Kogabwilhan III mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat Papua melalui inisiatif bantuan alat bantu dengar. Dokumentasi/ istimewa
Membuka Akses, Menjaga Martabat: Layanan Pendengaran Inklusif Hadir di Papua
Deny Irwanto • 9 January 2026 20:39
Jakarta: Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat Papua melalui inisiatif bantuan alat bantu dengar bagi penyandang tunarungu. Program ini dilaksanakan bertepatan dengan peresmian Hearing Center pertama di Provinsi Papua yang berlokasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura.
Peresmian Hearing Center tersebut dilakukan langsung oleh Gubernur Papua, Matius D Fakhiri. Kehadiran fasilitas ini menandai langkah penting dalam penguatan layanan kesehatan pendengaran yang lebih inklusif, modern, dan mudah diakses oleh masyarakat Papua.
Panglima Kogabwilhan III, Letjen Bambang Trisnohadi, menyampaikan penyaluran alat bantu dengar merupakan bagian dari peran aktif TNI dalam mendukung pemenuhan hak dasar masyarakat, khususnya di bidang kesehatan.
Baca Juga :
Dokter Umum dan Spesialis Berikan Pelayanan Kesehatan di Wilayah Terisolir di Aceh
.jpeg)
Kogabwilhan III mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat Papua melalui inisiatif bantuan alat bantu dengar. Dokumentasi/ istimewa
Menurut Bambang, sinergi antara TNI dan Pemerintah Provinsi Papua menjadi fondasi penting dalam menghadirkan sistem pelayanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan di wilayah Indonesia Timur.
“Bersama Pemerintah Provinsi Papua dan penyelenggra megara lainnya di Bumi Cendrawasih, TNI berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang menjamin kesempatan dan akses yang setara bagi semua warga negara, termasuk penyandang disabilitas,” jelasnya.
Bambang menambahkan pembangunan infrastruktur serta lingkungan pelayanan kesehatan yang ramah disabilitas merupakan langkah strategis untuk menghilangkan berbagai hambatan, baik fisik maupun nonfisik, yang selama ini dihadapi masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.
"Pelayanan kesehatan yang inklusif memungkinkan setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas, hidup sehat, mandiri, dan berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa, sebagai bagian dari pemenuhan hak asasi manusia," ungkap Bambang.
Kehadiran Hearing Center pertama di Papua diharapkan menjadi awal penguatan layanan kesehatan pendengaran yang lebih merata, sekaligus simbol kolaborasi lintas sektor dalam memastikan setiap warga negara memperoleh hak atas kesehatan secara adil dan bermartabat.