PM Denmark Mette Frederiksen. (Anadolu Agency)
Denmark Sebut Isu Greenland di Titik Penentuan usai Ancaman Baru Trump
Muhammad Reyhansyah • 12 January 2026 10:07
Kopenhagen: Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Minggu, 11 Januari 2026, mengatakan bahwa negaranya sedang berada di “momen penentuan” dalam pertarungan diplomatik terkait Greenland, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyiratkan kemungkinan penggunaan kekuatan untuk merebut wilayah Arktik tersebut.
Menjelang serangkaian pertemuan di Washington, Frederiksen mengatakan persaingan global atas bahan baku strategis membuat posisi Greenland semakin krusial. “Ada konflik mengenai Greenland,” kata Frederiksen dalam debat dengan para pemimpin politik Denmark lainnya.
“Ini adalah momen penentuan,” tambahnya, seraya menegaskan bahwa taruhannya melampaui sekadar masa depan Greenland.
Dalam unggahan di Facebook, Frederiksen menyatakan Denmark siap mempertahankan nilai-nilai dasarnya, termasuk di kawasan Arktik. “Kami percaya pada hukum internasional dan hak penentuan nasib sendiri,” tulisnya, dikutip dari Channel News Asia, Senin, 12 Januari 2026.
Jerman dan Swedia secara terbuka menyatakan dukungan kepada Denmark setelah pernyataan terbaru Trump mengenai wilayah otonom Denmark tersebut.
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengecam apa yang ia sebut sebagai “retorika mengancam” dari AS, setelah Trump kembali menyatakan Washington “akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak suka”.
“Swedia, negara-negara Nordik, negara Baltik, dan sejumlah negara besar Eropa berdiri bersama sahabat kami di Denmark,” kata Kristersson dalam konferensi pertahanan di Salen, yang juga dihadiri jenderal Amerika Serikat penanggung jawab NATO.
Kristersson menegaskan pengambilalihan Greenland oleh AS akan menjadi “pelanggaran hukum internasional” dan berisiko mendorong negara lain bertindak dengan cara serupa.
Tidak Ada Ancaman Langsung
Jerman kembali menegaskan dukungannya terhadap Denmark dan Greenland menjelang pembicaraan di Washington. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin, setelah sebelumnya menggelar pembicaraan di Islandia mengenai “tantangan strategis di kawasan Far North."“Kepentingan sah seluruh sekutu NATO, serta masyarakat yang tinggal di kawasan Arktik, harus menjadi pusat diskusi,” kata Wadephul dalam pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa keputusan terkait wilayah dan kedaulatan Greenland sepenuhnya berada di tangan Greenland dan Denmark.
Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil juga menekankan bahwa penguatan keamanan Arktik dilakukan “bersama sebagai sekutu NATO, bukan saling berhadapan”.
Negara-negara Eropa bergerak cepat mengoordinasikan respons setelah Gedung Putih pekan ini menyatakan Trump ingin membeli Greenland dan menolak mengesampingkan opsi militer.
Pada Selasa, para pemimpin tujuh negara Eropa, termasuk Prancis, Inggris, Jerman, dan Italia, menandatangani surat yang menegaskan bahwa hanya Denmark dan Greenland yang berhak menentukan masa depan wilayah tersebut.
Trump beralasan penguasaan Greenland penting bagi keamanan nasional AS, dengan merujuk pada meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di kawasan Arktik.
Komandan Tertinggi NATO Jenderal Alexus Grynkewich mengatakan negara-negara anggota aliansi tengah membahas status Greenland. Ia menambahkan bahwa meski tidak ada “ancaman langsung” terhadap wilayah NATO saat ini, kepentingan strategis Arktik berkembang dengan cepat.
Grynkewich menolak mengomentari dimensi politik dari retorika terbaru, namun menyebut pembahasan mengenai Greenland terus berlangsung di Dewan Atlantik Utara di Brussel dan berjalan secara konstruktif.
Greenland, yang merupakan koloni Denmark hingga 1953, memperoleh otonomi internal 26 tahun kemudian dan kini mempertimbangkan kemungkinan melonggarkan hubungan dengan Kopenhagen. Jajak pendapat menunjukkan mayoritas penduduk Greenland menolak pengambilalihan oleh Amerika Serikat.
Meski demikian, Grynkewich memperingatkan bahwa Rusia dan China semakin aktif di kawasan tersebut, dengan kapal-kapal kedua negara terpantau berpatroli bersama di pesisir utara Rusia serta dekat Alaska dan Kanada, seiring mencairnya es akibat pemanasan global.
Baca juga: Menhan Belgia Dorong Peningkatan Kehadiran Pasukan NATO di Greenland