Trump Beri Uni Eropa Deadline hingga 4 Juli untuk Terapkan Kesepakatan Dagang

Bendera Uni Eropa berkibar di markas besarnya di Brussels, Belgia. (Anadolu Agency)

Trump Beri Uni Eropa Deadline hingga 4 Juli untuk Terapkan Kesepakatan Dagang

Muhammad Reyhansyah • 9 May 2026 10:01

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan tenggat waktu atau (deadline) kepada Uni Eropa hingga 4 Juli untuk sepenuhnya menerapkan kesepakatan dagang dengan Washington atau menghadapi "tarif yang jauh lebih tinggi."

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Kamis, 7 Mei 2026 setelah percakapan telepon dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Washington dan Brussels.

Pengumuman tersebut sekaligus menunda ancaman Trump pekan lalu ketika ia mengatakan tarif mobil buatan Uni Eropa akan dinaikkan dari 15 persen menjadi 25 persen dalam waktu dekat.

"Saya telah menunggu dengan sabar agar Uni Eropa memenuhi bagian mereka dari kesepakatan dagang bersejarah yang kami sepakati di Turnberry, Skotlandia, kesepakatan dagang terbesar sepanjang masa. Sebuah janji dibuat bahwa Uni Eropa akan menjalankan bagiannya dan memangkas tarif mereka menjadi nol," tulis Trump di media sosial, dikutip dari Euronews, Jumat, 8 Mei 2026.

Merujuk pada Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang jatuh pada 4 Juli, Trump mengatakan dirinya setuju memberi waktu hingga ulang tahun ke-250 negaranya.

"Jika tidak, tarif mereka akan langsung melonjak ke tingkat yang jauh lebih tinggi," ujarnya.

Kesepakatan Tarif Uni Eropa dan Amerika

Dalam kesepakatan yang dicapai musim panas lalu, Uni Eropa berkomitmen memangkas sisa tarif terhadap barang-barang Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Washington menyetujui tarif menyeluruh sebesar 15 persen untuk sebagian besar produk Uni Eropa guna mencegah akumulasi bea tambahan.

Parlemen Eropa dan negara-negara anggota saat ini masih merundingkan legislasi yang memungkinkan penghapusan tarif tersebut. Putaran pembicaraan pada Rabu malam gagal mencapai kesepakatan, namun para legislator menyebut ada kemajuan menuju kemungkinan penyelesaian pada 19 Mei.

Salah satu hambatan utama adalah tuntutan anggota parlemen agar dimasukkan klausul perlindungan jika Trump melanggar komitmen bersama atau mengancam integritas teritorial blok tersebut, seperti ketika ia sebelumnya mengancam akan mengambil alih Greenland dari Denmark dengan paksa.

Negara-negara anggota Uni Eropa lebih memilih mempertahankan naskah asli tanpa klausul perlindungan dan segera menerapkan kesepakatan tersebut.

Namun ancaman Trump menaikkan tarif dari 15 persen menjadi 25 persen disebut semakin memperkuat kritik terhadap perjanjian itu, terutama dari pihak yang meyakini Trump pada akhirnya akan menarik kembali komitmen dan menuntut konsesi tambahan dari Eropa.

Gedung Putih juga berulang kali menyerang regulasi digital dan lingkungan Uni Eropa serta secara terbuka menyerukan penghapusannya.

Optimisme Implementasi Kesepakatan Tarif

Dalam unggahan media sosialnya sendiri, Ursula von der Leyen menyatakan optimistis legislasi yang tertunda akan disetujui sebelum tenggat waktu.

"Kami tetap sepenuhnya berkomitmen, di kedua pihak, terhadap implementasinya. Kemajuan yang baik sedang dicapai menuju pengurangan tarif pada awal Juli," katanya.

Sebelumnya pekan ini, von der Leyen juga membalas ancaman mendadak Trump dengan mengatakan bahwa "kesepakatan tetaplah kesepakatan" dan menegaskan Uni Eropa "siap menghadapi segala skenario."

Ia juga mengingatkan Trump bahwa berdasarkan batas tarif menyeluruh 15 persen dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat tidak dapat secara sepihak menaikkan tarif.

Percakapan telepon pada Kamis yang disebut Trump sebagai "sangat baik" tampaknya meredakan ketegangan untuk sementara.

Sebagian besar pejabat dan diplomat di Brussels sebelumnya memang tidak memperkirakan tarif 25 persen benar-benar diberlakukan mengingat rekam jejak Trump yang sering mengeluarkan ancaman sebelum mengubah sikapnya.

Kedua pemimpin juga membahas konflik di Timur Tengah.

"Kami sepenuhnya sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kami setuju bahwa rezim yang membunuh rakyatnya sendiri tidak boleh mengendalikan bom yang dapat membunuh jutaan orang," kata Trump.

Von der Leyen menyampaikan pesan serupa dengan mengatakan, "Peristiwa-peristiwa terbaru dengan jelas menunjukkan bahwa risiko terhadap stabilitas kawasan dan keamanan global terlalu besar."

Baca juga: Trump Ancam Getok Tarif Impor Mobil dari Uni Eropa Jadi 25%

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)