Suhu Dingin 'Bediding' Kembali Melanda Malang, BMKG Ungkap Penyebabnya

Fenomena bedinding dan embun es mulai terlihat di Dataran Tinggi Dieng. (MI)

Suhu Dingin 'Bediding' Kembali Melanda Malang, BMKG Ungkap Penyebabnya

Daviq Umar Al Faruq • 2 July 2026 12:33

Malang: Fenomena udara dingin ekstrem atau yang akrab disebut warga sebagai bediding kembali menyelimuti wilayah Malang dan sejumlah daerah di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi ini merupakan siklus tahunan yang lazim terjadi selama puncak musim kemarau.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul, menyebut fenomena ini dipicu oleh pergerakan angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering. Karakteristik udara tersebut membawa dampak signifikan terhadap penurunan suhu di wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur.

"Di bulan Juli, Agustus, hingga September memang hal yang wajar terjadi. Memang siklus tahunannya seperti ini karena posisinya kita berada di musim kemarau. Nanti di akhir Juli sampai Agustus merupakan puncak musim kemarau sehingga akan terasa lebih dingin," ujar Linda saat dikonfirmasi, Kamis 2 Juli 2026.

Faktor lain yang memperparah kondisi ini adalah minimnya tutupan awan yang membuat pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung sangat cepat pada malam hari. Kondisi langit yang cerah menyebabkan energi panas yang terserap bumi saat siang hari langsung terbuang ke atmosfer tanpa hambatan.


Fenomena bedinding dan embun es mulai terlihat di Dataran Tinggi Dieng. (Dokumentasi/ MI)

"Karena minim tutupan awan, panas yang tersimpan di permukaan bumi langsung terlepas sehingga udara terasa lebih dingin," jelas Linda.

Geografi Malang yang berada di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 400 hingga 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) semakin mempertegas hawa dingin tersebut. Wilayah Kota Batu bahkan mencatatkan elevasi yang lebih ekstrem, yakni mencapai 700 hingga 1.700 mdpl.

“Sehingga suhunya lebih dingin dibanding yang lain. semakin tinggi elevasi maka suhunya akan semakin rendah,” ungkap Linda.

Data BMKG menunjukkan suhu minimum di Stasiun Klimatologi Karangploso dalam dua hari terakhir telah menyentuh angka 15,8 derajat Celsius. Sementara itu, suhu di Kota Batu tercatat lebih rendah, yakni berada di kisaran 13,8 derajat Celsius.

Kawasan wisata Gunung Bromo menjadi wilayah dengan suhu paling ekstrem dibandingkan area lainnya di Malang Raya. Setelah sempat terdeteksi mencapai 6 derajat Celsius pada pengamatan sebelumnya, suhu di kawasan tersebut kini terpantau stabil di angka 8,2 derajat Celsius.

Linda memprediksi fenomena bediding ini masih akan terus berlangsung hingga September mendatang dengan puncak dingin di bulan Agustus. Intensitas dingin ini akan jauh lebih terasa bagi masyarakat yang berada di lokasi dengan elevasi tinggi.

"Semakin tinggi elevasi suatu wilayah, maka suhunya akan semakin dingin. Di Bromo bahkan pernah tercatat mencapai sekitar 4 derajat Celsius," beber Linda.

Merespons kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan menyiapkan perlindungan diri, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan saat malam hingga pagi hari. Menjaga imunitas tubuh menjadi kunci utama agar masyarakat tidak jatuh sakit selama periode udara dingin ini berlangsung.

“Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan dengan mengenakan pakaian yang lebih hangat, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Konsumsi air putih tetap perlu diperhatikan meskipun cuaca terasa dingin, karena udara pada musim kemarau umumnya lebih kering,” ujar Linda.

(Deny Irwanto)