Foto Harvest Moon di Minnesota, Amerika Serikat. (Tom Fisk/Pexels)
9 Fenomena Langit September 2026, Harvest Moon hingga Hari Tanpa Bayangan
Riza Aslam Khaeron • 2 September 2026 17:01
Jakarta: Sepanjang September 2026, langit malam akan dihiasi oleh serangkaian fenomena astronomi yang menarik. Mulai dari pertemuan bulan dengan beberapa planet utama, kemunculan bulan purnama yang dikenal sebagai Harvest Moon, hingga 'hari tanpa bayangan' di Indonesia.
Sebagian besar fenomena ini dapat diamati langsung dengan mata telanjang dari wilayah Indonesia jika kondisi cuaca mendukung dan langit dalam keadaan cerah.
Data dari Time and Date mencatat bahwa bulan akan tampak melintas berdekatan dengan Mars, Jupiter, Venus, dan Saturnus secara bergantian. Selain itu, fenomena Ekuinoks September diprakirakan berlangsung pada 23 September, sebelum akhirnya ditutup oleh kemunculan Bulan purnama di penghujung bulan.
Berikut adalah perincian fenomena langit September 2026 yang dapat dinantikan:
1. Konjungsi Bulan dan Mars (6 September)
Rangkaian fenomena astronomi bulan ini diawali pada 6 September 2026, ketika Bulan sabit tua berada dekat dengan Planet Mars.Kedua objek tersebut akan tampak berdampingan di rasi bintang Gemini. Waktu pengamatan terbaik adalah pada waktu dini hari sebelum Matahari terbit, dengan memanfaatkan paparan bulan sabit sebagai pemandu untuk menemukan posisi Mars di sekitarnya.
2. Bulan Berdekatan dengan Jupiter (8 September)
Dua hari berselang, tepatnya pada 8 September 2026, Bulan kembali bergerak mendekati planet lain, yaitu Jupiter.Dari sejumlah lokasi di Bumi, seperti wilayah Rusia bagian timur, Bulan akan melintas persis di depan Jupiter sehingga memicu terjadinya okultasi Jupiter. Sementara itu, bagi wilayah yang berada di luar jalur okultasi, termasuk Indonesia, Bulan dan Jupiter hanya akan terlihat saling berdampingan secara presisi di langit timur menjelang fajar.
Mengingat Jupiter merupakan salah satu objek paling terang di langit malam, fenomena konjungsi ini dapat disaksikan tanpa bantuan teleskop selama cuaca cerah.
3. Fase Bulan Baru (11 September)
Fase Bulan baru (new moon) terjadi pada 11 September 2026. Pada fase ini, posisi Bulan berada sejajar di antara Bumi dan Matahari, sehingga permukaan Bulan yang menghadap Bumi tidak mendapatkan pantulan sinar Matahari.Time and Date mencatat puncak fase Bulan baru berlangsung sekitar pukul 10.27 WIB (atau 11.27 WITA). Pada malam harinya, Bulan praktis tidak akan terlihat di langit.
Meskipun Bulan baru tidak menampilkan objek visual, periode ini menjadi momen ideal bagi para astronom dan pengamat langit untuk mengamati bintang, galaksi, serta objek redup lainnya tanpa gangguan polusi cahaya Bulan.
4. Okultasi Venus oleh Bulan (14 September)
Salah satu fenomena astronomi penting pada bulan ini terjadi pada 14 September 2026, yaitu ketika Bulan melintas tepat di depan Planet Venus.Peristiwa yang dikenal sebagai okultasi Venus ini menyebabkan piringan Venus tertutup sementara oleh piringan Bulan dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Jalur okultasi kali ini melintasi sebagian wilayah Eropa, Afrika, Timur Tengah, hingga sebagian Asia Tenggara dan Indonesia. Peristiwa ini berlangsung pada siang hingga sore hari, yang membuat proses pengamatan menjadi lebih menantang dibandingkan okultasi malam hari.
Secara teknis, sifat Venus yang sangat terang memungkinkannya terlihat pada siang hari melalui binokular atau teleskop. Namun, pengamatan menggunakan alat optik pada siang hari harus dilakukan secara hati-hati dan tidak mengarahkannya langsung ke Matahari tanpa filter penyaring yang aman.
