Nilai Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Kuat

Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id.

Nilai Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Kuat

Fachri Audhia Hafiez • 19 June 2026 16:58

Jakarta: Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market dalam hasil tinjauan Global Market Accessibility Review 2026. Terhadap hasil itu, sejumlah indikator ekonomi dan pasar keuangan dinilai masih menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih berada di jalur menjanjikan.

"Peluang Indonesia untuk tetap bertahan dalam kategori emerging market MSCI masih lebih besar," kata pengamat pasar modal Elandry Pratama di Jakarta, dikutip melalui keterangan tertulis, Jumat, 19 Juni 2026.
 


Elandry menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sejumlah keunggulan fundamental. Faktor-faktor tersebut mulai dari likuiditas pasar yang besar, kapitalisasi pasar yang memadai, hingga posisi strategis Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

"Meskipun masih ada beberapa catatan terkait market accessibility, secara umum Indonesia masih memiliki likuiditas pasar yang besar, kapitalisasi pasar yang memadai, serta peran yang cukup penting di kawasan Asia Tenggara," ujar Elandry.

Menurut Elandry, kepastian status Indonesia dalam klasifikasi MSCI tersebut nantinya berpotensi menjadi katalis positif bagi masuknya kembali dana asing ke pasar domestik.

"Untuk arus dana asing, skenario utama saya adalah tidak terjadi outflow signifikan apabila status emerging market tetap dipertahankan," kata Elandry.

Ia meyakini kepastian tersebut akan efektif mengurangi ketidakpastian yang selama ini menjadi perhatian utama para investor global.

"Kepastian status tersebut dapat mengurangi ketidakpastian dan mendukung masuknya kembali capital flow asing ke pasar domestik," tutur Elandry.


Ilustrasi. Foto: Dok. Media Indonesia.

Investor Percaya Pasar Domestik

Sebelumnya, optimisme serupa juga disampaikan oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria. Menurutnya, pergerakan positif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini menjadi sinyal kuat bahwa pelaku pasar masih menaruh kepercayaan tinggi pada prospek ekonomi nasional.

"Kami tentu berterima kasih kepada seluruh investor yang menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi kita maupun fundamental perusahaan-perusahaan Indonesia," ujar Dony di Monas, Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.

Dony menegaskan, meski pergerakan pasar dalam jangka pendek kerap fluktuatif akibat pengaruh berbagai sentimen, pada akhirnya investor akan tetap bersandar pada kekuatan fundamental ekonomi dan kinerja emiten.

"Tentu ada isu dan sentimen yang cukup memengaruhi, tetapi pada akhirnya seluruh investor akan melihat fundamental daripada perusahaan maupun negara," katan Dony.

Di sektor riil, apresiasi nilai tukar rupiah terpantau mulai memberikan dampak positif yang nyata terhadap dunia usaha. Ekonom Universitas Indonesia dan University of Amsterdam, Josua Pardede, menilai penguatan rupiah memberikan ruang optimisme baru bagi industri otomotif nasional.

"Penguatan rupiah memberi ruang optimisme bagi industri otomotif, tetapi optimisme itu perlu sangat terukur, tidak serta-merta diterjemahkan sebagai pemulihan permintaan yang kuat," jelas Josua dilansir Antara, Rabu, 17 Juni 2026.

Josua menguraikan bahwa mata uang rupiah yang lebih kuat dapat menekan biaya impor berbagai komponen industri. Alhasil, produsen memiliki ruang lebih besar untuk menjaga harga produk tetap kompetitif di pasar.

"Ini penting karena pasar otomotif sedang sensitif terhadap harga dan cicilan," ungkap Josua.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa penguatan rupiah saat ini lebih realistis dimanfaatkan pelaku industri untuk menahan laju kenaikan harga kendaraan di pasar domestik, alih-alih untuk menurunkan harga secara drastis.

"Rupiah yang menguat lebih realistis dipakai untuk menahan kenaikan harga, bukan langsung menurunkan harga besar-besaran," kata Josua.

(Fachri Audhia Hafiez)