Wabah Ebola di Kongo Terus Menyebar, Pakar: Belum Ada Vaksin dan Obatnya

Ilustrasi Pexels

Wabah Ebola di Kongo Terus Menyebar, Pakar: Belum Ada Vaksin dan Obatnya

Muhamad Marup • 20 May 2026 16:31

Jakarta: Wabah Ebola kembali menyita perhatian publik usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atas penyebaran wabah ebola di Kongo. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, wabah tersebut disebabkan salah satu varian Ebola yaitu virus Bundibugyo.

"Wabah Ebola kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo dimana belum ada vaksin dan obatnya," ujar Tjandra, mengutip laman resmi Universitas YARSI, RAbu, 20 Mei 2026.

Ia menerangkan, kepastian tersebut didapat salah satunya dari 13 sampel darah dan hasilnya keluar pada 15 Mei 2026 yang menunjukkan bahwa 8 diantaranya tekonfirmasi Bundibugyo virus disease (BVD). Angka kematian atau fatality rates BVD berkisar antara 30% sampai 50%, berdasar pada wabah yang sebelumnya sudah pernah terjadi.

"Kita di Indonesia tentu perlu mengawasi perkembangan yang ada dan melakukan kesiapan yang diperlukan," tuturnya.

Perkembangan kasus

Tjandra menjelaskan, eskalasi wabah Ebola di Kongo terus mengalami perkembangan. Selain kasus terkonfirmasi yang sudah resmi dilaporkan maka kini ada lebih dari 500 kasus supek dan 130 kematian yang juga suspek Ebola.

"Dirjen WHO mengatakan kemarin bahwa angka ini akan meningkat di hari-hari mendatang," tuturnya.

Ia menuturkan, Ebola sudah dilaporkan di daerah perkotaan (urban), yaitu Kampala dan kota Goma. Sudah ada laporan kematian pada petugas kesehatan, yang tentunya mengindikasikan penularan di fasilitas kesehatan.

"Di area terjangkit cukup banyak terjadi pergerakan masyarakat. Perkembangan ini maka tentu kita harus lebih meningkatkan pengawasan dan mempersiapkan kegiatan antisipasi yang diperlukan," jelasnya.

Kemenkes tingkatkan kewaspadaan


Petugas menangani wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. (Anadolu Agency)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia. Meski begitu, pemerintah meningkatkan kewaspadaan merespons penetapan wabah Ebola di Kongo.

"Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak," ucap Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman, dilansir dari Antara, Selasa, 19 Mei 2026.
 
Aji menjelaskan, langkah konkret yang dilakukan meliputi penyiagaan petugas kesehatan di lapangan, penguatan skrining pelaku perjalanan. Selain itu juga penyiapan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola.

Seluruh laporan dari pintu masuk negara juga akan terintegrasi selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta pusat operasi darurat kesehatan (Public Health Emergency Operation Center/PHEOC).

"Kapasitas laboratorium nasional pun telah disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini," katanya.

Ia mengatakan, wabah yang terjadi di Provinsi Ituri, RD Kongo, disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo. Hingga 16 Mei 2026, tercatat 246 kasus suspek yang mencakup 8 kasus konfirmasi dan 80 korban meninggal dunia, dengan tingkat kematian mencapai 32,5 persen.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)