Gunung Dukono Erupsi, Pendakian Jangan Hanya Kejar Popularitas Medsos

Ilustrasi Pexels

Gunung Dukono Erupsi, Pendakian Jangan Hanya Kejar Popularitas Medsos

Muhamad Marup • 12 May 2026 19:32

Jakarta: Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, mengalami erupsi pada Jumat pagi, 8 Mei 2026 sekitar pukul 07.41 WIT. Letusan tersebut memuntahkan abu vulkanik hingga mencapai sekitar 10 kilometer dari bibir kawah.

Saat erupsi terjadi, terdapat sekitar 20 pendaki yang masih berada di kawasan Gunung Dukono. Para pendaki terdiri dari warga lokal, pendaki asal Ternate, hingga wisatawan mancanegara asal Singapura.

Menanggapi peristiwa tersebut, Dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, menerangkan, Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api dengan aktivitas tinggi di Indonesia. Aktivitas tersebut menjadikan Dukono menarik untuk diamati.

Hal tersebut juga berlaku bagi pendaki yang ingin menikmati panorama alam sekaligus menyaksikan fenomena erupsi secara langsung. Namun, daya tarik tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan.

"Gunung api itu menjadi semakin menarik ketika gunung apinya aktif. Para pendaki ingin menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan atraksi yang luar biasa," ujar Mirzam, mengutip laman resmi ITB, Selasa, 12 Mei 2026.

Ia menjelaskan, aktivitas erupsi, baik dalam skala kecil maupun besar, tetap memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan. Keinginan untuk memperoleh foto, video, atau popularitas di media sosial (medsos) tidak sebanding dengan bahaya yang dapat terjadi di lapangan.

"Keselamatan itu tidak bisa digantikan dengan kesenangan kita, dengan popularitas kita, mendapatkan like dari video maupun foto saat kita bisa selfie pada waktu erupsi," jelasnya.

Cek status gunung api

Mirzam menjelaskan bahwa status gunung api ditentukan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik. Status tersebut terdiri atas normal, waspada, siaga, hingga awas, atau level 1 sampai level 4.

Peningkatan status biasanya didasarkan pada sejumlah indikator, seperti aktivitas kegempaan, erupsi kecil, dan perubahan aktivitas gunung. Dalam konteks Gunung Dukono, ia menyebutkan bahwa pada Agustus 2024 status gunung berada pada level 2 dengan rekomendasi radius aman sejauh 3 kilometer.

Pada Desember 2024, radius rekomendasi tersebut meningkat menjadi 4 kilometer. Selanjutnya, pada 17 April 2026, status Dukono berada pada level 3 sehingga aktivitas pendakian seharusnya tidak dilakukan.

"Kalau tadi jarak amannya sampai 4 kilometer, sekarang pendakian sudah tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun," katanya.

Informasi resmi


Ilustrasi Pexels

Mirzam menegaskan bahwa mitigasi bencana gunung api merupakan tanggung jawab bersama. Informasi mengenai status gunung api dan rekomendasi aktivitas harus merujuk pada sumber resmi, bukan hanya berdasarkan pengalaman individu atau pihak pengelola wisata.

"Setiap wisatawan harus mencari informasi yang cukup, apakah ini saat yang tepat, apakah ini paling berisiko atau tidak. Itu harus ditakar," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa gunung api aktif tetap dapat dinikmati dari jarak aman. Kegiatan wisata alam tidak harus dihentikan sepenuhnya, tetapi perlu dilakukan dengan mematuhi aturan keselamatan yang berlaku.

"Bisa tidak kita menikmati gunung api pada waktu erupsi? Bisa, tanpa harus celaka, asal kita mematuhi jarak aman tertentu," terangnya.

Mirzam kembali mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Keindahan alam, pengalaman pendakian, dan popularitas di media sosial tidak sebanding dengan risiko kehilangan nyawa.

"Like yang kita dapat dan popularitas itu tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar," tegasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)