Belajar Makna Ramadan Sejak Dini, Cara Nikita Willy Kenalkan Puasa pada Anak

Artis Nikita Willy ajarkan makna Ramadan kepada anak sejak dini. Foto: Antara

Belajar Makna Ramadan Sejak Dini, Cara Nikita Willy Kenalkan Puasa pada Anak

Fajar Nugraha • 7 February 2026 19:44

Jakarta: Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di setiap keluarga. Ini tak ubahnya dengan Nikita Willy.

Bagi aktris sekaligus ibu muda itu, bulan suci menjadi momentum untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak sejak dini bukan melalui kewajiban, melainkan lewat kesadaran dan keteladanan.

Menjelang Ramadan, Nikita mulai mengenalkan makna puasa kepada anak-anaknya secara bertahap, disesuaikan dengan kesiapan fisik dan emosional mereka. Ia memilih pendekatan tanpa paksaan, agar anak memahami esensi ibadah sebagai bagian dari perjalanan tumbuh kembang, bukan beban.

“Sekarang ini belum aku ajarin untuk berpuasa. Aku lebih memperkenalkan bahwa ini bulan Ramadan, bulan suci, dan bagaimana kita sebagai muslim menjalaninya,” ujar Nikita saat ditemui dalam rangkaian acara Boostopia by Expert Boost di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu 7 Februari 2026.

Ibu dari Issa Xander Djokosoetono (3) dan Nael Idrissa (1) itu menjelaskan, pengenalan Ramadan dilakukan melalui rutinitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak diajak melihat perubahan suasana di rumah, kebiasaan orang tua, serta nilai-nilai seperti kesabaran, berbagi, dan empati—hal-hal yang lekat dengan Ramadan.

Bagi Nikita, pendekatan ini sejalan dengan pola asuh berkesadaran (gentle parenting) yang ia terapkan. Anak diberi ruang untuk bertanya, memahami, dan meniru, tanpa tuntutan yang melampaui tahap usianya.

Selain aspek ibadah, Nikita juga memberi perhatian besar pada kesehatan dan nutrisi anak, terutama menjelang Ramadan yang kerap diikuti perubahan ritme aktivitas keluarga. Ia mengaku rutin berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan kebutuhan gizi, termasuk mikronutrien penting, tetap terpenuhi.

“Dokter anakku menyarankan suplementasi vitamin D karena penting untuk kesehatan mata dan tulang,” kata Nikita.

Kesadaran itu muncul setelah Nikita mengetahui fakta bahwa satu dari dua anak di Indonesia masih mengalami kekurangan mikronutrien penting. Kondisi tersebut kerap tidak disadari karena tidak selalu terlihat secara fisik, namun berdampak pada tumbuh kembang anak.

“Aku harus memastikan nutrisi anak aku itu cukup,” ujar Nikita.

Dokter anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH, menegaskan bahwa kekurangan mikronutrien—atau dikenal sebagai hidden hunger—masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Salah satu yang paling umum adalah kekurangan vitamin D, yang berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh dan pertumbuhan yang tidak optimal.

“Data menunjukkan satu dari dua anak Indonesia mengalami kekurangan zat gizi penting, dan mayoritas kekurangan vitamin D,” ujar dr. Mesty.

Ia menjelaskan, banyak orang tua masih menilai status gizi anak hanya dari berat badan. Padahal, kekurangan mikronutrien tidak selalu tercermin dari penampilan fisik. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi tingkat energi, kemampuan fokus, hingga perkembangan kognitif anak.

Menurut dr. Mesty, dua tahun pertama kehidupan merupakan fase krusial yang sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi dan stimulasi. Kekurangan zat gizi pada periode ini berpotensi membawa dampak berkelanjutan hingga masa depan.

Menjelang Ramadan, refleksi tentang pola asuh dan nutrisi anak pun menjadi semakin relevan. Bagi Nikita Willy, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membangun fondasi nilai dan kesehatan sejak dini—agar anak tumbuh dengan pemahaman, kesadaran, dan kesiapan yang utuh.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)