Usai Eksekusi yang Gagal, Terpidana Mati AS Christa Pike Marah dan Bingung

Christa Pike selamat setelah jalani dua kali suntikan mati. Foto: BBC

Usai Eksekusi yang Gagal, Terpidana Mati AS Christa Pike Marah dan Bingung

Muhammad Reyhansyah • 8 October 2026 13:05

Nashville: Terpidana mati Christa Pike terbangun dalam kondisi “marah dan bingung” setelah selamat dari upaya eksekusi dengan suntikan mematikan di Tennessee, Amerika Serikat (AS), pekan lalu.

Pengacara Pike, Randy Spivey mengatakan, kliennya sempat tidak sadar selama berhari-hari setelah menerima dua suntikan mematikan pada 30 September. Pike kemudian mulai berbicara pada Selasa, yang disebut sebagai “kejutan bagi semua orang”.

Spivey mengatakan kata-kata pertama Pike setelah sadar adalah, “Di mana saya?” dan “Siapa kamu?”
Pike, 50 tahun, hanya mengingat sedikit mengenai percobaan eksekusi tersebut. Menurut Spivey, Pike bahkan membantu tim eksekusi menemukan pembuluh darah di lengannya dan bersikap baik serta sopan ketika obat disuntikkan.

Setelah itu, Pike terbangun di rumah sakit dengan selang di tenggorokan dan dikelilingi orang-orang yang tidak dikenalnya. Kedua lengannya kini disebut mengalami pembengkakan parah.

“Kami tidak tahu dampak semua ini terhadap kondisi mentalnya,” kata Spivey, dikutip dari BBC, Kamis, 8 Oktober 2026. 

Ia menambahkan Pike juga mengalami penggumpalan darah di salah satu lengannya, pneumonia, dan tidak dapat menelan.

Pike diyakini sebagai satu-satunya orang yang selamat dari upaya eksekusi dengan suntikan mematikan.
 
Setelah dua dosis pentobarbital tidak membuatnya meninggal, Pike dibawa ke rumah sakit dan tetap tidak sadarkan diri selama beberapa hari ketika tim medis berupaya membersihkan obat tersebut dari tubuhnya.

Hakim Perintahkan Bukti Disimpan

Pada Rabu, tim hukum Pike menghadap hakim dalam sidang darurat untuk meminta seluruh bukti terkait eksekusi yang gagal tersebut dipertahankan.

Pengacara Luke Ihnen mengatakan tim hukum menghadapi sejumlah kendala untuk berkomunikasi dengan Pike karena hingga sehari sebelumnya kliennya masih tidak sadar dan tidak dapat berkomunikasi.

Ihnen mengatakan Pike kini “berbicara secara terbatas” dan meminta hakim memberikan akses telepon agar kliennya dapat menghubungi pengacara.

Ia juga meminta tim hukumnya mendapatkan akses yang lebih leluasa kepada Pike. Menurut Ihnen, mereka sempat menunggu lebih dari dua jam dalam upaya mengunjungi Pike di rumah sakit.

Ihnen juga mengatakan petugas pemasyarakatan Tennessee masih memborgol Pike di tempat tidurnya meski tenaga medis telah meminta agar borgol tersebut dilepas.

Hakim Chancellor I’Shea Myles kemudian memerintahkan negara bagian Tennessee mempertahankan seluruh bukti yang berkaitan dengan eksekusi, termasuk benda-benda yang berada di ruang eksekusi, seperti selang infus dan jarum suntik.

Bahan lain seperti kemasan, lembar informasi, label, serta dokumentasi mengenai kondisi psikologis Pike sebelum, selama, dan setelah percobaan eksekusi juga harus disimpan.

Hakim meminta negara bagian memberi perhatian khusus agar informasi yang berkaitan dengan kasus tersebut tidak hilang atau terhapus secara tidak sengaja.

Jaksa Agung Muda Tennessee Will Ayers sebelumnya mengatakan negara bagian sebenarnya sudah berkewajiban mempertahankan bukti, sehingga menurutnya permohonan darurat tidak diperlukan.

Ketika ditanya hakim apakah eksekusi Pike akan dijadwalkan kembali, Ayers mengatakan dirinya tidak mengetahui jawabannya.

Eksekusi Tennessee Ditangguhkan

Gubernur Tennessee Bill Lee telah memerintahkan penghentian sementara seluruh eksekusi di negara bagian tersebut hingga akhir tahun. Lee mengatakan dirinya ingin mengetahui penyebab kegagalan eksekusi Pike.

Kepala lembaga pemasyarakatan Tennessee juga mengumumkan pengunduran dirinya setelah kegagalan eksekusi tersebut.

Pike dijatuhi hukuman mati karena membunuh Colleen Slemmer pada 1995. Saat itu Pike berusia 18 tahun dan melakukan pembunuhan bersama pacarnya, Tadaryl Shipp.

Keduanya memukuli, menyiksa, dan membunuh Slemmer yang berusia 19 tahun setelah bertemu korban di sebuah kamp pelatihan kerja bagi remaja bermasalah.

Shipp berusia 17 tahun ketika melakukan pembunuhan tersebut. Karena belum berusia dewasa secara hukum, ia tidak dijatuhi hukuman mati dan hingga kini masih menjalani hukuman penjara.

(Fajar Nugraha)