Arus Pelayaran Selat Hormuz Mulai Pulih dan Pangkas Biaya Logistik

Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu

Arus Pelayaran Selat Hormuz Mulai Pulih dan Pangkas Biaya Logistik

Fajar Nugraha • 2 July 2026 14:52

Istanbul: Arus lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz dilaporkan mulai meningkat secara bertahap pasca-penandatanganan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pemulihan jalur ini berdampak langsung pada penurunan biaya logistik di pasar spot secara perlahan, yang menandai fase normalisasi bertahap dan fluktuatif, alih-alih penurunan harga secara drastis.

Ketua Asosiasi Forwarding dan Logistik Turki (UTIKAD), Bilgehan Engin, mengatakan bahwa meredanya ketegangan di Timur Tengah terjadi setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 14 Juni, yang kemudian resmi berlaku empat hari setelahnya.

Kesepakatan tersebut membuka kembali jalur perairan vital bagi pengapalan komersial yang sempat lumpuh sejak akhir Februari lalu, sekaligus menurunkan premi risiko serta ketidakpastian rantai pasok global.

Sebelum pecah konflik bersenjata, sekitar 130 kapal komersial melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Jalur transportasi ini sempat mati total setelah 28 Februari, menyusul serangan preventif bersama yang diluncurkan AS dan Israel ke Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran.

Meskipun saat ini arus pelayaran telah meningkat pasca-kesepakatan damai berlaku, volume lalu lintas di selat tersebut tercatat masih berada 70 persen di bawah level sebelum perang.

Engin membeberkan bahwa lonjakan tarif pengiriman, biaya asuransi, dan premi risiko telah menekan pasar angkutan laut global sepanjang tahun ini, di mana tarif kargo spot untuk kapal tanker dan kontainer sempat menyentuh rekor tertinggi sejarah.

Meskipun biaya asuransi kini mulai turun, tarif pengiriman barang belum merosot pada kecepatan yang sama akibat faktor biaya struktural yang masih bertahan, sehingga harga dasar di pasar spot diprediksi tetap berada di atas level sebelum krisis.

Merespons situasi terbaru, sejumlah perusahaan pemilik kapal dan raksasa logistik global mulai merevisi kontrak jangka panjang berbiaya tinggi yang mereka tanda tangani selama masa krisis. Proses revisi ini diarahkan menggunakan struktur fleksibel yang terikat indeks serta terbuka untuk dinegosiasikan ulang, sementara kontrak baru mulai beralih ke struktur harga yang lebih seimbang dengan premi risiko yang lebih rendah.

Selama masa krisis, pengalihan rute pelayaran memutari Tanjung Harapan di Afrika Selatan sempat meningkatkan permintaan ton-mil secara artifisial dan memicu kelangkaan kapasitas kapal. Kembalinya kapal-kapal ke rute semula diprediksi tidak akan menimbulkan guncangan pasokan yang parah, melainkan membawa kelonggaran bertahap di pasar spot serta menciptakan lingkungan harga yang lebih kompetitif dengan margin yang menyempit.

Di sisi lain, tingginya risiko keamanan di sekitar Selat Hormuz selama perang sempat melumpuhkan operasi pelabuhan di sepanjang rute Teluk Persia dan Laut Merah, di mana pengalihan jalur alternatif otomatis meningkatkan biaya dan waktu transit. Lewat proses normalisasi ini, pelabuhan-pelabuhan di kawasan Teluk diperkirakan akan mengalami pemulihan cepat pada sektor ekspor energi dan arus kontainer ke Asia, meskipun pemulihan di Laut Merah berjalan lebih lambat akibat isu keamanan yang tersisa.

Sebagai penutup, Engin menambahkan bahwa kembalinya stabilitas di Selat Hormuz akan membuat rute maritim tradisional kembali menarik bagi pelaku industri. Kendati demikian, keberadaan koridor logistik alternatif seperti jalur kereta api dan pusat distribusi regional yang berkembang selama krisis tidak akan hilang, karena manajemen rantai pasok global kini lebih mengutamakan diversifikasi risiko dan keamanan pasokan.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)