, masih banyak tokoh-tokoh muda lain yang terlibat. Masing-masing dari mereka punya peran spesifik, mulai dari merumuskan naskah, mengetik, menjemput ke Rengasdengklok, sampai menjahit bendera pusaka.

Melansir deepublishstore.com, berikut tiga tokoh dari sekian banyak pemuda yang terlibat dalam kemerdekaan Indonesia.

Fatmawati

Fatmawati merupakan yang termuda dalam daftar ini. Istri Soekarno itu masih berusia 22 tahun ketika Indonesia merdeka.

Profil Fatmawati, Istri Soekarno dan Penjahit Bendera Pusaka

Fatmawati dan Soekarno. (Instagram/@membacasoekarno)

Ia adalah sosok yang menjahit bendera pusaka Merah-Putih yang dikibarkan pada saat upacara proklamasi 17 Agustus 1945. Bendera pusaka jahitan Fatmawati ini kemudian menjadi simbol nasional yang dikenang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

Soekarni

Soerkani berusia 29 tahun ketika Indonesia merdeka. Ia adalah salah satu tokoh dari golongan pemuda yang memberikan usulan penting terkait penandatanganan naskah proklamasi.

Ia mengusulkan agar naskah proklamasi cukup ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta saja, mewakili seluruh bangsa Indonesia. Usulan ini mempertegas semangat kesatuan dan persatuan bangsa pada momen bersejarah tersebut, sekaligus menghindari kesan bahwa proklamasi hanya milik kelompok tertentu.

Sayuti Melik


Sayuti Melik dan SK Trimurti. Foto: Istimewa.

Saat Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Sayuti Melik masih berusia 36 tahun. Ia dikenang sebagai sosok yang mengetik naskah proklamasi dari tulisan tangan Soekarno menjadi teks resmi yang siap dibacakan.

Peran tersebut terdengar sederhana, tetapi sangat krusial. Naskah ketikan itulah yang akhirnya dibacakan dan didokumentasikan sebagai teks proklamasi resmi.

Tidak hanya mengetik, Sayuti Melik juga mengubah kalimat "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "atas nama bangsa Indonesia" dalam naskah proklamasi. Perubahan kecil ini punya makna besar, karena menegaskan bahwa proklamasi mewakili seluruh rakyat Indonesia, bukan sekadar segelintir wakil. Tiga sosok tersebut merupakan sedikit dari partisipasi pemuda dalam kemerdekaan Indonesia. Mengenal peran para pemuda termasuk tiga tokoh di atas jadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hasil kerja satu orang, melainkan buah kolaborasi banyak pihak.

(Muhamad Marup)