Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie). Foto- Istimewa
Pengukir Jepara di Sarajevo Rawat Warisan Bangsa yang Diakui Lintas Negara
Achmad Zulfikar Fazli • 19 October 2026 14:49
Jakarta: Inisiasi pengiriman tiga pengukir asal Jepara untuk merestorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, bukan sekadar untuk melakukan pekerjaan teknis. Langkah itu merupakan diplomasi budaya yang bekerja dari akar keterampilan masyarakat dan merawat warisan bangsa yang hadir di luar negeri sejak puluhan tahun lalu.
“Diplomasi budaya bukan sekadar kerja sama antarpemerintah. Ketika mendatangkan pengukir Jepara untuk merestorasi karya bersejarah Indonesia di Sarajevo, kita sedang menunjukkan bahwa warisan bangsa memiliki nilai yang diakui lintas negara,” ujar Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulis, Senin, 19 Oktober 2026.
Ketiga pengukir dari Jepara Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo tengah memperbaiki ornamen ukir di Masjid Istiklal Sarajevo, yang merupakan bagian dari jejak budaya Indonesia di Bosnia. Ornamen yang direstorasi merupakan karya pengukir Jepara pada puluhan tahun silam, bagian dari hadiah Presiden ke-3 RI BJ Habibie untuk Bosnia dan Herzegovina.
Kerusakan yang ditangani cukup berat. Enam pilar berukir berbahan kayu jati memerlukan penggantian menyeluruh karena kondisinya tidak memungkinkan diperbaiki dengan metode penambalan. Restorasi juga mencakup bagian tangga dan hiasan dinding masjid.
Misi ini berawal dari kunjungan Lestari ke Bosnia pada Februari 2026. Dalam rangkaian diplomasi untuk memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, dia menemukan sejumlah ornamen Masjid Istiklal mengalami kerusakan.
Rerie, sapaan akrab Lestari, menawarkan bantuan restorasi yang disambut baik pengelola masjid. Delapan bulan setelah kunjungan itu, komitmen tersebut diwujudkan melalui keberangkatan para pengukir.
Bagi Rerie, keberadaan ukiran Jepara di Sarajevo membuktikan keterampilan tradisional Indonesia memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering disadari. Hal ini juga menunjukkan warisan budaya bukan benda mati yang hanya dipajang, melainkan jejak peradaban yang harus terus dirawat agar generasi berikutnya mengenali akar identitasnya.
“Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ini adalah warisan bangsa yang harus kita rawat bersama,” ujar Rerie.
.jpg)
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Foto-Dok.Ist)
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menilai restorasi tersebut memperlihatkan bagaimana diplomasi budaya dapat berlangsung melalui tindakan konkret, yakni memperbaiki peninggalan sejarah dengan melibatkan keterampilan masyarakat yang mewarisinya.
Pendekatan itu sejalan dengan prinsip pembangunan manusia yang tidak hanya dibangun dari infrastruktur fisik, tetapi juga kemampuan merawat jejak peradaban. Menurut dia, keberhasilan pengukir Jepara di Sarajevo membuka jalan bagi upaya memperkenalkan warisan budaya Indonesia lainnya ke dunia.
Sementara itu, Sulaiman ?ati?, 50, warga Sarajevo yang telah tujuh tahun bekerja di bagian pengadaan kebutuhan Masjid Istiklal mengapresiasi upaya yang dilakukan Rerie dalam merestorasi ornamen kayu masjid. Dia mengatakan masyarakat Sarajevo sudah lama mengetahui peran Indonesia dalam pembangunan masjid di kawasan Otoka ini.
Dalam khutbah Jumat, Sulaiman juga sudah berkali-kali menyampaikan Masjid Istiklal dan ornamen ukir di dalamnya merupakan bantuan masyarakat Indonesia.