Kondisi ruas jalan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang terendam banjir pada Selasa, 19 Mei 2026. ANTARA/Fathnur Rohman.
10 Desa di Cirebon Terendam Banjir Luapan Sungai
Silvana Febiari • 19 May 2026 16:59
Cirebon: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mencatat 10 desa terendam banjir akibat hujan deras. Kondisi tersebut terjadi setelah sejumlah sungai meluap pada Senin malam, 18 Mei 2026.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon Nuggy Pranugrah Affandi mengatakan peristiwa banjir tersebut berdampak pada 421 kepala keluarga (KK) atau 1.114 jiwa.
“Banjir mulai terjadi sekitar pukul 23.15 WIB ketika air masuk ke permukiman warga di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon,” katanya, dilansir dari Antara, Selasa, 19 Mei 2026.
Baca Juga :
Ia mengatakan, hujan berintensitas tinggi yang terjadi cukup lama di wilayah Kabupaten Cirebon dan Kuningan menyebabkan sejumlah sungai meluap. Beberapa sungai yang meluap di antaranya Sungai Cipager, Ciberes, Cisanggarung, Singaraja-Singaratu, Cisoka, Kalilunyu, dan Cikalong.
BPBD mencatat wilayah terdampak meliputi Desa Dawuan, Banjarwangunan, Jatipiring, Ciuyah, Sindangjawa, Kedungsana, Mertapada Kulon, Japura Kidul, Sigong, serta Japura Lor.
Menurut dia, tinggi muka air di lokasi terdampak berkisar antara 20 hingga 150 cm. Genangan tertinggi terjadi di Perumahan Lobunta, Desa Banjarwangunan, Cirebon.
.jpeg)
BPBD Kota Cirebon melakukan asesmen dan mengevakuasi warga terdampak banjir di Kota Cirebon, Jawa Barat pada Senin, 18 Mei 2026. Dokumentasi/ BPBD Kota Cirebon.
Pihaknya mendata pula sebanyak 342 rumah terendam, lima fasilitas umum terdampak, serta jalan sepanjang 200 meter di Desa Mertapada Kulon, Cirebon ikut terdampak banjir. BPBD bersama sejumlah unsur terkait langsung melakukan penanganan darurat, sesaat setelah menerima laporan banjir dari masyarakat.
“Petugas BPBD diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penyisiran wilayah terdampak dan evakuasi warga yang rumahnya terendam banjir,” ucapnya.
Selain itu, ia mengatakan BPBD melakukan asesmen cepat guna mendata jumlah korban terdampak, tingkat kerusakan, serta kebutuhan mendesak warga di lokasi banjir. “Koordinasi juga dilakukan dengan seluruh pihak di lapangan agar penanganan banjir berjalan terpadu dan efektif,” tuturnya.
Tak hanya itu, kata dia, BPBD menyebarkan informasi perkembangan kondisi banjir melalui media sosial, grup WhatsApp, dan saluran komunikasi lainnya agar masyarakat memperoleh informasi terkini.
Ia menuturkan hasil asesmen menunjukkan kebutuhan mendesak warga pasca-banjir meliputi makanan, selimut, dan karung untuk penanganan sementara di wilayah terdampak. “Kondisi banjir di seluruh wilayah terdampak saat ini telah surut dan para pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing,” ucap dia.