Turki: AS dan Iran Sudah Sepakat Secara Prinsip, Detail Teknis Masih Dibahas

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Foto: Anadolu

Turki: AS dan Iran Sudah Sepakat Secara Prinsip, Detail Teknis Masih Dibahas

Muhammad Reyhansyah • 18 June 2026 15:10

Ankara: Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepahaman prinsip terkait sejumlah isu utama dalam perundingan mereka, namun sejumlah persoalan teknis masih belum terselesaikan.

Berbicara kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Rusia, Fidan menjelaskan bahwa tim teknis kedua negara masih harus menyepakati mekanisme pengelolaan sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya oleh Iran.

Menurutnya, terdapat kesepahaman prinsip mengenai pengenceran uranium tersebut, tetapi rincian pelaksanaannya masih menjadi bahan pembahasan.

“Ada pemahaman prinsip terkait pengenceran 400 kilogram uranium yang diperkaya di Iran. Namun siapa yang akan melakukan pengenceran, siapa yang akan mengawasi, dan bagaimana proses verifikasinya masih perlu didiskusikan,” kata Fidan, dikutip dari Anadolu, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa kondisi perang, rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua pihak, serta perkembangan kawasan, termasuk pendudukan Israel di Lebanon, turut memperlambat proses negosiasi antara Washington dan Teheran.

“Pihak Amerika bisa memberikan respons dalam waktu satu jam, sementara pihak Iran terkadang membutuhkan waktu hingga satu minggu,” ujar Menlu Fidan.

Fidan mengatakan, dirinya telah mendorong kedua pihak untuk terlibat dalam dialog langsung.

Ia juga melontarkan kritik terhadap kebijakan Israel di kawasan dan menyebutnya sebagai persoalan yang berdampak pada tingkat global.

“Israel menginginkan kehancuran di kawasan. Israel ingin menduduki sejumlah negara dan memanfaatkan terorisme. Hal ini memiliki konsekuensi terhadap keamanan global maupun perekonomian,” katanya.

Menurut Fidan, perhatian dunia sempat bergeser dari Gaza akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Meski demikian, ia berharap negara-negara di kawasan dapat kembali memusatkan perhatian pada Gaza setelah ketegangan mereda.

Ia menambahkan bahwa upaya mencapai kerangka kesepakatan untuk fase kedua negosiasi gencatan senjata Gaza masih terus berlangsung dengan keterlibatan National Intelligence Organization (MIT).

Soroti KTT NATO di Ankara

Mengenai NATO, Fidan mengatakan sejumlah keputusan penting yang akan dibahas dalam KTT NATO di Ankara pada 7-8 Juli mendatang tidak dapat diambil tanpa kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurutnya, banyak negara Eropa meyakini bahwa status Turki sebagai tuan rumah menjadi faktor utama yang mendorong Trump menghadiri pertemuan tersebut.

“Banyak negara Eropa mengatakan bahwa fakta bahwa pertemuan ini diselenggarakan oleh presiden kami di Turki merupakan faktor terpenting yang memungkinkan Presiden Trump hadir,” ujar Fidan.

Ia menambahkan bahwa perbedaan pendekatan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terhadap NATO diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan tersebut.

“Banyak isu penting yang tidak mungkin diputuskan dalam pertemuan tanpa kehadiran Presiden Amerika Serikat,” katanya.

Fidan juga menyatakan bahwa pembicaraannya dengan pejabat Rusia menunjukkan tidak adanya persoalan besar yang menghambat hubungan bilateral maupun kerja sama regional antara Ankara dan Moskow.

Menurutnya, kedua negara tetap mampu menjaga kerja sama meskipun terkadang memiliki perbedaan pandangan yang signifikan.

“Kami telah membangun hubungan yang sangat khusus dengan Rusia. Bahkan ketika memiliki perbedaan yang sangat serius, kami tetap mengetahui cara untuk bekerja sama dan membangun kepercayaan,” pungkas Fidan.

(Fajar Nugraha)