Kuba dalam kegelapan karena listrik padam. Foto: Anadolu
Kuba Pulihkan Jaringan Listrik Nasional di Tengah Ancaman Tekanan AS
Muhammad Reyhansyah • 18 March 2026 19:10
Havana: Pemerintah Kuba menyatakan telah mulai memulihkan jaringan listrik nasional pada Selasa, 17 Maret 2026, di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat (AS).
Pemimpin negara itu juga menegaskan bahwa setiap upaya untuk menguasai Kuba akan menghadapi perlawanan yang kuat.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan sikap tersebut saat menghadapi ancaman dari Washington.
“Menghadapi skenario terburuk, Kuba memiliki satu jaminan: setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tidak dapat dipatahkan,” tulisnya dalam pernyataan di platform X, seperti dikutip France24, Rabu, 18 Maret 2026.
Pemerintah Kuba saat ini berada di bawah tekanan berat, termasuk akibat kebijakan blokade minyak oleh AS serta pernyataan terbuka dari Washington yang ingin mengakhiri kebuntuan hubungan yang telah berlangsung hampir tujuh dekade dengan negara komunis tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai langkah Kuba yang baru-baru ini mengizinkan warga diaspora untuk berinvestasi dan memiliki bisnis belum cukup untuk memenuhi tuntutan reformasi pasar bebas dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
“Apa yang mereka umumkan kemarin tidak cukup signifikan. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi mereka harus membuat keputusan besar,” kata Rubio kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump sendiri pada Senin menyatakan akan mengambil tindakan terhadap Kuba dalam waktu dekat.
“Kami akan melakukan sesuatu terkait Kuba dalam waktu dekat,” ujarnya, seraya menambahkan, “Saya yakin akan memiliki kehormatan untuk mengambil alih Kuba.”
Krisis Energi Perparah Kondisi Ekonomi
Di tengah ketegangan tersebut, Kuba juga menghadapi krisis energi serius. Pemadaman listrik total yang terjadi pada Senin menyoroti kondisi ekonomi negara yang semakin memburuk.Pasokan listrik mulai pulih pada Selasa pagi, dengan sekitar dua pertiga wilayah negara kembali mendapatkan aliran listrik, termasuk 45 persen wilayah ibu kota Havana yang dihuni sekitar 1,7 juta penduduk.
Seorang warga Havana, Olga Suarez, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pemadaman listrik yang berkepanjangan.
“Yang kami takutkan adalah pemadaman listrik berlangsung lama dan kami kehilangan sedikit makanan yang tersimpan di lemari es, karena semuanya sangat mahal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tanpa listrik sudah menjadi hal yang biasa.
“Namun kami sudah terbiasa, karena di sini hampir setiap hari kami tidur dan bangun tanpa listrik,” katanya.
Krisis energi diperparah setelah Kuba kehilangan Venezuela sebagai sekutu utama dan pemasok minyak sejak Januari, menyusul operasi militer Amerika Serikat yang menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.
Sejak 9 Januari, Kuba tidak lagi menerima impor minyak, yang berdampak langsung pada sektor kelistrikan dan memaksa maskapai penerbangan mengurangi frekuensi penerbangan ke pulau tersebut, sehingga memukul sektor pariwisata.
Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah menua juga mengalami kerusakan parah, dengan pemadaman hingga 20 jam per hari menjadi hal umum di beberapa wilayah akibat kekurangan bahan bakar.
Tensi Diplomatik
Di tengah situasi ini, seorang pejabat Kuba di Washington, Tanieris Dieguez, menyatakan negaranya terbuka untuk dialog luas dengan Amerika Serikat, namun menolak membahas perubahan sistem politik.“Kami memiliki banyak hal untuk dibicarakan, tetapi tidak satu pun pihak boleh meminta pihak lain untuk mengubah pemerintahnya,” ujarnya.
“Tidak ada yang terkait dengan sistem politik kami—model politik atau konstitusi kami—yang akan menjadi bagian dari negosiasi, dan itu tidak akan pernah menjadi bagian dari pembahasan tersebut.”
Ia menegaskan bahwa Kuba hanya meminta satu hal dalam setiap dialog, yakni penghormatan terhadap kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri.
Sementara itu, laporan media yang menyebut Amerika Serikat mendesak Kuba untuk mengganti Diaz-Canel dibantah oleh Rubio, yang menyebut laporan tersebut sebagai tidak benar. Di sisi lain, Trump kembali menegaskan ambisinya terhadap Kuba.
“Sejak dulu saya mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?” ujarnya kepada wartawan.
“Saya percaya saya akan memiliki kehormatan untuk mengambil Kuba. Entah membebaskannya atau mengambil alihnya—sejujurnya saya bisa melakukan apa saja yang saya inginkan. Mereka saat ini adalah negara yang sangat lemah.”