Presiden FIFA Gianni Infantino pada Kongres FIFA ke-76 tahun 2026. (EFE/EPA/Bob Frid)
Dapat Banyak Kecaman, FIFA Batalkan Rencana Jual Saham Piala Dunia
Riza Aslam Khaeron • 1 August 2026 13:55
Zurich: Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya membatalkan proposal penjualan saham Piala Dunia setelah mendapat kecaman luas, baik dari internal organisasi sepak bola global tersebut maupun ancaman boikot dari negara-negara Eropa.
Sebelumnya, Infantino mengusulkan pembentukan perusahaan senilai 20 miliar dolar AS untuk mengelola Piala Dunia bersama investor swasta, termasuk keluarga Kushner. Namun, rencana tersebut memicu gelombang penolakan yang terus membesar sejak pertama kali diumumkan pada Selasa, 28 Juli 2026.
Dalam pernyataan resminya pada Jumat malam, 31 Juli 2026, Infantino menegaskan bahwa "proposal tidak akan dilanjutkan."Sebelumnya, Infantino mengusulkan pembentukan perusahaan senilai 20 miliar dolar AS untuk mengelola Piala Dunia bersama investor swasta, termasuk keluarga Kushner. Namun, rencana tersebut memicu gelombang penolakan yang terus membesar sejak pertama kali diumumkan pada Selasa, 28 Juli 2026.
"Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek tersebut telah menciptakan perpecahan yang sifatnya, terlepas dari tingkat dukungan, tidak lagi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal," ujarnya.
Penolakan Internal FIFA

Piala Dunia. Foto: Dok. FIFA.
Mengutip ESPN, pembalikan kebijakan ini terjadi setelah dua pejabat senior FIFA secara terbuka mengkritik rencana tersebut pada hari Jumat. Salah satunya bahkan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai penasihat presiden, sementara yang lainnya menyatakan bahwa para staf telah ditipu oleh proyek yang seharusnya tidak boleh berjalan.
Carlos Cordeiro, mantan bankir Goldman Sachs yang mewakili FIFA di Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia, memilih mundur sebagai bentuk protes.
"Saya tidak bisa tinggal diam sementara FIFA mempertimbangkan untuk menjual saham di Piala Dunia," tegas Cordeiro dalam pernyataan pengunduran dirinya dari posisi penasihat Infantino, sembari mendesak pejabat senior FIFA lainnya untuk turut bersuara.
Beberapa jam kemudian, Chief Operating Officer (COO) FIFA Kevin Lamour turut menyampaikan pernyataan resmi kepada Associated Press. Ia mengungkapkan bahwa staf FIFA merasa tertipu oleh kurangnya keterbukaan Infantino dalam merencanakan penjualan saham tersebut selama beberapa bulan terakhir. Menurutnya, proyek ini harus segera dihentikan.
"Ini adalah proyek satu orang," tulis Lamour, yang merupakan kolega lama Infantino di FIFA dan badan sepak bola Eropa, UEFA.
Penolakan UEFA
Sebelumnya pada Kamis, 30 Juli 2026, UEFA, yang menaungi 55 negara anggota, telah sepakat untuk memboikot Piala Dunia dan seluruh kompetisi FIFA lainnya sebagai bentuk protes atas proposal tersebut. UEFA menegaskan bahwa "beberapa hal terlalu penting untuk dijual.""Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan, tetapi juga pengabaian tugas FIFA sebagai kustodian sepak bola dunia," tegas federasi tersebut.
Infantino sendiri merupakan staf lama di UEFA dan pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal sebelum terpilih menjadi Presiden FIFA pada 2016.
Langkah penolakan UEFA tersebut kemudian diikuti oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang turut menyatakan penentangan mereka.
Kegagalan proposal ini berdampak pada agenda terdekat FIFA, yakni Piala Dunia Wanita U-20 yang dijadwalkan dimulai pada 5 September di Polandia, turnamen yang sebelumnya terancam diboikot oleh anggota UEFA.
Kepemimpinan Infantino Terancam
Dalam rencana awalnya, Infantino mengusulkan pemisahan bisnis komersial FIFA, yang mencakup Piala Dunia serta Piala Dunia Antarklub untuk pria dan wanita, menjadi anak perusahaan senilai 20 miliar dolar AS, dengan 20% kepemilikan dibuka untuk investor swasta.FIFA menyebut "investor utama" dalam skema ini adalah firma investasi asal New York yang didirikan oleh Joshua Kushner, adik ipar Presiden AS Donald Trump.
"Ke depannya, niat saya adalah mempertemukan kembali semua pihak yang berkepentingan dalam beberapa hari dan minggu mendatang dengan semangat kepentingan bersama dalam permainan kami, dan dengan tujuan terus mengembangkan sepak bola, terutama di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan kami," tambah Infantino dalam pernyataan resminya pada Jumat.
Langkah blunder ini berpotensi merugikan posisi Infantino, terutama setelah adanya penentangan terbuka dari pejabat internal seperti Lamour dan Cordeiro.
Meski sempat terpilih kembali tanpa lawan pada 2019 dan 2023, Infantino secara statuta FIFA masih diizinkan menjabat untuk satu periode empat tahun lagi. Batas waktu pendaftaran kontestasi presiden berikutnya jatuh pada 18 November, tepat empat bulan sebelum pemungutan suara di Rabat, Maroko, yang merupakan markas FIFA wilayah Afrika.
Meski posisi Infantino saat ini relatif aman, walaupun ada ketidaknyamanan jangka panjang dari berbagai pihak terkait gayanya dan upayanya memaksakan proyek-proyek yang tidak populer, kegagalan proposal ekuitas swasta ini berpotensi membuat kepemimpinannya menjadi jauh lebih rentan.