Para pemimpin negara anggota BRICS dalam pertemuan di India. Foto: BPMI Setpres
BRICS Mulai Membangun Dunia dengan Lebih Banyak Pilihan
Muhammad Reyhansyah • 16 September 2026 11:07
Jakarta: Selama bertahun-tahun, BRICS dibicarakan dengan pertanyaan yang sama: apakah kelompok negara-negara berkembang itu suatu hari akan menjadi penantang utama tatanan dunia yang selama ini didominasi negara-negara Barat?
Pertanyaan itu semakin relevan setelah BRICS berkembang. Kini kelompok tersebut beranggotakan 11 negara, termasuk Indonesia, dan tidak lagi sekadar menjadi forum ekonomi. Ia telah menjadi salah satu panggung utama bagi negara-negara Global South untuk menuntut suara yang lebih besar dalam menentukan aturan dunia.
Namun, KTT BRICS di New Delhi pada 12–13 September 2026 justru memberi kesan masa depan kelompok ini mungkin tidak terletak pada ambisinya untuk ‘menggantikan’ Barat.
Mungkin BRICS sedang mengerjakan sesuatu yang lebih sederhana, tetapi sekaligus lebih realistis: memastikan bahwa negara-negara anggotanya tidak selalu hanya memiliki satu pilihan.
Deklarasi New Delhi yang terdiri atas 140 poin memperlihatkan dua wajah BRICS sekaligus. Di tingkat politik, kelompok ini masih membawa agenda yang cukup ambisius.
Para pemimpin menyerukan reformasi tata kelola global, termasuk reformasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan lembaga-lembaga keuangan internasional agar lebih mencerminkan kepentingan negara berkembang.
Mereka juga menegaskan dukungan terhadap multilateralisme, dunia multipolar, serta peningkatan peran Global South dalam pengambilan keputusan internasional.
Nada yang sama muncul dalam isu perdagangan. BRICS menolak tindakan proteksionis dan tarif sepihak yang dinilai mengganggu perdagangan serta rantai pasok global. Kelompok itu juga kembali menyuarakan penolakan terhadap sanksi ekonomi sepihak yang tidak didasarkan pada keputusan Dewan Keamanan PBB. Konflik di Timur Tengah, Palestina, Sudan dan sejumlah isu keamanan lain turut masuk ke dalam deklarasi.
Dari Retorika ke Instrumen
Tetapi deklarasi tersebut tidak berhenti pada kritik terhadap tatanan yang ada. Justru di situlah bagian yang paling menarik.
Di sektor ekonomi dan keuangan, BRICS mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi, mempercepat pembangunan sistem pembayaran lintas negara yang lebih terhubung, serta memperkuat peran New Development Bank dalam pembiayaan pembangunan dan penggunaan mata uang lokal. Deklarasi juga mencatat berbagai upaya untuk memperdalam kerja sama perdagangan, investasi dan konektivitas ekonomi antaranggota.
Tidak ada keputusan untuk menciptakan mata uang bersama BRICS.
Dan mungkin itu justru poinnya.
Selama ini de-dollarization terlalu sering dibicarakan seolah-olah tujuan akhirnya adalah menemukan satu mata uang baru yang mampu menandingi dolar. Padahal, sebuah sistem tidak harus dihancurkan untuk mengurangi ketergantungan terhadapnya.
BRICS cukup membuat alternatif menjadi lebih mudah digunakan.

Satu perusahaan di India bisa membayar mitranya di Brasil tanpa harus melewati rangkaian transaksi yang sama. Bank di Indonesia bisa memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi dengan mitra BRICS. Proyek pembangunan bisa memperoleh pembiayaan melalui jalur yang lebih beragam.
Tidak terdengar seperti revolusi.
Tetapi justru perubahan seperti itulah yang mungkin lebih bertahan lama.
