Ilustrasi timnas Swiss. Foto: X/@nati_sfv_asf
Statistik Pertandingan Swiss vs Kolombia, The Nati dan Los Cafeteros Sama Kuat
Muhamad Marup • 7 July 2026 17:14
Jakarta: Swiss dan Kolombia akan berebut tiket perempat final Piala Dunia 2026 dalam pertandingan yang digelar di BC Place Vancouver, Kanada, Rabu, 8 Juli, pukul 03.00 WIB. Secara statistik, The Nati dan Los Cafeteros sama kuat dengan keunggulan masing-masing.
Kekhawatiran menyelimuti kubu Swiss. Bintang muda Johan Manzambi, gelandang senior Ruben Vargas dan Djibril Sow, meninggalkan sesi latihan lebih cepat dari seharusnya.
Melansir Antara, Manzambi sudah mencetak 3 dari 9 gol Swiss, sedangkan Vargas menjadi pemain Swiss paling aktif mengirimkan umpan silang dengan 22 umpan dan juga pemain Swiss paling sering menerima umpan, sebanyak 67 kali.
Jika Manzambi menjadi pengimbuh aspek teror pada lini serang Swiss, maka Vargas adalah arsitek penting dalam merancang gol dan peluang-peluang Swiss.
Mereka adalah dua dari sekian pemain Swiss yang berkontribusi membawa timnya ke peringkat kesembilan dalam aspek xG (probabilitas gol) dengan nilai 8,57.
Los Cafeteros memang proaktif sekali dalam membuat peluang gol, tapi efektivitas peluang mereka masih di bawah Swiss: 6 persen versus 16 persen.
Kolombia yang lebih aktif membuat peluang gol ketimbang Swiss, malah memiliki xG pada 6,35. Padahal Los Cafeteros sudah melepaskan total 79 peluang yang 28 di antaranya tepat sasaran.
Timnas Kolombia. Foto: X/@FCFSeleccionCol
Winger Bayern Muenchen Luis Diaz memimpin pemain Kolombia dalam hal penciptaan peluang dengan 16 kesempatan, melampaui Dan Ndoye dari Swiss yang mencatatkan 11 peluang.Data-data itu hanya menunjukkan bahwa pada dasarnya kedua tim ini sama-sama kuat, apalagi mereka sama-sama tak terkalahkan dalam empat laga pertama Piala Dunia 2026 yang sudah mereka jalani.
Keunggulan Dua Tim
Meskipun demikian, ada sedikit kesenjangan di antara mereka dalam hal menyerang dan bertahan.Jika Swiss tampil subur dengan mencetak 9 gol tapi kemasukan 3 gol dan hanya sekali menjaga gawang tetap bersih (clean sheet), maka gawang Kolombia terbukti lebih sulit dibobol. Mereka berhasil mencatatkan 3 clean sheet, termasuk saat menghadapi Portugal.
Namun begitu, pemain-pemain Swiss lebih klinis dalam menuntaskan peluang-peluangnya, sampai bisa mencetak 9 gol dari 56 peluang yang dibuat, sedangkan Kolombia hanya bisa mengonversi 5 dari 79 peluang.
Intinya, tim asuhan Murat Yakin punya sedikit kekurangan di area pertahanan, sedangkan pasukan Nestor Lorenzo agak bermasalah di lini serangnya sampai harus mengandalkan gol bek kanan Daniel Munoz.
Situasi sebaliknya terjadi di Swiss. 88 persen dari total 9 golnya dibuat oleh pemain-pemain depan atau pemain-pemain berorientasi menyerang, yakni Manzambi, Breel Embolo, Ruben Vargas dan Dan Ndoye.
Hanya gelandang bertahan Granit Xhaka yang bukan pemain berorientasi menyerang yang mencetak gol untuk Swiss.
Xhaka sendiri bisa disebut nyawa untuk permainan Swiss. Dialah pengatur tempo permainan Swiss, yang dia tunjukkan dengan kinerja istimewa sebagai pemain Swiss teraktif dalam membuka ruang, menembus lini ke lini dan menerima umpan. Di Kolombia peran seperti Xhaka ini dijalankan oleh Davinson Sanchez, yang juga pemberi umpan terbanyak dengan 282 umpan, masih di bawah bek Swiss Manuel Akanji yang total sudah mengirimkan 318 umpan.
Sanchez instrumental sekali bagi Kolombia berkat pengalamannya yang panjang sebagai bek senior, jago duel udara, dan sigap begitu kehilangan bola.