Fondasi Ekonomi Bakal Topang IHSG, Purbaya tak Siapkan Intervensi Khusus

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Metrotvnews.com/Richard Alkhalik

Fondasi Ekonomi Bakal Topang IHSG, Purbaya tak Siapkan Intervensi Khusus

Eko Nordiansyah • 4 June 2026 14:33

Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tak menyiapkan intervensi khusus untuk menghadapi tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebab, menurut dia, fundamental ekonomi yang kuat bisa menjadi andalan untuk menopang pergerakan IHSG.

“Kalau dari saya sih nggak ada (intervensi). Yang penting adalah saya jelaskan bahwa fondasi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham,” kata Purbaya saat dikonfirmasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, dilansir dari Antara, Kamis, 4 Juni 2026.

IHSG terus mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis dengan penurunan lebih dari 4 persen.

Fundamental ekonomi diyakini solid

Pada kesempatan sebelumnya, Purbaya mengungkapkan optimisme bahwa IHSG mampu berbalik menguat didukung oleh solidnya fundamental perekonomian. Purbaya menyebut berbagai indikator perekonomian bisa mendorong IHSG kembali bergerak positif.

Salah satunya yaitu inflasi pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy) yang masih dalam rentang target Bank Indonesia 2,5 plus minus satu persen.


(Ilustrasi. MI/Susanto)

Selain itu, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp646,3 triliun per 30 April 2026, tumbuh sebesar 16,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Bendahara negara menilai gejolak IHSG saat ini bersifat kekhawatiran jangka pendek, yang dipengaruhi oleh isu-isu negatif di dalam negeri. Dia pun memastikan bakal menjaga kinerja perekonomian sekaligus sentimen pasar tetap stabil.

Krisis kepercayaan dari investor

Per Kamis, 4 Juni 2026 pukul 10.02 WIB, IHSG tercatat melemah 246,14 poin atau 4,14 persen ke level 5.694,91.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai koreksi tajam IHSG menunjukkan pasar sedang menghadapi krisis kepercayaan yang cukup serius. Menurut dia, pelemahan pasar saham tidak hanya dipengaruhi sentimen eksternal, namun juga diperparah oleh sejumlah faktor domestik.

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing yang menjadi faktor yang mendorong investor mengurangi investasinya pada aset berisiko di Indonesia.

"Kondisi itu terlihat kontras karena sebagian besar bursa saham Asia justru bergerak menguat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal,” jelasnya.

(Eko Nordiansyah)