Sejarah Letusan Gunung Sinabung, dari Erupsi 2010 hingga 2026

Kolom erupsi Gunung Sinabung teramati mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak pada Senin, 31 Agustus 2026. Dokumentasi/ BPBD Kabupaten Karo.

Sejarah Letusan Gunung Sinabung, dari Erupsi 2010 hingga 2026

Putri Purnama Sari • 1 September 2026 19:10

Jakarta: Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung ini sempat lama tidak menunjukkan aktivitas erupsi sebelum kembali meletus pada 2010.

Sejarah letusan Gunung Sinabung kemudian memasuki fase panjang sejak 2013. Aktivitas vulkanik yang berulang memicu sejumlah erupsi, luncuran awan panas, hujan abu vulkanik, hingga evakuasi warga di sekitar kawasan gunung.

Pada 31 Agustus 2026, Gunung Sinabung kembali mengalami erupsi. Berdasarkan laporan Badan Geologi, kolom erupsi teramati mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut. 

Aktivitas tersebut membuat status Gunung Sinabung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Lantas, bagaimana sejarah letusan Gunung Sinabung? Berikut rangkumannya.

Gunung Sinabung Sempat Lama Tidak Erupsi

Sebelum kembali aktif pada 2010, Gunung Sinabung tidak memiliki catatan erupsi historis yang terkonfirmasi. Gunung ini sebelumnya diklasifikasikan sebagai gunung api tipe B.

Sejumlah penelitian mencatat adanya endapan aliran piroklastik berusia sekitar 740-880 Masehi di kawasan Gunung Sinabung. Aktivitas solfatara juga tercatat pada 1912. Namun, belum terdapat catatan erupsi historis yang terkonfirmasi sebelum rangkaian erupsi pada 2010.

Kondisi tersebut membuat kemunculan kembali aktivitas erupsi Sinabung pada 2010 menjadi peristiwa penting dalam sejarah gunung api tersebut.
 

Letusan Gunung Sinabung 2010

Gunung Sinabung kembali meletus pada 27-29 Agustus 2010. Letusan awal berupa erupsi freatik yang kemudian diikuti semburan abu vulkanik.

Menurut kajian vulkanologi, erupsi pada 29 Agustus 2010 menjadi letusan pertama yang terkonfirmasi setelah sekitar 1.200 tahun. Pada awal September 2010, kolom abu beberapa kali mencapai ketinggian hingga sekitar 5 kilometer di atas gunung.

Aktivitas tersebut membuat status Gunung Sinabung meningkat dan masyarakat di sekitar kawasan terdampak harus dievakuasi. BNPB mencatat lebih dari 12 ribu warga dievakuasi pada periode awal erupsi 2010.

Aktivitas erupsi kemudian mereda pada akhir September 2010. Meski demikian, emisi fumarola masih berlangsung selama beberapa tahun sebelum aktivitas erupsi kembali meningkat pada 2013.

Letusan Gunung Sinabung 2013


Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, naik status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) menyusul peningkatan aktivitas vulkanik dan erupsi yang menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 3.500 meter. ANTARA/AdeFriadi

Setelah relatif tenang selama beberapa tahun, Gunung Sinabung kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada September 2013.

Erupsi dimulai pada 15 September 2013 dan pada tahap awal didominasi letusan freatik. Aktivitas kemudian berkembang menjadi letusan magmatik pada November 2013.

Aktivitas vulkanik terus meningkat hingga status Gunung Sinabung dinaikkan menjadi Level IV atau Awas pada 24 November 2013. Sejumlah desa dan dusun di sekitar gunung harus dikosongkan untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat.

Pada fase ini, Gunung Sinabung juga mulai mengalami pertumbuhan kubah lava yang kemudian menjadi salah satu sumber bahaya utama karena dapat runtuh dan menghasilkan awan panas.

Letusan Besar Gunung Sinabung 2014

Memasuki 2014, aktivitas Gunung Sinabung masih berlangsung. Guguran lava pijar dan awan panas terus terjadi hingga awal Januari.

Pada 4 Januari 2014, terjadi rangkaian gempa, letusan, dan luncuran awan panas yang berlangsung secara berulang. Aktivitas tersebut menyebabkan dampak besar bagi masyarakat di sekitar Gunung Sinabung.

