Sekitar 5.000 Personel Militer akan Kembali Ikuti Latma Super Garuda Shield 2026

Personel militer Indonesia dan Amerika Serikat akan turut serta dalam Latihan Gabungan Super Garuda Shield 2026. Foto: Kedubes AS

Sekitar 5.000 Personel Militer akan Kembali Ikuti Latma Super Garuda Shield 2026

Fajar Nugraha • 28 August 2026 19:12

Jakarta: Personel militer dari Indonesia, Amerika Serikat, dan 13 negara mitra akan berpartisipasi dalam latihan Super Garuda Shield mulai 31 Agustus hingga 11 September 2026.

Latihan ini akan diadakan di berbagai lokasi latihan termasuk Bandung, Baturaja, dan Lampung.

“Latihan yang melibatkan sekitar 5.000 personel militer gabungan ini menunjukkan tujuan bersama negara-negara peserta dalam meningkatkan interoperabilitas dan kesiapan untuk menghadapi tantangan regional,” sebut pernyataan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jumat 28 Agustus 2026.

“Latihan ini mencerminkan komitmen pemerintah terhadap perdamaian melalui kekuatan serta kemitraan yang langgeng antara Amerika Serikat dan Indonesia,” imbuh pernyataan itu.

Super Garuda Shield 2026 memberikan kesempatan luar biasa bagi pertukaran profesional yang memperkuat kemitraan kita melalui pembelajaran dan pelatihan bersama.

Kegiatan pelatihan mencakup pertukaran ahli dan lokakarya pengembangan profesional, latihan komando dan kendali, operasi pelatihan maritim yang melibatkan unsur angkatan laut dan penjaga pantai, serta latihan lapangan gabungan dan terpadu.

Super Garuda Shield adalah latihan militer gabungan tahunan berskala besar antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat serta sejumlah negara mitra di kawasan Indo-Pasifik.

Kegiatan ini pertama kali diadakan pada tahun 2006 sebagai latihan bilateral dan pertukaran informasi terbatas antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Sejak tahun 2022, latihan ini diperluas dan berganti nama menjadi Super Garuda Shield karena melibatkan banyak negara sahabat dari berbagai kawasan. Tujuan latihan ini meningkatkan kerja sama pertahanan, memperkuat stabilitas keamanan regional, dan menguji kemampuan interoperabilitas (kesiapan kerja sama taktis) antar-militer negara peserta. 

(Fajar Nugraha)