Kepala Kepolisian Daerah Riau, Irjen Herry Heryawan, saat orasi pada kegiatan Youth Green Policing Eco Academy (YGPEA) 2026 di GOR Tri Buana, Pekanbaru, Kamis, 15 Januari 2026. Dokumentasi/ istimewa
Kapolda Riau Sebut Generasi Muda Kunci Menjaga Alam, Kepercayaan, dan Masa Depan
Deny Irwanto • 15 January 2026 19:13
Pekanbaru: Masa depan lingkungan, kualitas kehidupan sosial, dan keberlanjutan Provinsi Riau disebut sangat bergantung pada keberanian generasi muda untuk peduli dan bertanggung jawab.
Kepala Kepolisian Daerah Riau, Irjen Herry Heryawan, mengatakan perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai dari anak-anak muda yang memilih untuk tidak diam.
Kepemimpinan tidak identik dengan jabatan atau kekuasaan, melainkan lahir dari keberanian untuk bertindak ketika banyak orang memilih bersikap pasif.
"Kalian tidak harus menjadi pejabat untuk berdampak, dan tidak harus menjadi tokoh terkenal untuk berarti. Kalian hanya perlu menjadi generasi yang peduli, berani, dan bertanggung jawab," kata Herry saat orasi pada kegiatan Youth Green Policing Eco Academy (YGPEA) 2026 di GOR Tri Buana, Pekanbaru, Kamis, 15 Januari 2026.
Baca Juga :
Pemuda Global South Dinilai Memiliki Peran Strategis di Dunia Internasional
Herry mencontohkan tindakan-tindakan sederhana yang memiliki dampak besar seperti membuang sampah pada tempatnya sebagai bentuk menjaga sungai, tidak menyebarkan hoaks sebagai cara merawat kedamaian sosial, serta berani melaporkan perusakan lingkungan sebagai wujud menjaga masa depan.
Menurut lulusan Akpol 1996 ini, kepemimpinan yang paling murni justru lahir dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten.
.jpeg)
Kepala Kepolisian Daerah Riau, Irjen Herry Heryawan, saat orasi pada kegiatan Youth Green Policing Eco Academy (YGPEA) 2026 di GOR Tri Buana, Pekanbaru, Kamis, 15 Januari 2026. Dokumentasi/ istimewa
Herry juga menekankan generasi muda hari ini hidup di tengah tiga krisis besar sekaligus, yakni krisis iklim, krisis kepercayaan, dan krisis kepedulian.
Krisis iklim, kata dia, tidak lagi menjadi isu yang jauh, melainkan hadir dalam banjir yang semakin sering, kemarau yang makin panjang, serta kabut asap yang pernah menutup langit Riau.
Namun Herry menegaskan arah krisis tersebut ditentukan oleh pilihan manusia, antara merawat atau merusak, peduli atau mengabaikan.
"Cara kita memperlakukan alam hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi setelah kita. Hutan ini bukan warisan dari leluhur kita, tetapi titipan dari anak cucu kita di masa yang akan datang," bebernya.
Pada aspek sosial, Herry mengingatkan krisis kepercayaan ditandai dengan mudahnya hoaks menyebar dan kebencian menjadi lebih viral dibandingkan kebaikan.
Ia menekankan pentingnya etika digital, verifikasi informasi, serta keberanian untuk bersikap jujur sebagai fondasi membangun kembali kepercayaan publik, baik antarwarga maupun terhadap institusi.
“Setiap kali kalian memilih berkata jujur, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan mendengar sebelum menghakimi, kalian sedang menenun kembali benang kepercayaan yang rapuh itu. Itu adalah kerja kepemimpinan, meskipun sering tidak terlihat," ujarnya.