PLTN Paks di Hungaria ditutup akibat gelombang panas membuat debit Sungai Danube menyusut. (Anadolu Agency)
Hungaria Tutup Satu-satunya PLTN akibat Gelombang Panas Berkepanjangan
Willy Haryono • 2 August 2026 18:13
Budapest: Pemerintah Hungaria mengumumkan penghentian operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Paks, satu-satunya PLTN di negara tersebut, setelah permukaan air Sungai Danube turun ke level terendah dalam sejarah akibat kekeringan dan gelombang panas berkepanjangan.
Dilansir dari TRT World, Minggu, 2 Agustus 2026, Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar mengatakan penghentian tersebut menjadi kali pertama PLTN Paks berhenti beroperasi sepenuhnya sejak mulai beroperasi 44 tahun lalu.
"Disebabkan penurunan lebih lanjut permukaan air Sungai Danube, salah satu dari dua unit pembangkit yang masih beroperasi di PLTN Paks akan dihentikan pada pukul 01.30 dini hari," tulis Magyar melalui platform X.
Ia menambahkan bahwa kapasitas pembangkit akan turun menjadi hanya 240 megawatt sebelum seluruh fasilitas dihentikan sepenuhnya pada hari berikutnya.
PLTN Paks yang berada di selatan Budapest selama ini memasok sekitar sepertiga kebutuhan listrik Hungaria. Fasilitas tersebut menggunakan air Sungai Danube sebagai sistem pendingin reaktornya.
Namun, minimnya curah hujan dan gelombang panas yang melanda Eropa sejak Mei menyebabkan debit air sungai terus menyusut hingga mencapai rekor terendah.
Sebelumnya, pada Jumat, operator PLTN Paks telah memperingatkan bahwa penurunan muka air Danube berpotensi memaksa penghentian total operasional pembangkit pada pertengahan pekan depan apabila kondisi tidak membaik.
Sementara itu, badan meteorologi nasional HungaroMet memperkirakan suhu udara di Hungaria akan tetap berada di atas 40 derajat Celsius dalam beberapa hari mendatang.
Bahkan, suhu diperkirakan mencapai 42 derajat Celsius pada Kamis, menyamai rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut awal musim panas tahun ini.
Penutupan PLTN Paks menjadi perkembangan terbaru dalam krisis energi yang melanda sejumlah negara Eropa akibat kombinasi kekeringan berkepanjangan dan cuaca panas ekstrem yang turut mengganggu pasokan listrik serta ketersediaan air untuk pembangkit energi.
Baca juga: 2.877 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Inggris Selama Mei-Juni