Konsep Ekonomi Hijau Dinilai Sudah Jadi Kebutuhan Dunia Usaha

Ekonomi hijau. Foto: Dok Bappenas

Konsep Ekonomi Hijau Dinilai Sudah Jadi Kebutuhan Dunia Usaha

Arga Sumantri • 5 June 2026 16:11

Jakarta: Konsep ekonomi hijau saat ini dinilai tidak lagi sekadar menjadi tuntutan regulasi, tetapi berkembang menjadi kebutuhan dunia usaha dan masyarakat. Ekonomi hijau dibangun di atas tiga pilar utama, yakni lingkungan (planet), kesejahteraan (prosperity), dan masyarakat (people).

Hal ini disampaikan Presiden Direktur PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU), Arifin Lambaga. Peluang ini disebut ditangkap pengusaha Sandiaga Salahuddin Uno, yang berencana menanamkan investasinya di MUTU

Arifin mengungkapkan baik MUTU maupun Sandiaga Uno memiliki pandangan serupa mengenai pentingnya keberlanjutan sebagai fondasi pembangunan ekonomi masa depan.

"Kami punya satu platform pemikiran bahwa green menjadi salah satu tujuan dari semua kegiatan yang dilakukan," ujar Arifin dalam siaran tertulis, Jumat, 5 Juni 2026.

Arifin mengungkapkan kesamaan pandangan tersebut membuka peluang bagi kedua pihak untuk mengembangkan platform bisnis yang lebih luas, khususnya dalam sektor keberlanjutan.

"Kami ingin lebih dari sekadar perusahaan TIC. Kami ingin menjadi green partner seperti yang disampaikan Pak Sandi," kata Arifin.

Ia menjelaskan MUTU saat ini tengah menjalankan transformasi bisnis seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap berbagai layanan berbasis keberlanjutan. Di antaranya sertifikasi lingkungan, sertifikasi environmental, social, and governance (ESG), sertifikasi halal, hingga layanan yang mendukung transisi menuju ekonomi hijau.

Arifin menilai kehadiran investor yang memiliki komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan dapat mempercepat langkah transformasi tersebut. Ia berharap kerja sama dengan Sandiaga Uno nantinya tidak hanya memperkuat posisi bisnis perseroan, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi hijau hingga ke masyarakat.

"Kalau berjodoh, kami ingin bersama-sama membangun platform Green Indonesia yang menjadi salah satu potensi besar yang bisa dikembangkan," ujarnya.

Menurut dia, manfaat ekonomi hijau seharusnya tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan masyarakat umum. Pengalaman Sandiaga Uno dalam membangun program kewirausahaan, yakni OK OCE, dinilai dapat menjadi nilai tambah untuk memperluas akses masyarakat terhadap peluang ekonomi berkelanjutan.

"Kami ingin green itu juga bisa dinikmati oleh semua masyarakat. Kita ingin mengajak semua orang untuk ikut memanfaatkan potensi yang ada," katanya.

Pengusaha Sandiaga Uno. Foto: Istimewa.

Keberlanjutan faktor penting investasi

Sandiaga Uno menilai keberlanjutan atau sustainability kini tidak lagi semata-mata dipandang sebagai isu lingkungan, melainkan telah menjadi faktor penting dalam aktivitas ekonomi dan investasi.

Menurut dia, perusahaan yang mampu membantu pelaku usaha beradaptasi dengan tuntutan keberlanjutan akan memiliki peluang besar untuk berkembang di masa depan.

"Dulu sustainability sering dianggap sebagai biaya. Hari ini sustainability menjadi faktor yang menentukan akses pasar, akses pendanaan, dan daya saing perusahaan," ujar Sandiaga Uno.

Ia melihat MUTU berada pada posisi yang strategis karena tidak hanya menjalankan fungsi sertifikasi, tetapi juga berperan sebagai penggerak transformasi industri nasional menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan.

Melalui berbagai layanan sertifikasi seperti ISO 14001, International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), hingga Sustainable Biomass Program (SBP), MUTU dinilai berada di pusat berbagai tren global, mulai dari penerapan ESG, ekonomi karbon, rantai pasok berkelanjutan, hingga transisi energi.

Menurut Sandiaga, pergeseran paradigma investasi global turut memperkuat relevansi bisnis yang dijalankan MUTU. Ia mengatakan investor saat ini semakin memperhatikan aspek emisi karbon, transparansi rantai pasok, dan keberlanjutan operasional perusahaan sebelum menempatkan modalnya.

"Dalam konteks itu, verifikasi dan sertifikasi yang kredibel menjadi fondasi kepercayaan pasar. Di sinilah peran MUTU menjadi semakin penting," katanya.

Sandiaga Uno juga menilai Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau karena didukung sektor industri strategis seperti kelapa sawit, biofuel, biomassa, dan manufaktur.

Namun, menurut dia, seluruh sektor tersebut akan menghadapi tuntutan standar keberlanjutan yang semakin tinggi dari pasar global. MUTU dinilai memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian penting dalam proses transformasi tersebut.

Sandiaga berharap MUTU tidak hanya dikenal sebagai lembaga sertifikasi, tetapi berkembang menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan memahami, menerapkan, dan meningkatkan praktik keberlanjutan dalam operasional bisnis mereka.

"Green investment bukan hanya investasi pada perusahaan yang ramah lingkungan, tetapi juga investasi pada perusahaan yang membantu menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan," ujar Sandiaga.

Sandiaga menambahkan, dirinya melihat MUTU sebagai infrastruktur kepercayaan yang mendukung pembangunan ekonomi hijau Indonesia. Menurut dia, ketika dunia bergerak menuju ekonomi yang lebih hijau, transparan, dan bertanggung jawab, keberadaan lembaga yang mampu memastikan standar keberlanjutan akan menjadi semakin penting.

"Saya tidak melihat MUTU hanya sebagai perusahaan sertifikasi. Saya melihat MUTU sebagai infrastruktur kepercayaan bagi ekonomi hijau Indonesia," tutur Sandiaga Uno.

(Arga Sumantri)