Ilustrasi. Foto: WIkiup.
Masih Berani Merokok Dekat Anak? Saraf Pusat Mereka Jadi Taruhannya
Fachri Audhia Hafiez • 29 January 2026 05:45
Jakarta: Paparan asap rokok pada anak ternyata tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga berdampak fatal pada kerusakan organ tubuh lainnya hingga sistem saraf pusat. Dokter spesialis anak konsultan respirologi mengingatkan bahwa efek buruk rokok pada anak bisa terjadi secara akumulatif dan tidak perlu menunggu hingga usia dewasa untuk melihat kerusakannya.
"Bahayanya bukan cuma kena ke sistem respiratori, sistem pernapasan, dari ujung rambut sampai ujung kaki itu kena bahayanya. Ya jadi sistem saraf otak itu kena, terus jantung kena, pencernaan kena, dan efeknya itu tidak usah nunggu sampai dewasa nanti," kata Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi dari Universitas Indonesia, dr. Darmawan Budi Setyanto Sp.A (K) saat dihubungi ANTARA, Rabu, 28 Januari 2026.
Darmawan menjelaskan bahwa anak-anak di lingkungan perokok berisiko menjadi second hand smoker (perokok pasif) maupun third hand smoker yang menghirup residu asap rokok pada pakaian atau dinding rumah. Paparan ini dapat mengganggu prestasi akademik, menurunkan kecerdasan, hingga memicu gangguan perilaku seperti ADHD atau hiperaktif pada anak.
"Jadi anak-anak yang terpajan asap rokok lebih gampang kena ISPA. Asap rokok itu kan polusi ya, kalau tambahan polusi luar misalnya asap kendaraan, itu makin-makin kumulatif efeknya. Kerusakannya berlangsung lama tapi sejak awal sudah mengganggu," tambahnya.
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa pajanan sejak dini berpotensi memicu penyakit paru kronik dan gangguan jantung saat anak beranjak dewasa. Meskipun penghentian paparan dapat mencegah kerusakan bertambah parah, kerusakan yang sudah terjadi pada saraf pusat dan kecerdasan dikhawatirkan bersifat permanen atau tidak dapat diperbaiki.
.jpg)
Ilustrasi setop rokok. Foto: Freepik.com.
Darmawan menegaskan bahwa perlindungan anak dari asap rokok adalah kunci utama dalam mencetak generasi berkualitas di masa depan. Tanpa lingkungan yang bersih dari asap rokok, visi menciptakan sumber daya manusia yang unggul akan sulit tercapai.
"Jadi anak-anak yang terpajan rokok dari kecil itu jangan berharap jadi generasi emas nanti. Bisa jadi generasi cemas dan lemas," tegas Darmawan.