Sejumlah warga didampingi relawan dan tim gabungan dari unsur TNI/Polri serta berbagai instansi pemerintah bergerak mengikuti jalur evakuasi dalam simulasi bencana banjir yang digelar serentak sebagai bagian dari puncak peringatan HKB 2026 di Kecamatan Ba
BNPB Uji Fungsi Lima Sensor Peringatan Dini Banjir di Banda Aceh
Silvana Febiari • 27 April 2026 13:16
Banda Aceh: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memanfaatkan momentum puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 untuk menguji fungsi dan efektivitas lima sensor sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) banjir yang terpasang di sejumlah sungai di Kota Banda Aceh.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pengujian teknologi ini bertujuan untuk memastikan alat berfungsi optimal dan dapat memberikan tanda bahaya yang akurat kepada masyarakat.
"Uji coba ini dilakukan untuk menguji sejauh mana alat EWS ini berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat. Kita harus pastikan alat peringatan dini ini benar-benar terhubung dengan pusat kendali di BPBD," kata Suharyanto, dilansir dari Antara, Senin, 27 April 2026.
Suharyanto menjelaskan teknologi EWS pemberian BNPB tersebut bekerja dengan mendeteksi kenaikan debit air sungai secara real-time. Saat tinggi muka air mencapai level waspada, sensor akan mengirimkan data ke dasbor BPBD Kota Banda Aceh yang kemudian memicu aktivasi sirine evakuasi bagi warga.
Dalam simulasi yang digelar dari Pendopo Wali Kota Banda Aceh pada Minggu, 26 April 2026, sirine di Kantor Kecamatan Baiturrahman berhasil diaktifkan tepat pukul 10.00 WIB. Bunyi sirine tersebut menjadi tanda bagi warga untuk segera menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES).

Sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) banjir yang baru diresmikan di Kota Banda Aceh, Aceh. ANTARA/HO-BNPB
Selain di titik pemukiman, pengujian juga dilakukan di area publik, seperti kawasan car free day (CFD). Tujuannya untuk membiasakan warga merespons informasi bencana saat berada di luar rumah.
"Kesiapsiagaan bencana bukan hanya sekadar memiliki alat, namun memastikan alat itu berfungsi. Selain itu, masyarakat juga harus paham peran dan cara menyelamatkan diri saat mendengar sinyal dari alat tersebut," ungkap dia.
Sekretariat HKB 2026 mencatat bahwa simulasi pengujian alat peringatan dini ini diikuti oleh sedikitnya 291.000 peserta. Kegiatan tersebut tersebar di 34 provinsi dengan menyesuaikan jenis kerawanan bencana di masing-masing wilayah.
"Peningkatan kesadaran ini harus dipelihara, karena bencana bisa datang setiap saat. HKB bukan seremoni, tapi pengingat agar alat dan perilaku masyarakat selalu siap," ujar Suharyanto.
Suharyanto berharap risiko jatuhnya korban jiwa dapat diminimalisasi dengan adanya sistem peringatan dini. Sistem EWS di Banda Aceh diharapkan memberi waktu evakuasi yang lebih cepat bagi masyarakat di daerah aliran sungai.