Cerita Penyaluran 2 Ton Bantuan di Labuan Bajo

Relawan mengangkut 2 ton barang bantuan ke Pulau Selayar Besar dan Selayar Kecil menggunakan kapal kecil. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi.

Cerita Penyaluran 2 Ton Bantuan di Labuan Bajo

Anggi Tondi Martaon • 28 August 2026 21:06

Labuan Bajo: Tak ada rotan, akar pun jadi, pepatah tersebut sangat pas menggambarkan upaya para relawan menyalurkan logistik pada warga terdampak gempa di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Relawan di Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, tetap bersemangat mengirimkan bantuan meski terkendala fasilitas.

Relawan Haerul, menceritakan bagaimana dirinya dan tim mendistribusikan bantuan ke Pulau Seraya kecil dan Seraya Besar di Kecamatan itu. Bukan logistik skala kecil, Haerul dan kawan-kawan bertanggung jawab mendistribusikan bantuan dua ton.

Idealnya, bantuan berat itu dikirim dengan menggunakan kapal sedang. Namun, tak ada kapal berukuran sedang di wilayah itu. Haerul pun mencari 'akar' karena 'rotan' tak tersedia.

Haerul menggunakan kapal kecil alias getek, yang biasa dipakai nelayan lokal melaut di pinggir pantai. Bantuan dari BRI itu diambil di Dermaga Biru, Labuan Bajo, pagi.

Sekitar pukul 07.30 Wita, Haerul dan kawan-kawan mulai berlayar mengarungi lautan menuju Pulau Seraya Besar dan Pulau Seraya Kecil. Beruntung, perjalanan misi kemanusiaan tersebut diiringi langit cerah dan ombak bersahabat, seolah merestui pengiriman bantuan dari BRI tersebut.

"Bagi kami ombak itu cukup besar. Tapi menurut mereka (nelayan lokal) ombak itu belum ada apa-apanya. Mungkin karena sudah terbiasa kali ya," ujar Haerul kepada Metrotvnews.com.

Setelah perjalanan satu setengah jam, Dermaga di Pulau Selayar Kecil mulai tampak dari kejauhan. Terlihat juga warga berjejer di sepanjang dermaga menunggu bantuan. Sampai di dermaga, tali diikat ke tiang dan bantuan mulai dipindahkan.

Haerul dan empat orang anggota tim, disambut bak pahlawan. Warga menyongsong bantuan, pemandangannya seperti 'jembatan tangan', bahu membahu memindahkan logistik dari getek ke tempat aman.

Haerul menjelaskan, bantuan yang diberikan di Pulau Selayar Kecil disesuaikan dengan jumlah warga di sana. Tercatat, ada 50 Kepala Keluarga (KK) yang menghuni pulau tersebut. 

Tak ada sambutan atau seremonial mewah dalam penyerahan bantuan tersebut. Mereka hanya menyapa warga, bertemu pengurus RT setempat, lalu melakukan penyerahan secara simbolis, dan langsung berangkat menuju Pulau Selayar Besar. 

Bukannya tak ingin berlama-lama di sana. Sebab, harus mengejar waktu menghindari pasang surut air laut. Siklus alam tersebut berlangsung mulai pukul 09.00 hingga puncaknya pukul 12.00 Wita.

"Kalau kita berlama-lama di sana nantinya pasang surut air. Takutnya kita tidak bisa keluar pulau," ujar Haerul.


Pengungsi di Pulau Selayar Besar dan Selayar Kecil mebantu relawan memindahkan barang bantuan dari kapal ke dermaga. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi.

Setelah selesai, relawan langsung bertolak ke Pulau Selayar Besar yang tak jauh dari Pulau Selayar Kecil. Jumlah korban bencana di sana mencapai 179 KK.

Di sana suasanya serupa. Relawan langsung memindahkan barang, menyapa warga, lalu penyerahan secara simbolis agar tidak terperangkap di pulau tersebut karena air surut. 

"Itu kalau air surut, kami baru bisa keluar sore hari," ujar Haerul. 

Mengungsi di Gunung Selama 3 Hari


Meski sebentar, Hareul dan relawan menyempatkan diri mendengar cerita warga di Pulau Selayar Besar dan Selayar Kecil saat gempa terjadi. Kondisi saat itu mencekam, apalagi gempa magnitudo 7,7 berpotensi tsunami. 

Dalam kepanikan, warga langsung lari ke dataran tinggi. Bahkan, mereka berada di sana selama beberapa hari. "Karena takutnya mereka langsung lari ke gunung (Gunung Bontoharu) selama tiga hari," ungkap Haerul.

Setelah berhari-hari dan memastikan kondisi aman, warga baru berani turun ke rumah. Mereka bermukim sementara di tenda atau di lokasi yang aman.

Secara umum, rumah warga di Pulau Selayar Besar dan Selayar Kecil rusak ringan hingga sedang. Hanya empat rumah yang roboh. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut.

(Gabriella Thesa Widiari)