El Nino Kuat, BMKG Prediksi Kemarau di NTT Hingga Awal 2027

Rumput mengering di Kawasan Kelurahan Fatukoa, Kota Kupang, NTT akibat El Nino. BMKG memprediksi fenomena tersebut masih bertahan hingga awal 2027. (MI/Palce Amalo)

El Nino Kuat, BMKG Prediksi Kemarau di NTT Hingga Awal 2027

Palce Amalo • 25 August 2026 20:09

Kupang: Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) diimbau mewaspadai musim kemarau yang berpotensi berlangsung lebih panjang. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I NTT, Rahmattuloh Adji, memperingatkan bahwa fenomena El Nino saat ini terpantau berada pada intensitas sangat kuat.

"Kondisi El Nino saat ini berada pada intensitas sangat kuat. Hal ini ditunjukkan oleh indeks ENSO di wilayah Nino3.4 yang mencapai +2,99," kata Adji di Kupang, Selasa, 25 Agustus 2026.


Rumput mengering di Kawasan Kelurahan Fatukoa, Kota Kupang, NTT akibat El Nino. BMKG memprediksi fenomena tersebut masih bertahan hingga awal 2027. (MI/Palce Amalo)

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Dasarian II Agustus 2026, kondisi anomali iklim tersebut diprediksi akan bertahan cukup lama sehingga menekan curah hujan secara drastis di wilayah NTT.

"BMKG memprediksi kondisi El Nino ini masih akan bertahan hingga awal tahun 2027," ujarnya.

Faktor Pemicu Cuaca Super Kering

Selain gempuran El Nino, sejumlah fenomena dinamika atmosfer lain turut memperparah potensi kekeringan di NTT, di antaranya:
  • Indian Ocean Dipole (IOD): Saat ini IOD berada pada fase netral dengan indeks +0,394. Namun, BMKG memprediksi IOD berpeluang memasuki fase positif hingga setidaknya Oktober 2026, yang dampaknya akan menghambat pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia.

  • Angin Timuran & Monsun: Angin timuran diprediksi mendominasi hingga akhir Agustus. Pada saat yang sama, Monsun Australia yang bersifat kering masih aktif, sementara Monsun Asia pembawa uap air belum terbentuk.

Perpaduan kondisi atmosfer tersebut memicu cuaca yang jauh lebih kering, terlebih NTT saat ini tengah memasuki puncak musim kemarau 2026. Menghadapi situasi rawan ini, Adji meminta warga untuk melakukan langkah antisipatif yang serius.

"Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat dan menggunakan air secara bijak, mewaspadai potensi kekeringan, serta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Kondisi angin yang kering juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan," tegasnya.

Meski demikian, Adji menekankan bahwa status El Nino sangat kuat ini tidak lantas membuat seluruh wilayah NTT mengalami kondisi tanpa hujan (hujan nol). Peluang turunnya hujan berskala lokal masih tetap ada akibat pengaruh dinamika atmosfer berskala regional lainnya.

(Lukman Diah Sari)