Wilayah Iran masih terus diserang Israel dan Amerika Serikat. Foto: Anadolu
Trump: Serangan Militer ke Iran Bisa Dilanjutkan Jika Perundingan Gagal
Muhammad Reyhansyah • 15 June 2026 10:26
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan militer apabila Teheran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS.
Dalam wawancara dengan The New York Times yang dipublikasikan Minggu, 14 Juni 2026, Trump mengatakan serangan terhadap Iran dapat kembali dilakukan jika proses perundingan yang sedang berlangsung tidak menghasilkan kesepakatan.
Selain opsi militer, Trump juga mengatakan, AS dapat mengambil peran yang lebih besar di Timur Tengah sebagai imbalan atas sebagian pendapatan kawasan tersebut.
Ia juga mengklaim kesepakatan yang sedang dibahas akan menjamin Selat Hormuz menjadi jalur pelayaran yang "bebas tarif secara permanen".
Trump Konfirmasi Kesepakatan Damai
Pernyataan tersebut muncul setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai setelah melalui perundingan intensif.Menurut Sharif, kedua pihak sepakat mengakhiri operasi militer di seluruh front konflik, termasuk yang terkait dengan Lebanon.
Trump kemudian mengonfirmasi tercapainya kesepakatan tersebut.
"Selamat kepada semua pihak. Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa tarif dan sekaligus mengesahkan pencabutan segera blokade angkatan laut Amerika Serikat," tulis Trump di Truth Social, dikutip dari Anadolu, Senin, 15 Juni 2026.
Ia juga menyatakan kapal-kapal dunia dapat kembali beroperasi secara normal dan aliran minyak dapat kembali berjalan.
Dalam wawancara yang sama, Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut tercapai meskipun mendapat keberatan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump secara khusus mengkritik serangan udara Israel ke pinggiran selatan Beirut pada Minggu yang menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 15 lainnya meski gencatan senjata masih berlaku.
"Itu seharusnya tidak terjadi," kata Trump, merujuk pada serangan Israel saat proses menuju kesepakatan damai dengan Iran sedang berlangsung.
Ia juga menyebut Netanyahu sebagai sosok yang sulit diajak bekerja sama dan mengatakan Israel seharusnya berterima kasih kepada Amerika Serikat atas upaya tersebut.
Negosiasi Nuklir Masih Berlangsung
Meski kesepakatan damai telah diumumkan, rincian lengkapnya belum dipublikasikan.Menurut laporan The New York Times, memorandum kesepahaman yang disepakati hanya menangguhkan pungutan di Selat Hormuz selama 60 hari dan membuka jalan bagi dialog regional mengenai masa depan jalur pelayaran strategis tersebut.
Trump menegaskan bahwa perjanjian baru ini berbeda dengan kesepakatan nuklir era Presiden AS ke-44, Barack Obama. Menurut Trump, kesepakatan baru akan memastikan Iran tidak dapat mengembangkan maupun memperoleh senjata nuklir.
Namun, Iran sebenarnya telah berkomitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir sejak meratifikasi Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) pada 1970 dan kembali menegaskannya dalam kesepakatan nuklir 2015.
Selama tiga bulan perundingan yang dipimpin utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa Teheran tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium bagi tujuan sipil.
Trump mengatakan kedua pihak masih bernegosiasi mengenai kemungkinan penghentian pengayaan uranium Iran selama 20 tahun.
Ia juga mengisyaratkan dapat menerima kompromi berupa penangguhan selama 15 tahun, dengan syarat Iran hanya diperbolehkan melakukan pengayaan uranium pada tingkat rendah yang menurutnya tidak dapat digunakan untuk kepentingan militer.
Kesepakatan nuklir 2015 yang dicapai pada masa Obama juga menerapkan pembatasan serupa terhadap program nuklir Iran. Namun setelah Trump menarik AS keluar dari perjanjian tersebut pada 2018, Iran dikabarkan secara bertahap meningkatkan aktivitas pengayaan uraniumnya hingga mencapai kemurnian 60 persen.