Google hingga Microsoft Hadiri Forum Investasi Teknologi Danantara

Konferensi pers Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. Foto: dok Danantara.

Google hingga Microsoft Hadiri Forum Investasi Teknologi Danantara

Ade Hapsari Lestarini • 23 October 2026 13:49

Jakarta: Danantara Indonesia akan menggelar Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 pada 26-28 Oktober 2026 di Jakarta. Forum ini menghadirkan tokoh ekonomi, ilmuwan, dan pemimpin perusahaan teknologi global untuk menghubungkan inovasi, modal global, dan peluang industrialisasi di Indonesia.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa menyebut DTIIF 2026 sebagai bagian dari upaya Danantara Indonesia membangun ekosistem industri berbasis teknologi dan inovasi yang didukung investasi jangka panjang.

Menurut Sigit, ekosistem tersebut berpegang pada tiga prinsip, yaitu resource-driven, demand-driven, dan industri berbasis teknologi dan inovasi. Sigit menjelaskan, Indonesia memiliki sumber daya mineral yang luar biasa, dengan pasar yang sangat besar, baik di dalam negeri maupun di kawasan Asia Tenggara.

"Kini kita ingin bangun talenta dan industrinya, dan inilah yang kami tawarkan kepada investor melalui peta jalan yang akan kami jabarkan bersama," kata Sigit, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.

Ke depan, Danantara Indonesia berharap dapat menjadi pionir dan penggerak industri berbasis teknologi di Indonesia.
 

Nobelis, menteri, dan raksasa teknologi dalam satu forum


Dalam kegiatan ini, salah satu pembicara yang dijadwalkan hadir adalah Prof. Peter Howitt, peraih Nobel Ekonomi 2025 dan Profesor Emeritus dari Brown University, Amerika Serikat. Ia memiliki rekam jejak panjang dalam penelitian ekonomi, khususnya mengenai hubungan antara inovasi teknologi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Gagasannya tentang teori Creative Destruction menyoroti bagaimana kemunculan teknologi dan model bisnis baru dapat menggantikan cara lama.

Pembicara lainnya adalah Prof. Thomas J. Sargent, peraih Nobel Ekonomi 2011 dan Profesor Ekonomi dari New York University, Amerika Serikat. Ia memiliki rekam jejak panjang dalam penelitian makroekonomi, khususnya mengenai hubungan sebab-akibat antara kebijakan ekonomi dan kinerja perekonomian. Gagasannya tentang ekspektasi rasional menyoroti bagaimana cara pelaku usaha dan investor membentuk perkiraan tentang masa depan akan memengaruhi dampak kebijakan fiskal dan moneter terhadap inflasi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.
 


Ilustrasi. Foto: dok Danantara.


Kehadiran para pemangku kebijakan menunjukkan pengembangan teknologi dan inovasi di Indonesia berjalan seiring dengan arah kebijakan nasional. Dari unsur pemerintah dan otoritas, hadir Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Brian Yuliarto, serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria.

Agar hasil riset bisa naik kelas ke skala industri, DTIIF 2026 juga membuka ruang bagi perspektif dari lembaga riset dan industri energi melalui Director, Technology and Innovation Strategy Center (TSC), NEDO, sekaligus Professor Emeritus, Institute of Science Tokyo Kikuo Kishimoto, Global Chief Technology Officer (CTO) Hitachi Energy Gerhard Salge, serta Director, Center for Collective Learning, Toulouse School of Economics César A. Hidalgo, yang dikenal sebagai pelopor di bidang economic complexity.

Di luar panggung diskusi, DTIIF 2026 menjadi tempat bertemunya pelaku industri untuk mewujudkan kolaborasi nyata. Sejumlah pemimpin industri yang turut hadir sebagai pembicara antara lain Director of AI and Research Partnerships Google APAC Harsh Dhand, General Manager, Government Affairs & Public Policy Microsoft ASEAN Jasmine Begum, President Director Telkom Indonesia Nanang Hendarno, serta Deputy President Director & Deputy Chief Executive Officer Pertamina Oki Muraza.

Partisipasi industri juga mencakup perusahaan teknologi global seperti Arm, Airbus, IBM, Thales, dan AWS, serta pimpinan BUMN dan sektor swasta nasional, termasuk PAL, Len, GoTo, dan Kadin Indonesia.
 

Enam sektor strategis dibuka untuk investor


Dalam forum ini, jajaran direksi Danantara Indonesia juga akan memaparkan portofolio dan peluang investasi di enam sektor industri strategis: energi; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; transportasi dan infrastruktur; keuangan dan perbankan; serta AI, infrastruktur digital, dan telekomunikasi.

"Pembahasan nantinya diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam mendukung industrialisasi nasional," kata Sigit.

Lebih jauh, Sigit mengatakan, tindak lanjut dari hadirnya kegiatan ini adalah membuka peluang realisasi kemitraan dan proyek investasi.

"Keberhasilan DTIIF yang sesungguhnya diukur dari apa yang terbangun setelah forum berakhir. Setiap kemitraan, MoU, dan pipeline proyek dari forum ini akan terus ditindaklanjuti, sehingga komitmen yang tercapai dapat menghasilkan proyek berdampak nyata," tambah dia.

(Ade Hapsari Lestarini)