Agenda KTT juga memperlihatkan bahwa BRICS semakin sibuk dengan persoalan yang sangat praktis. Para pemimpin mendorong kerja sama dalam ketahanan pangan, termasuk pengembangan BRICS Grain Exchange, memperkuat kerja sama kesehatan dan kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular, serta memperluas kolaborasi di bidang industri, teknologi digital, kecerdasan buatan, riset dan pengembangan kapasitas tenaga kerja.
Tema yang dipilih India tahun ini -,Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability,- akhirnya terasa cukup tepat.
BRICS tidak hanya berbicara tentang bagaimana dunia seharusnya diatur. Ia juga mulai berbicara tentang bagaimana anggotanya harus bertahan di dalam dunia yang semakin tidak stabil: menghadapi gangguan rantai pasok, ketidakpastian energi dan pangan, perubahan teknologi, perubahan iklim, serta persaingan geopolitik.
Mungkin di sinilah perubahan wataknya terlihat.
BRICS tetap ingin mengubah tatanan global, tetapi ia semakin sadar bahwa perubahan itu tidak harus dimulai dari sebuah deklarasi yang menggemparkan. Ia bisa dimulai dari sistem pembayaran, pembiayaan, perdagangan, teknologi, dan rantai pasok yang secara perlahan membuat negara-negara anggotanya memiliki lebih banyak pilihan.
Semakin Besar, Semakin Sulit Sepakat
Yang menarik, kemampuan BRICS untuk menghasilkan kesepakatan seperti itu tidak datang dari keseragaman.
Sebaliknya, Kelompok ini semakin sulit disebut sebagai kumpulan negara dengan kepentingan yang sama. India dan Tiongkok punya rivalitas sendiri. Rusia memiliki kepentingan geopolitik yang sangat berbeda dari negara-negara berkembang lain.
Iran dan Uni Emirat Arab berada dalam lingkungan keamanan Timur Tengah yang tidak sederhana. Setiap anggota juga mempunyai hubungan perdagangan dan politik yang berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Dengan anggota sebanyak itu, kesepakatan apa pun hampir pasti membutuhkan bahasa yang hati-hati.
Deklarasi New Delhi memperlihatkan hal tersebut. Pada isu-isu geopolitik yang sensitif, bahasa yang digunakan cenderung mengedepankan dialog, diplomasi, kedaulatan dan penyelesaian damai.

Itu membuat pernyataannya jauh dari manifesto politik yang tajam. Tetapi justru bahasa semacam itu yang memungkinkan sebelas negara dengan kepentingan berbeda tetap berada di meja yang sama.
BRICS mungkin menjadi semakin besar, tetapi ruang untuk sepakat tidak ikut membesar.
Di satu sisi, ini merupakan keterbatasan. Sulit membayangkan BRICS bertindak seperti satu negara atau aliansi militer ketika anggotanya bahkan tidak selalu melihat persoalan geopolitik dari sudut yang sama. Di sisi lain, kemampuan menjaga konsensus dalam kondisi semacam itu justru merupakan aset.
Sebuah forum yang mampu mempertemukan negara-negara dengan kepentingan berbeda mungkin tidak akan pernah bergerak secepat sebuah aliansi yang anggotanya sepakat hampir dalam segala hal. Tetapi forum semacam itu juga mempunyai satu keunggulan: ia dapat menjadi tempat bagi berbagai kepentingan untuk bertemu tanpa harus terlebih dahulu sepakat mengenai semuanya.
Karena itu, mungkin pertanyaan tentang BRICS memang perlu diubah.
Bukan lagi apakah BRICS akan menggantikan Barat.
Pertanyaan itu terlalu besar, dan mungkin sejak awal kurang tepat.
Yang lebih menarik adalah apakah BRICS dapat membuat dunia menjadi sedikit lebih beragam bagi negara-negara anggotanya—dalam perdagangan, pembayaran, pembiayaan, teknologi, energi, pangan, bahkan dalam menentukan aturan global.
Lalu, Apa Artinya bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, pergeseran itu bukan sekadar teori.