Salah satu peristiwa paling mematikan terjadi pada awal Februari 2014. Sebanyak 14 orang meninggal dunia dan tiga orang mengalami luka-luka akibat luncuran awan panas ketika berada di kawasan Desa Suka Meriah, Kecamatan Payung.

Rangkaian erupsi 2013-2014 menjadi salah satu fase paling signifikan dalam sejarah aktivitas Gunung Sinabung.
 

Letusan Besar Gunung Sinabung Tahun 2016

Aktivitas erupsi Gunung Sinabung kembali terjadi pada 21 Mei 2016. Saat itu, awan panas meluncur dan menyelimuti Desa Gamber yang berada sekitar 4 kilometer dari Gunung Sinabung.

Peristiwa tersebut menyebabkan tujuh orang meninggal dunia, sementara dua orang lainnya mengalami luka bakar. Para korban diketahui sedang berada di Desa Gamber ketika awan panas menerjang kawasan tersebut.

Letusan Besar Gunung Sinabung Tahun 2017

Memasuki 2017, aktivitas Gunung Sinabung masih terus berlangsung. Erupsi dan luncuran awan panas terjadi berulang kali sehingga ribuan warga masih harus bertahan di sejumlah lokasi pengungsian.

Pada Mei 2017, status Gunung Sinabung kembali berada pada Level IV atau Awas setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang ditandai erupsi dan luncuran awan panas. Material vulkanik dari aktivitas tersebut dilaporkan mencapai jarak sekitar 4 kilometer.

Erupsi kembali terjadi pada Rabu, 2 Agustus 2017 sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu, kolom erupsi mencapai ketinggian sekitar 4.200 meter. Erupsi juga disertai luncuran awan panas guguran sejauh 4.500 meter ke arah tenggara-timur.

Aktivitas erupsi yang berlangsung hampir setiap hari membuat ribuan warga masih mengungsi. Tercatat sebanyak 7.214 jiwa atau 2.038 kepala keluarga (KK) berada di delapan pos pengungsian.

Menjelang akhir Desember 2017, Gunung Sinabung kembali mengalami erupsi. Kali ini, awan panas guguran meluncur hingga sejauh 4,6 kilometer.

Rangkaian aktivitas vulkanik tersebut terus berlanjut setelah Gunung Sinabung kembali aktif sejak 2013. Erupsi masih terjadi hingga memasuki 2018, termasuk aktivitas yang tercatat pada Senin, 19 Februari 2018.
 

Gunung Sinabung Erupsi Lagi pada 2026

Setelah berada pada Level II atau Waspada sejak 17 Mei 2023, aktivitas Gunung Sinabung kembali meningkat pada Agustus 2026. Badan Geologi mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan dan perubahan karakter hembusan asap pada pertengahan Agustus.

Pada 31 Agustus 2026, Gunung Sinabung mengalami erupsi dengan kolom abu yang teramati mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak. Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, Badan Geologi kemudian menaikkan status aktivitas Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai pukul 12.30 WIB.

Badan Geologi menyebut erupsi tersebut merupakan erupsi awal dan masih terdapat kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar. Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, dalam radius 3 kilometer dari puncak, serta radius sektoral 6 kilometer ke arah selatan-tenggara.

Daftar Sejarah Letusan Gunung Sinabung

Berikut sejarah letusan gunung sinabung secara singkat:
  • 2010: Gunung Sinabung kembali erupsi setelah sekitar 1.200 tahun tidak mengalami erupsi terkonfirmasi.
  • 2013: Aktivitas erupsi kembali dimulai pada September dan meningkat hingga status Level IV (Awas) pada November.
  • 2014: Terjadi rangkaian erupsi besar, awan panas, dan guguran lava yang menyebabkan korban jiwa serta pengungsian.
  • 2015-2018: Aktivitas vulkanik terus berlangsung dengan pertumbuhan dan runtuhnya kubah lava serta awan panas.
  • 2019-2021: Gunung Sinabung masih mengalami erupsi secara berkala, termasuk erupsi signifikan pada 2021.
  • 2026: Aktivitas kembali meningkat dan status Gunung Sinabung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 31 Agustus 2026.
Sejarah panjang letusan Gunung Sinabung menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat kembali meningkat setelah periode tenang. Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan Gunung Sinabung perlu mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BNPB, serta pemerintah daerah.

(Putri Purnama Sari)