Obama Serang Trump, Tuduh Korupsi dan Ejek Strategi di Iran

Mantan Presiden Barack Obama kritik keras Donald Trump. Foto: The New York Times

Obama Serang Trump, Tuduh Korupsi dan Ejek Strategi di Iran

Fajar Nugraha • 26 October 2026 09:05

Washington: Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama melancarkan serangan tajam terhadap Presiden Donald Trump dalam sejumlah kampanye untuk mendukung kandidat Partai Demokrat.

Obama menuduh pemerintahan Trump melakukan korupsi, mengkritik strategi terhadap Iran, serta menyoroti pengeluaran untuk renovasi Gedung Putih. Semua ini disampaikan beberapa hari menjelang pemilihan umum sela atau midterm election yang dijadwalkan pada 3 November.

Obama hadir dalam acara kampanye di Cleveland dan Detroit sebagai upaya untuk menggalang dukungan pemilih Demokrat dalam persaingan sengit memperebutkan kendali Kongres, di mana pengaruh antara kedua partai saat ini terbagi secara tipis.

Obama menuduh pemerintahan Trump melakukan korupsi

Obama menggambarkan pemilihan umum mendatang sebagai kesempatan untuk meminta pertanggungjawaban pemerintahan Trump dan membatasi kebijakan-kebijakannya.

Ia mengajak para pemilih untuk menggunakan hak suara mereka guna menahan apa yang ia anggap sebagai penyalahgunaan wewenang oleh presiden.

“Pemilihan (sela) ini sebagai tombol pengalih kekuasaan yang dapat meredam berbagai tindakan kebodohan di masa kepresidenan Trump,” ujar Obama seperti dikutip dari Voice of Emirates, Senin 26 Oktober 2026.

Obama juga menambahkan bahwa warga Amerika Serikat perlu menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah.

Mantan presiden tersebut menuduh Trump telah menipu rakyat Amerika, dengan menyatakan bahwa Partai Republik kini mewakili pemerintahan yang korup atau tidak kompeten. Pihak Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan komentar.

Kritik terhadap strategi perang melawan Iran

Obama mengejek pernyataan pemerintah AS mengenai pencapaian kemenangan atas Iran.

Ia mengatakan bahwa perang tersebut justru memberikan daya tawar ekonomi tambahan bagi Teheran, mengingat ancaman yang mereka lontarkan terkait kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz—jalur krusial bagi ekspor minyak global.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga tak luput dari kritik. Obama menyindir fokus Hegseth pada penampilan fisik dan kadar testosteron di kalangan tentara, serta menyebut renovasi Gedung Putih sebagai bentuk pemborosan yang vulgar.

Partai Demokrat andalkan popularitas Obama

Partai Demokrat berupaya memanfaatkan popularitas Obama untuk meningkatkan peluang kandidat mereka, terutama dalam persaingan ketat di Senat, di tengah tuduhan bahwa Trump lebih mengutamakan kepentingan bisnis pribadinya daripada kepentingan publik.

Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos pada bulan Agustus menunjukkan bahwa 63% rakyat Amerika meyakini Trump dan keluarganya telah memperoleh keuntungan secara tidak pantas dari mata uang kripto (cryptocurrency), sementara 69% percaya bahwa keputusan politik Trump dipengaruhi oleh urusan bisnis pribadinya.

(Fajar Nugraha)