Operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice. (Dok. BNPB)
BMKG Gencar OMC agar Musim Hujan Tak Mundur dan Urai Asap Karhutla
Lukman Diah Sari • 21 October 2026 18:28
Jakarta: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus digencarkan untuk mengurai kepekatan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini juga dilakukan guna mencegah mundurnya jadwal kedatangan musim hujan di wilayah terdampak.
Faisal menjelaskan bahwa awal musim hujan diprediksi mulai memasuki wilayah Indonesia pada November 2026. Puncak intensitas hujan tersebut diprakirakan berlangsung pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.
"Kalau kepekatan asap tidak bisa kita kurangi, kita khawatir musim hujan masuknya bisa lebih mundur lagi sehingga kepekatan itu dibongkar dengan melakukan OMC, operasi modifikasi cuaca," ujar Faisal, melansir Antara, Rabu, 21 Oktober 2026.
Baca Juga :
Dalam pengaplikasian dry ice tersebut, BMKG menjalin kerja sama strategis dengan Thailand. Petugas juga menggunakan metode uji radiosonde untuk memetakan secara presisi titik-titik lokasi penyemaian awan di udara.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani ditemui jelang Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026). ANTARA/Cahya Sari
Terkait prospek musim hujan mendatang, BMKG memprediksi Indonesia akan mengalami curah hujan pada level normal, meskipun berlangsung dalam periode yang lebih singkat dari biasanya. Hal ini menuntut kewaspadaan penuh terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
"Sehingga nanti terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan, sehingga bencana meteorologi basah yaitu banjir, longsor itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang," ujar Teuku Faisal Fathani.
Sebagai informasi, BMKG sebelumnya telah merilis peringatan bahwa fenomena iklim El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat diprediksi masih akan bertahan di Indonesia hingga awal tahun 2027. Dampak langsung dari El Nino inilah yang memicu kekeringan, krisis air, serta masifnya karhutla yang berisiko menunda awal musim hujan di sebagian besar wilayah Nusantara.