Laga Meksiko vs Afrika Selatan, Ketinggian Mexico City Untungkan Tuan Rumah

Stadion Azteca. (Wikimedia Commons)

Laga Meksiko vs Afrika Selatan, Ketinggian Mexico City Untungkan Tuan Rumah

Riza Aslam Khaeron • 11 June 2026 17:34

Meksiko City: Stadion Azteca (Mexico City Stadium) yang ikonik dengan kapasitas 83.000 penonton akan menjadi saksi laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko melawan Afrika Selatan pada malam ini, 12 Juni 2026, pukul 02.00 WIB.
 
Namun, lebih dari sekadar dukungan suara dari ribuan penggemar, Meksiko menyimpan satu senjata utama yang tidak dimiliki oleh tim tamu: ketinggian tempat yang ekstrem.

Melansir Strait Times, Stadion Azteca terletak pada ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut. Angka ini bahkan lebih tinggi dari gabungan tinggi Burj Khalifa (828 m), dan Empire State Building (443 m). Kondisi geografis unik inilah yang disebut-sebut sebagai "pengaturan yang sangat kuat" (very potent setting) bagi sang tuan rumah.

Komisioner sepak bola Meksiko, Mikel Arriola, turut mengakui keuntungan besar tersebut.

"Kami memiliki keuntungan besar sebagai negara tuan rumah karena kami bermain di Stadion Azteca dengan penggemar kami dan ketinggian tempat. Ini adalah pengaturan yang sangat kuat," ujarnya mengutip Strait Times.
 

Dampak Ketinggian Terhadap Performa


Para pemain Timnas Meksiko merayakan gelar Gold Cup 2025 setelah mengalahkan Amerika Serikat. (Instagram/@goldcup)

Hanya sedikit stadion sepak bola utama di dunia yang berada di ketinggian ekstrem seperti ini yang alhasil akan berdampak kepada pemain yang tidak terbiasa.

Scott Xu, seorang konsultan dari departemen kedokteran olahraga dan latihan di Changi General Hospital, menjelaskan bahwa kadar konsentrasi oksigen di udara pada ketinggian tersebut jauh lebih rendah.

"Ketika pesepak bola bertanding dalam kondisi ini, akan ada lebih sedikit oksigen yang bersirkulasi dalam sistem mereka, mengurangi daya tahan selama periode-periode pengerahan tenaga," kata Xu.

Akibatnya, para pemain yang tidak terbiasa dengan kondisi ini sering kali mengalami kelelahan yang lebih cepat, detak jantung yang meningkat tajam, serta penurunan kemampuan untuk mempertahankan lari intensitas tinggi secara berulang, yang menjadi ciri khas sepak bola internasional modern.

He Qixiang, kepala performa Lion City Sailors yang memegang gelar PhD dalam analitik performa olahraga, menambahkan bahwa pemain yang tidak terbiasa dengan ketinggian akan juga mengalami penurunan drastis dalam kemampuan pemulihan fisik mereka.

"Untuk mengkompensasi berkurangnya oksigen di udara, sistem kardiovaskular harus bekerja lebih keras, yang mengakibatkan pemain menghabiskan cadangan energi mereka jauh lebih cepat," jelas He.

Mantan bek timnas AS, Alexi Lalas, memberikan gambaran nyata tentang betapa brutalnya kondisi bermain di Stadion Azteca. Mengenang laga final Piala Emas 1993 silam saat AS dibantai 0-4 oleh Meksiko, Lalas menceritakan kembali pengalaman menyakitkan yang dialami oleh rekannya, gelandang Cobi Jones.

"Saya tidak akan pernah melupakan bayangan Cobi Jones ketika kami masuk di babak jeda. Cobi adalah pria yang memiliki masalah pernapasan,"kata Lalas mengutip Strait Times.

"Saya tidak akan pernah lupa duduk di sampingnya dan melihatnya mengeluarkan gumpalan dahak menjijikkan berwarna hitam dari perutnya. Seolah-olah dia telah berada di tambang batu bara selama 40 tahun," tambahnya.
 
Baca Juga:
Jadwal dan Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan, Laga Pembuka Piala Dunia 2026
 

Timnas Lain Mencoba Beradaptasi

Menyadari tantangan berat ini, tim nasional negara lain pun mencoba menyesuaikan persiapan mereka. Timnas Afrika Selatan misalnya, mendirikan basis latihan di Pachuca, sebuah kota yang berada di ketinggian hampir 2.500 meter di atas permukaan laut, bahkan lebih tinggi daripada Mexico City, sebagai upaya mempersiapkan para pemainnya menjelang laga pembuka.

Selain itu ada Korea Selatan, menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk berlatih di Salt Lake City diatas ketinggian lebih dari 1300 meter sebelum mendarat di Meksiko.

Sementara itu, Kolombia memilih untuk tetap bertahan di Bogota yang terletak di dataran tinggi menjelang pertandingan mereka di negara tersebut.

Di sisi lain, Ceko Pelatih kepala Miroslav Koubek mengakui bahwa mereka memiliki sangat sedikit kesempatan untuk beradaptasi sepenuhnya sebelum menghadapi Meksiko pada laga terakhir fase grup mereka.

“Kami harus menghabiskan waktu sebulan di lingkungan tersebut untuk bisa beradaptasi, tetapi tidak ada waktu untuk itu. Kami mendapat rekomendasi dari para ahli tentang cara menghadapinya, tetapi kami tidak akan bisa mengatasinya 100 persen, itu sudah pasti,” ucap Koubek, mengutip Korean Times.
 

Jadwal yang Menguntungkan Meksiko

Kondisi alam ini juga tampaknya akan terus menguntungkan tim tuan rumah. Jadwal pertandingan Grup A untuk Meksiko dirancang sangat memihak mereka dari sudut pandang ketinggian tempat.

Setelah menghadapi Afrika Selatan di Mexico City, skuad El Tri akan melakukan perjalanan ke Guadalajara, sebuah tempat di dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 1.554 kaki di atas permukaan laut, untuk laga grup kedua mereka melawan Korea Selatan, sebelum akhirnya kembali ke ibu kota untuk menutup fase grup melawan Ceko.

(Muhamad Marup)