Omega Block Sebabkan Gelombang Panas Ekstrem di Prancis, Apa Itu?

Ilustrasi suhu panas di Prancis. (paris.fr)

Omega Block Sebabkan Gelombang Panas Ekstrem di Prancis, Apa Itu?

Riza Aslam Khaeron • 25 June 2026 16:56

Jakarta: Benua Eropa belakangan ini dilanda gelombang panas ekstrem yang berdampak fatal hingga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di sejumlah negara besar di Benua Biru tersebut.

Prancis menjadi salah satu negara terdampak paling parah dengan suhu udara melonjak drastis hingga melampaui 40 derajat celsius.

Kondisi ekstrem ini mendorong banyak orang untuk berenang di area liar yang tidak diawasi dalam beberapa hari terakhir demi menyegarkan diri, yang menyebabkan sebanyak 40 orang di seluruh penjuru negeri dilaporkan tewas karena tenggelam.

Angka terbaru yang kami terima menunjukkan ada 40 kematian sejak 18 Juni. Sebagian besar korban merupakan anak-anak muda, ujar Perdana Menteri Sébastien Lecornu pada hari Selasa, 23 Juni 2026.

Suhu ekstrem yang persisten ini dilaporkan dipicu oleh pola cuaca unik yang dikenal sebagai Omega Block, sebuah pola atmosfer statis yang mengunci udara panas di suatu wilayah dalam waktu yang lama. Lantas, apa sebenarnya fenomena tersebut? Berikut penjelasannya.
 

Apa Itu Omega Block?

class=big_center
Fenomena Omega Block, dimana jet stream melengkung membentuk huruf Yunani Omega. (Met Office via Sky News)

Mengutip The Telegraph, pola atmosfer bernama omega block, yang dinamai karena bentuknya menyerupai huruf Yunani Omega,

Pola ini terjadi ketika aliran jet stream yang biasanya bergerak dari barat ke timur menjadi sangat berkelok dan membentuk punggungan tekanan tinggi. Area tekanan tinggi tersebut kemudian terjepit di antara dua sistem tekanan rendah di sisi barat dan timurnya, sehingga menciptakan pola seperti tapal kuda pada aliran udara di atmosfer yang pada akhirnya menciptakan kubah panas (heat dome) di area tertentu.

Dalam kondisi normal di Eropa, jet stream bergerak secara dinamis dari barat ke timur melintasi Eropa. Namun, dalam fenomena Omega Block, arus tersebut terganggu.

Akibatnya, udara dingin dari Samudra Atlantik yang dibawa dari barat terhalang masuk, langit di wilayah kubah tetap bersih tanpa awan, sinar matahari terus menyengat hari demi hari, dan udara panas ditarik kuat ke arah utara dari Afrika Utara dan Gurun Sahara.

Fenomena ini menghasilkan kubah panas yang berfungsi seperti tutup wadah bertekanan tinggi yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi. Saat udara turun di bawah tekanan kubah tersebut, udara mengalami kompresi (pemampatan) dan menyebabkan suhu di permukaan semakin lebih panas.

Meskipun fenomena ini juga melanda sebagian besar wilayah Eropa, para prakirawan cuaca menyebutkan bahwa pusat kubah panas ini berada tepat di atas Prancis. Hal inilah yang menjelaskan mengapa negara tersebut mengalami dampak yang jauh lebih parah dibandingkan negara-negara tetangganya.
 
Baca Juga:
Info Cuaca BMKG 26 Juni 2026: Waspada Potensi Hujan Signifikan
 

Apa Penyebab Fenomena Ini Terjadi?

Biasanya, ketika terjadi fenomena alam ekstrem yang tidak biasa, kebanyakan orang langsung berasumsi bahwa penyebab tunggalnya adalah perubahan iklim.

Meski demikian, kubah panas seperti yang disebabkan oleh Omega Block pada dasarnya adalah kejadian alamiah yang memang dapat terbentuk dari waktu ke waktu. Sebagian besar akademisi dan ahli meteorologi belum sepenuhnya sepakat bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama atau pencipta langsung dari fenomena penyumbatan atmosfer ini.

Pada akarnya, fenomena ini tidak disebabkan oleh perubahan iklim, ujar Koh Tieh Yong, seorang adjunct associate professor di National University of Singapore (NUS), mengutip dari CNA.

Namun, pemanasan global berkontribusi besar dalam memperparah frekuensi dan kekuatannya.

Pemanasan global menyebabkan kawasan Arktik (kutub utara) memanas jauh lebih cepat daripada wilayah bumi lainnya. Hal ini membuat arus jet di belahan bumi utara diprediksi akan melemah, sehingga pola penyumbatan seperti kubah panas menjadi jauh lebih mudah terbentuk.

Sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Sjoukje Y. Philip dkk. dan dipublikasikan oleh European Geosciences Union pada tahun 2022 juga menunjukkan bahwa peristiwa gelombang panas ekstrem akan minimal 150 kali lebih jarang terjadi tanpa adanya pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Mengutip CNA, tanpa adanya pemanasan global, suhu udara selama terjadinya gelombang panas ini diperkirakan akan berada 2-4 celsius derajat lebih rendah daripada yang tercatat saat ini.

(Arga Sumantri)