Operasi Water Bombing Karhutla Kalteng Terus Dimaksimalkan

Water bombing untuk penanganan karhutla. Foto: ANTARA/Nova Wahyudi.

Operasi Water Bombing Karhutla Kalteng Terus Dimaksimalkan

Fachri Audhia Hafiez • 18 October 2026 17:47

Jakarta: Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui water bombing di Kalimantan Tengah terus dimaksimalkan. Penanganan ini juga khusus menyasar kawasan Tanjung Puting.

“Alhamdulillah mulai kemarin sudah berusaha untuk diterbangkan dan hari ini berhasil untuk melakukan water bombing 16 kali water bombing. Kita tambah lagi nanti ada dua heli dari TNI dan satu dari kehutanan. Jadi kita akan lakukan water bombing secara maksimum,” kata Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dikutip melalui keterangan tertulis, Minggu, 18 Oktober 2026.
 


Raja Juli menjelaskan, pengerahan helikopter water bombing ini dilakukan setelah armada yang sebelumnya berada di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, digeser ke Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Langkah taktis tersebut diambil lantaran sejumlah bandara utama di Kalimantan Tengah terkendala jarak pandang (visibility) yang terbatas untuk penerbangan helikopter pemadam.

“Operasi udara kedua ya, water bombing yang sudah saya janjikan sebelumnya karena seluruh airport utama di Tjilik Riwut tidak bisa diterbangkan helikopter bombing karena visibility yang terbatas,” ujar Raja Juli.

Dalam pelaksanaannya, operasi udara ini sempat menghadapi kendala teknis berupa ketersediaan bahan bakar avtur di Kuala Pembuang. Namun, pihak kementerian langsung bergerak cepat berkoordinasi dengan badan usaha terkait untuk memastikan pasokan terpenuhi.

“Ada masalah dengan avtur ya karena tidak tersedia avtur di Kuala Pembuang. Alhamdulillah tadi saya telepon Dirut Pertamina, beliau juga secara cepat, secara menyediakan avtur untuk water bombing,” kata Raja Juli.


Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (kemeja putih). Foto: Dok. Kemenhut.

Selain pengerahan helikopter water bombing, strategi pemadaman dari udara juga diperkuat dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui penyemaian garam (NaCl) serta penggunaan Dry Ice.

“Jadi tiga ini udara kita kerjakan ya. Dan kita akan terus sekali lagi tidak akan lepas tangan, tidak akan cuci tangan tapi memaksimumkan potensi kita untuk menjaga masyarakat kita dari api,” tegas Raja Juli.

(Fachri Audhia Hafiez)