Mahasiswa IPB University menggelar The Wildlife Connect 2026 untuk meningkatkan kepedulian terhadap konservasi orang utan melalui edukasi dan kolaborasi. (Dok. Istimewa)
Mahasiswa SKHB IPB University Gelar The Wildlife Connect 2026 untuk Tingkatkan Kesadaran Konservasi Orang Utan
Duta Erlangga • 22 October 2026 16:35
Bogor: Mahasiswa Himpunan Minat dan Profesi Satwa Liar, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), IPB University, telah menyelenggarakan The Wildlife Connect (TWC) 2026 pada 3–4 Oktober 2026 di Kampus IPB Dramaga dan SDN 1 Bubulak, Bogor. Mengusung tema “Echoes of the Canopy: Bridging Hearts Across Species” dengan jargon “Keep the Forest Standing, Keep Orangutans Smiling”. The Wildlife Connect 2026 dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap konservasi satwa liar, khususnya orang utan, melalui diskusi bersama praktisi konservasi dan kegiatan edukasi bagi masyarakat umum.
Pada hari pertama, Sabtu, 3 Oktober 2026, The Wildlife Connect 2026 menghadirkan talkshow berfokus pada konservasi yang dihadiri oleh Eko Prasetyo dari tim edukasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan drh. Fransiska Sulistyo, MVS dari Orangutan Veterinary Advisory Group (OVAG). Diskusi ini membahas upaya pelestarian orang utan, termasuk pentingnya menjaga kesehatan dan kesejahteraan satwa untuk mendukung kelangsungan hidupnya.
Rangkaian acara hari pertama diawali dengan penampilan drama dari Dentes yang mengangkat kisah orang utan di habitat alaminya, termasuk ancaman akibat penebangan pohon dan penangkapan ilegal. Melalui pertunjukan ini, peserta diajak memahami berbagai tantangan yang dihadapi orang utan serta pentingnya menjaga kelestarian habitatnya. Acara kemudian ditutup dengan penampilan grup vokal Wildcats yang membawakan lagu bertema kecintaan terhadap bumi. Penampilan tersebut menjadi ajakan bagi peserta untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan turut menjaga kelestarian alam.
Kegiatan ini juga turut menghadirkan sejumlah organisasi yang bergerak di bidang konservasi dan edukasi satwa liar, yaitu Little Fireface Project, Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK), dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Keterlibatan berbagai organisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan peserta mengenai inisiatif pelestarian satwa liar sekaligus membuka ruang kolaborasi antarpihak yang memiliki kepedulian terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.

Mahasiswa IPB University menggelar The Wildlife Connect 2026 untuk meningkatkan kepedulian terhadap konservasi orang utan melalui edukasi dan kolaborasi. (Dok. Istimewa)
Rangkaian kedua dilaksanakan pada, Minggu, 4 Oktober 2026, melalui kegiatan edukasi kepada siswa/i SDN 1 Bubulak, Bogor dengan melibatkan 60 siswa sekolah dasar. Sebelum terjun lapangan, para relawan yang tergabung dalam tim pengajar mendapatkan pembekalan mengenai cara menyampaikan materi konservasi kepada siswa sekolah dasar dengan cara yang menarik dan mudah dipahami dari tim edukasi BOSF. Pembekalan ini bertujuan supaya para relawan siap untuk menyampaikan materi mengenai konservasi orang utan kepada peserta dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Melalui permainan interaktif, pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian terhadap satwa liar, serta pemahaman mengenai pentingnya menjaga habitat alami orang utan sejak usia dini.
Melalui kedua rangkaian kegiatan tersebut, TWC 2026 berupaya menghubungkan pengetahuan dan kepedulian dengan aksi nyata dalam mendukung konservasi orang utan. Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus bentuk kontribusi dalam memperluas jangkauan edukasi konservasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Kolaborasi antara mahasiswa, praktisi konservasi, organisasi terkait, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya perlindungan satwa liar.
Sejalan dengan tema “Echoes of the Canopy: Bridging Hearts Across Species” dan jargon “Keep the Forest Standing, Keep Orangutans Smiling”, TWC 2026 membawa pesan bahwa pelestarian orang utan tidak dapat dipisahkan dari perlindungan habitat alaminya. Melalui edukasi, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kepedulian yang berkelanjutan terhadap konservasi. Dengan demikian, generasi muda diharapkan dapat mengambil peran dalam menjaga kelestarian orang utan, satwa liar lainnya, serta keanekaragaman hayati Indonesia.