5. Ekuinoks September (23 September)
Fenomena berikutnya adalah Ekuinoks September yang terjadi pada 23 September 2026 sekitar pukul 07.05 WIB. Peristiwa ini menandai saat ketika titik pusat Matahari melintasi garis khatulistiwa dari belahan utara menuju selatan.Secara astronomis, ekuinoks menjadi tanda dimulainya musim gugur di Belahan Bumi Utara dan musim semi di Belahan Bumi Selatan.
Meskipun istilah equinox merujuk pada 'durasi malam yang sama', durasi siang dan malam di setiap lokasi tidak persis 12 jam akibat pengaruh refraksi atmosfer serta pembiasan cahaya terbit dan terbenamnya Matahari.
6. Hari Tanpa Bayangan di Indonesia (23 September)
Pada tanggal yang sama, wilayah Indonesia mengalami fenomena geografis khusus. Kota Pontianak mengalami kulminasi utama atau Hari Tanpa Bayangan pada 23 September 2026 sekitar pukul 11.35 WIB.Menurut penjelasan BMKG, kulminasi utama terjadi ketika nilai deklinasi Matahari sama dengan titik lintang pengamat. Saat Matahari berada tepat di titik zenit (di atas kepala), bayangan objek yang berdiri tegak akan bertumpuk tepat di bawah benda tersebut sehingga seolah-olah "menghilang".
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Pontianak. Karena posisi geografis Indonesia yang melintang di garis khatulistiwa, peristiwa Hari Tanpa Bayangan akan berlangsung secara berurutan di berbagai kota saat posisi semu Matahari bergerak ke arah selatan.
7. Oposisi Neptunus (26 September)
Pada 26 September 2026, Planet Neptunus berada pada posisi oposisi. Kondisi ini terjadi ketika posisi Bumi sejajar berada di antara Matahari dan Neptunus, sehingga posisi planet tersebut berseberangan langsung dengan Matahari.Saat berada pada fase oposisi, Neptunus terbit sesaat setelah Matahari terbenam dan berada di langit sepanjang malam. Momen ini merupakan waktu terbaik dalam setahun untuk melakukan pengamatan terhadap planet terluar Tata Surya ini.
Berbeda dengan Jupiter atau Saturnus, Neptunus tidak dapat diamati langsung dengan mata telanjang karena tingkat kecerlangannya hanya sekitar magnitudo 7,7. Pengamat memerlukan alat bantu berupa binokular berdaya tinggi atau teleskop untuk dapat melihatnya sebagai titik cahaya kebiruan.
8. Harvest Moon (26 September)
Pada malam yang sama dengan oposisi Neptunus, masyarakat dapat menyaksikan puncak Bulan purnama September.Puncak fase purnama ini terjadi pada 26 September 2026 pukul 23.49 WIB (atau tanggal 27 September pukul 00.49 WITA dan 01.49 WIT di wilayah Indonesia tengah dan timur).
Bulan purnama September dikenal dengan julukan tradisional Harvest Moon, sebutan dari Belahan Bumi Utara untuk Bulan purnama yang waktunya paling dekat dengan Ekuinoks September.
Istilah Harvest Moon tidak berkaitan dengan perubahan warna atau ukuran fisik Bulan, melainkan merujuk pada tradisi pertanian di mana pantulan cahaya Bulan yang terang membantu para petani melanjutkan aktivitas panen hingga malam hari.
9. Konjungsi Bulan dan Saturnus (27 September)
Rangkaian fenomena langit bulan ini ditutup oleh konjungsi Bulan dan Saturnus pada 27 September 2026.Kedua objek langit tersebut dapat diamati berdekatan sejak awal malam. Karena Bulan masih berada dalam kondisi yang sangat terang dan Saturnus memiliki tingkat kecerlangan yang cukup baik, fenomena ini relatif mudah ditemukan di langit tanpa alat bantu.
Saturnus akan tampak seperti titik cahaya terang menyerupai bintang di dekat Bulan. Namun, untuk dapat mengamati fitur khasnya berupa sistem cincin, pengamat tetap memerlukan bantuan teleskop.
Keberhasilan pengamatan seluruh fenomena astronomi di atas sangat bergantung pada faktor cuaca lokal serta kerapatan awan di masing-masing lokasi. BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kondisi relatif kering sepanjang September 2026, yang berpotensi mendukung aktivitas pengamatan langit.