Pesawat Udara Tanpa Awak Jadi Solusi Distribusi Logistik

Ilustrasi industri logistik. Foto: Medcom.id

Pesawat Udara Tanpa Awak Jadi Solusi Distribusi Logistik

Achmad Zulfikar Fazli • 29 April 2026 19:09

Jakarta: Perkembangan teknologi kedirgantaraan global terus menghadirkan inovasi yang mendorong efisiensi di berbagai sektor, termasuk logistik. Salah satu terobosannya, yakni penggunaan pesawat tanpa awak (UAS) kargo kelas berat Hongyan HY-100 untuk distribusi barang jarak jauh.

Pesawat tanpa awak (UAS) HY-100 telah memperoleh sertifikat tipe untuk kargo kelas berat. Pesawat udara tanpa awak (UAS) yang dikembangkan Ursa Aeronautical Technology Co., Ltd. ini menjadi salah satu pionir dalam pengembangan industri low-altitude economy global.

HY-100 tercatat sebagai pesawat udara tanpa awak (UAS) kelas berat pertama di dunia yang telah beroperasi dan mengantongi serangkaian sertifikasi dari Civil Aviation Administration of China (CAAC), meliputi Type Certificate (TC), Production Certificate (PC), Airworthiness Certificate (AC), hingga Operation Certificate (OC). Sertifikasi ini menandakan bahwa pesawat telah memenuhi standar keselamatan dan operasional penerbangan sipil internasional.

Secara teknis, HY-100 dirancang untuk mendukung kebutuhan logistik skala besar. Pesawat ini memiliki bobot lepas landas maksimum 5.25 ton, kapasitas muatan hingga 1.9 ton, jangkauan terbang mencapai 1.800 kilometer, serta ketahanan operasi lebih dari 10 jam nonstop.

Dengan bentang sayap lebih dari 18 meter dan kemampuan takeoff landing di landasan rumput, tanah maupun aspal dengan jarak kurang dari 550 meter HY-100 mampu menjalankan misi yang selama ini hanya dapat dilakukan oleh pesawat berawak di rute penerbangan perintis.

Di Indonesia, proses validasi Type Certificate tengah selesai dilakukan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara di bawah Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Proses ini mengacu pada regulasi CASR Part 21 dan Part 22 guna memastikan kesesuaian standar keselamatan dan kelaikudaraan di Indonesia.

Type Certificate Validasi ini diberikan langsung oleh Kasubdit Operasi Pesawat Udara Capt. Reymon Palapa mewakili Direktur DKPPU Sokhib Al Rokhman kepada Country Director PT Ursa Aero Indonesia Tendi Febrian dan perwakilan Ursa Aeronautical Technology Co., Ltd di kantor DKPPU. Capt. Reymon Palapa menyampaikan langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengadopsi teknologi Large Unmanned Aircraft System (LUAS) secara terukur dan aman.

Sementara itu, Kepala Tim Engineering & Emerging Technology DKPPU, Capt. Meddy Yogastoro, menjelaskan proses validasi uji tipe dilakukan secara komprehensif dari dokumen, simulator hingga uji terbang untuk memastikan kemampuan operasional pesawat di Indonesia.

“Validasi ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa teknologi UAS kelas berat dapat diintegrasikan dengan ekosistem penerbangan nasional tanpa mengabaikan aspek keselamatan,” ujar Meddy dalam keterangannya, Rabu, 29 April 2026.


Capt Reymon Palapa sebagai Kasubdit Operasi Pesawat Udara, Yuting Ping sebagai Perwakilan Ursa Aeronautical Technology Co. Ltd, dan Tendi Febrian sebagai Country Director PT Ursa Aero Indonesia. Dok. Humas DKPPU.

 

Baca Juga: 

Ekspansi Bisnis, KAI Logistik Layani Angkutan CPO di Sumatra Utara

Keberhasilan sertifikasi ini juga mendorong ekspansi HY-100 ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. PT Ursa Aero Indonesia ditunjuk sebagai mitra strategis untuk distribusi dan pengembangan operasional di dalam negeri.

Country Director PT Ursa Aero Indonesia, Tendi Febrian, menilai kehadiran HY-100 sebagai solusi konkret untuk tantangan logistik nasional, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.

“HY-100 bukan sekadar pesawat tanpa awak, melainkan solusi infrastruktur udara. Dengan sertifikasi ini, kami membawa standar keamanan tinggi untuk mendukung distribusi logistik di wilayah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di indonesia secara lebih efisien,” kata Tendi.

Menurut dia, pengembangan teknologi Large Unmanned Aircraft System (LUAS) tidak hanya berfokus pada inovasi teknis, tetapi pada pemanfaatannya untuk berbagai sektor, mulai dari logistik, pertanian, modifikasi cuaca, bencana alam hingga pengawasan wilayah.

Ke depan, PT Ursa Aero Indonesia tengah menyiapkan rencana pembangunan bandara khusus pesawat udara tanpa awak (UAS) seluas 43 hektare di wilayah Simpenan, Sukabumi.

Proyek ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri low-altitude economy di indonesia sekaligus mendorong indonesia menjadi salah satu pemain utama untuk pengembangan teknologi pesawat udara tanpa awak (UAS) di kawasan Asia Tenggara.

“Setiap inovasi yang hadir di sektor ini diharapkan dapat membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk turut berkontribusi dalam perkembangan teknologi kedirgantaraan,” ujar Tendi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)