IHSG Menguat 0,24 Persen ke Level 5.403 pada Jumat Pagi

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

IHSG Menguat 0,24 Persen ke Level 5.403 pada Jumat Pagi

Ade Hapsari Lestarini • 23 October 2026 09:15

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini terpantau menguat tipis. IHSG masih bertahan di level 5.400.

Mengacu data RTI, Jumat, 23 Oktober 2026, IHSG naik 12,612 poin atau setara 0,24 persen ke posisi 5.403 pada pukul 09.06 WIB. Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat berada di posisi 5.397.

Sementara itu, IHSG sempat berada di level terendah yaitu 5.366. Sedangkan untuk level tertinggi adalah 5.410. Total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 3,345 miliar lembar senilai Rp1,146 triliun.

Pagi ini, tercatat 322 saham bergerak menguat. Sementara sebanyak 181 saham melemah dan 213 saham lainnya stagnan. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp9.540 triliun dengan frekuensi sebanyak 162.355 kali.


Ilustrasi perdagangan saham di BEI. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan.
 

 

Penguatan IHSG


Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya sebelumnya mengatakan penguatan IHSG ditopang oleh keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen selama empat bulan berturut-turut.

"BI sekaligus menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin guna mendukung stabilitas rupiah," ujar Nico, dilansir Antara, Jumat, 23 Oktober 2026.

Nico mengatakan BI juga secara bertahap menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) mulai 1 November 2026, yang ditujukan untuk menambah likuiditas sekitar Rp190 triliun ke dalam sistem perbankan.

Namun demikian, Nico mengatakan penguatan IHSG dibatasi oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengkritik usulan MSCI untuk mengeluarkan Indonesia dari kategori pasar negara berkembang (Emerging Market) dan mengklasifikasikannya sebagai pasar mandiri (Standalone Market). Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan gentar menghadapi rencana tersebut.

Sementara dari mancanegara, sentimen pasar tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah setelah serangan mematikan terhadap ladang minyak di Arab Saudi, yang meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta memperburuk kekhawatiran inflasi.

Sementara itu, bursa kawasan Asia didominasi oleh pelemahan di tengah kembali meningkatnya tekanan jual pada saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), yang dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terhadap keberlanjutan besarnya investasi di sektor AI.

(Ade Hapsari Lestarini)