Risnawati Utami Sosok Kartini Modern Pejuang Hak Disabilitas

Risnawati Utami. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Risnawati Utami Sosok Kartini Modern Pejuang Hak Disabilitas

Ahmad Mustaqim • 21 April 2026 15:52

Yogyakarta: Seorang perempuan berkacamata dengan kerudung dan kursi roda sebagai alat mobilitasnya. Sepak terjangnya dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas telah berlangsung bertahun-tahun.

Meskipun memiliki keterbatasan fisik, perjuangannya melampaui sebagian besar orang dengan karakteristik yang hampir sama.Dialah Risnawati Utami. Perempuan kelahiran 21 Maret 1973 ini menggunakan kursi roda akibat polio sejak usia empat tahun.

Keterbatasan tersebut tidak membuatnya patah semangat. Ia membuktikan diri dengan menyelesaikan pendidikan hukum di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah. Kiprah Risnawati sebagai aktivis dalam gerakan hak-hak disabilitas dimulai sejak 1999 hingga saat ini.

Ia kemudian mendirikan Perkumpulan Ohana pada Maret 2009. Perkumpulan yang fokus pada isu-isu penyandang disabilitas itu resmi menjadi organisasi nonpemerintah pada Juli 2012. Demi Perkumpulan Ohana, Risnawati pernah merelakan tempat tinggalnya dijadikan sekretariat.

"Kami selama 16 tahun kan kontrak rumah, bahkan saya selama 4 tahun itu merelakan rumah saya untuk dijadikan sekretariat sampai akhirnya punya dana untuk menyewa," ujar Risnawati ditemui baru-baru ini.

Seiring waktu, Perkumpulan Ohana menyewa sebuah bangunan untuk menjadi sekretariat pada 2017-2025. Biaya sewa bangunan terus meningkat setiap tahunnya. Dengan kemampuan manajemen yang dimiliki, Perkumpulan Ohana akhirnya memiliki sekretariat permanen per Maret 2026.

"Impian kami itu adalah memiliki sebuah rumah, di mana rumah itu adalah tempat untuk kami berjuang, tempat untuk kami belajar dan juga tempat untuk kami memberikan ilmu maupun pelatihan kepada seluruh kelompok masyarakat, pemerintah, kelompok swasta untuk memahami apa itu isu-isu disabilitas kaitannya dengan pembangunan, kaitannya dengan infrastruktur," ujarnya.

Risnawati Utami dapat disebut sebagai Kartini modern masa kini. Sebagai pejuang hak-hak penyandang disabilitas, ia kerap memberi kuliah di berbagai universitas, menulis buku, menghasilkan artikel, hingga menjadi pembicara utama di berbagai simposium, konferensi, pelatihan, dan seminar yang berfokus pada disabilitas di Indonesia.

Ia tercatat pernah menerima beasiswa internasional pada 2006 untuk menyelesaikan gelar magister dalam Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Internasional di Heller School for Social Policy and Management, Brandeis University, Massachusetts, Amerika Serikat.
 


Ohana Training Centre, Rumah Perjuangan yang Permanen

Ohana Training Centre diresmikan pada Maret 2026. Bangunan itu disebut sekaligus menjadi gedung percontohan, terutama dari sisi infrastruktur yang aksesibel, bagi kelompok penyandang disabilitas maupun lansia. Menurut Risnawati, Ohana Training Centre menjadi gedung percontohan untuk lembaga lain yang ada di Indonesia.

"Ketika membangun itu memang harus memperhatikan sarana-prasarana, fasilitas yang itu memang mudah sekali diakses oleh semua kelompok disabilitas maupun lansia," ujar Risnawati.

Di samping itu, ia melanjutkan, Ohana Training Centre menjadi rumah bagi para penyandang disabilitas. Perkumpulan Ohana merupakan organisasi yang dipimpin perempuan dan sebagian besar anggotanya adalah kelompok perempuan disabilitas. Risnawati menegaskan isu disabilitas sangat beririsan dengan hampir semua bidang kehidupan lainnya.

"Dengan adanya Ohana Training Centre ini memang memberikan pesan bahwa kita memiliki tempat untuk belajar dan berjuang selama-lamanya, karena ini sudah milik sendiri. Jadi misi dan visi kami sebagai organisasi yang dipimpin oleh perempuan disabilitas itu bisa terus eksis, bisa terus memberikan perubahan bagi Indonesia yang kita tahu situasinya seperti ini," kata dia.

Rintangan Budaya Patriarki

Risnawati menyatakan perjuangan atas hak-hak penyandang disabilitas masih dihadapkan pada berbagai rintangan. Salah satunya adalah budaya patriarki yang masih melekat pada sebagian masyarakat, khususnya laki-laki.

Menurut dia, organisasi ataupun lembaga lain yang dipimpin oleh laki-laki belum tentu bisa memberikan manfaat seperti Ohana yang dipimpin oleh para perempuan. Risnawati mengungkapkan misi Ohana, yakni bagaimana menerjemahkan isu disabilitas dan isu keadilan dalam konteks feminisme.

"Bagaimana peran-peran perempuan yang memang kami ini di dalam konteks feminisme itu kan caring, kita merawat, kita menjaga, kita juga pro dengan kedamaian. Beda dengan, kalau sekarang budaya patriarki itu kan cenderung monopoli laki-laki. Dan kita tahu bagaimana konflik di negara-negara yang dipimpin oleh pemimpin laki-laki itu mesti sukanya perang, sukanya konflik," jelasnya.


Ilustrasi Hari Kartini

Secara maskulinitas, katanya, kaum laki-laki cenderung ingin menunjukkan kekuatannya. Risnawati menegaskan masih ada pro dan kontra terhadap fakta tersebut. Ohana justru menekankan pemberian nilai-nilai perdamaian, nilai-nilai kepedulian, nilai-nilai menjunjung tinggi dan menghormati kelompok rentan, kelompok lansia, serta kelompok disabilitas. Hal itu terus diupayakan melalui pemberian edukasi.

Ke depan, Ohana Training Centre akan menjadi titik advokasi perjuangan hak-hak penyandang disabilitas, baik di tingkat daerah maupun nasional. Fokus advokasi tidak hanya pada edukasi perspektif, tetapi juga diharapkan sampai pada pembuatan dan penerapan kebijakan pemerintah.

"Dengan situasi politik yang sekarang ini, efisiensi anggaran itu adalah pelanggaran hak asasi manusia. Ketika itu tidak ada prioritas terhadap upaya perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Semuanya diarahkan pada ambisi-ambisi politik yang kemudian mengabaikan keberadaan kita sebagai warga negara penyandang disabilitas dan lansia. Padahal jumlah lansia dan disabilitas sampai 2030-2050 itu akan terus meningkat," ucapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)