Presiden Prabowo Subianto dalam KTT New Delhi menekankan kekuatan kolektif BRICS untuk memperkuat tata kelola global, ketahanan pangan dan energi, serta menciptakan peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. Dalam sesi terbatas mengenai tata kelola global dan multilateralisme, Prabowo juga membawa semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 dan mengangkat pepatah “bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh” sebagai pesan mengenai pentingnya persatuan Global South.
Menariknya, semangat Bandung itu ikut muncul dalam Deklarasi New Delhi. Dokumen tersebut secara eksplisit merujuk Konferensi Asia-Afrika 1955 dan Bandung Spirit sebagai bagian dari landasan bagi sistem multilateral yang lebih adil, inklusif dan representatif.
Itu tentu merupakan kemenangan simbolik yang layak dicatat.
Tetapi diplomasi tidak berhenti pada naskah.
Indonesia juga tidak tepat disebut sebagai negara yang diabaikan India. Perdana Menteri Narendra Modi justru menggelar pertemuan bilateral dengan Prabowo pada hari terakhir rangkaian KTT, sebagai bagian dari 15 pertemuan bilateralnya dengan para pemimpin negara selama tiga hari.
Persoalan yang lebih menarik adalah soal bobot.
Menjadi anggota BRICS memberi Indonesia akses pada berbagai instrumen yang kini sedang dikembangkan kelompok tersebut. Pembayaran dalam mata uang lokal dapat membuka pilihan baru bagi perdagangan. New Development Bank dapat menjadi sumber pembiayaan tambahan. Kerja sama teknologi, pangan, energi, dan rantai pasok dapat memberi ruang bagi Indonesia memperluas kepentingan ekonominya.
Tetapi keanggotaan tidak otomatis menjadi pengaruh.
Indonesia sudah memiliki suara. Bahkan satu bagian penting dari warisan diplomatiknya berhasil masuk ke dokumen bersama.
Yang belum otomatis mengikuti adalah bobot suara tersebut.
Di forum sebesar BRICS, Indonesia harus membawa sesuatu yang membuat negara lain membutuhkan kehadirannya: pasar yang penting, kapasitas industri yang kuat, sumber daya strategis, teknologi, rantai pasok yang tak mudah digantikan, atau posisi diplomatik yang mampu membantu kelompok menemukan titik temu.
Strategi Indonesia untuk menjalin hubungan dengan sebanyak mungkin pusat kekuatan juga pada dasarnya masuk akal. Jakarta tidak harus memilih antara BRICS dan negara-negara Barat. Tetapi semakin banyak meja yang ingin diduduki, semakin besar pula tuntutan agar Indonesia datang bukan sekadar sebagai peserta.
Kursi memang penting. Yang lebih penting adalah apa yang diletakkan di atas meja.
Ujian yang Sebenarnya
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan BRICS pun akan ditentukan oleh hal yang sama. Bukan oleh seberapa panjang deklarasi yang dapat mereka hasilkan, atau seberapa sering mereka berbicara tentang dunia multipolar.
Ukuran sebenarnya adalah apakah perusahaan benar-benar memakai sistem pembayaran yang mereka bangun. Apakah perdagangan antaranggota meningkat.
Apakah proyek benar-benar dibiayai. Apakah teknologi benar-benar dibagi. Apakah negara-negara berkembang benar-benar memiliki ruang lebih besar untuk menentukan aturan yang memengaruhi mereka.
Perubahan besar tidak selalu datang dengan satu keputusan yang menggemparkan.
Ia bisa datang lewat ribuan transaksi yang perlahan berpindah jalur. Lewat satu proyek yang memperoleh pembiayaan baru. Lewat perdagangan yang menjadi lebih mudah. Lewat teknologi yang dibangun bersama. Lewat pilihan yang sebelumnya tidak tersedia.
BRICS mungkin tidak sedang membangun dunia baru.
Mungkin mereka sedang memastikan bahwa dunia lama bukan lagi satu-satunya pilihan.