Antisipasi Bencana, Semua Pihak Diminta Tingkatkan Kepedulian pada Lingkungan

Ilustrasi pohon. Foto: Dok. Bappenas.

Antisipasi Bencana, Semua Pihak Diminta Tingkatkan Kepedulian pada Lingkungan

Achmad Zulfikar Fazli • 17 July 2026 19:25

Jakarta: Sejumlah wilayah di Indonesia rawan bencana alam, seperti banjir bandang, longsor, gempa bumi, hingga kekeringan panjang yang dapat berdampak pada masyarakat. Untuk mengantisipasi potensi bencana, semua pihak diminta meningkatkan kepedulian terhadap alam.

Alam sesungguhnya tidak pernah memusuhi manusia. Namun, ketika hutan terus ditebang, gunung dikeruk, sungai dipersempit, rawa ditimbun dan tanah ditutup beton tanpa kendali, keseimbangan alam akan terganggu, kata Ketua Aliasi Kebangsaan Pontjo Sutowo, dalam keterangan tertulis, Jumat, 17 Juli 2026.

Menurut dia, pemerintah dan masyarakat harus mulai membangun kesadaran baru untuk segera berdamai dengan alam. Langkah tersebut bukan hanya baik bagi lingkungan hidup, tapi juga untuk kelangsungan hidup manusia, ketahanan pangan, kesehatan, serta ekonomi.

Ancaman Semakin Kompleks

Menurut Pontjo, ancaman yang dihadapi Indonesia semakin kompleks. Indonesia berada di wilayah rawan gempa bumi, tsunami dan aktivitas gunung berapi. 
Di sejumlah kawasan terdapat zona megathrust yang menyimpan potensi gempa besar.

Pontjo mengatakan perubahan iklim memperbesar intensitas berbagai cuaca ekstrem. Kondisi yang terjadi di Eropa dan Amerika seharusnya menjadi peringatan bagi Indonesia. 

Pada Juni 2026, suhu di sejumlah wilayah Eropa mencapai 42,2 derajat Celsius. Rata-rata suhu daratan Eropa pada bulan itu menjadi salah satu yang tertinggi.

Pontjo menyebut pada Juli 2026, Italia menghadapi kemungkinan suhu mencapai 44 derajat Celsius. Gelombang panas dan kondisi kering memperbesar kebakaran hutan di Prancis, Spanyol, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat. 

Di Amerika, gelombang panas berbahaya diperkirakan menjangkau sebagian besar wilayah negara tersebut, dengan suhu di sejumlah tempat melampaui 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,8 derajat Celsius.

Fenomena ini menunjukkan bahwa amuk alam bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia sedang berlangsung di depan mata, tegas Pontjo. 

Pontjo mengatakan dalam menghadapi keadaan tersebut, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan rapat atau kegiatan seremoni. Indonesia membutuhkan gerakan nyata yang masif, sistematis, dan berkelanjutan. Salah satunya dengan menggencarkan gerakan nasional menanam dan merawat pohon.

class=big_center
Ilustrasi pohon. Freepik
 
Kata merawat, menurut Pontjo, harus selalu mengikuti kata menanam. Sebab, selama ini tidak sedikit kegiatan penanaman pohon berhenti setelah acara selesai. Setelah itu, pohonnya mati tidak dirawat. 

Pontjo berpendapat gerakan penghijauan harus diukur bukan dari berapa juta bibit yang dibagikan, melainkan berapa banyak pohon yang hidup setelah satu hingga 10 tahun. 

Yang tak kalah penting dari itu, berapa banyak rakyat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karena itu, gerakan ini harus menjadi budaya bangsa kita, ujar Pontjo

Pontjo menegaskan alam adalah rumah bersama, hutan merupakan penjaga air, dan pohon menjadi pelindung tanah.

Menanam pohon hari ini bukan sekadar menanam batang dan daun. Kita sedang menanam air, udara bersih, keselamatan, pekerjaan dan harapan bagi anak cucu Indonesia, ungkap Pontjo.

(Achmad Zulfikar Fazli)