Letda Gini Setya Rahayu. Foto: tangkapan layar Youtube Metro TV
Pilot Perempuan di Super Hercules dan Kisah Pembuktian Letda Gini Setya Rahayu
Muhamad Marup • 23 August 2026 21:45
Jakarta: Letda Gini Setya Rahayu masih berusia 25 tahun ketika dipercaya menerbangkan pesawat C-130J-30 Super Hercules. Sebagai penerbang militer, ia harus selalu siap menjalankan perintah, termasuk ketika perubahan rute atau waktu penerbangan terjadi secara mendadak.
"Kita sebagai penerbangan militer, kita ikut perintah apabila ada perintah dari perubahan rute, perubahan jam, atau ada perintah dadakan," ujar Gini, dalam acara Q&A yang tayang di Metro TV, setiap Minggu, pukul 21.05 WIB.
Berbeda dengan penerbangan sipil yang umumnya memiliki jadwal tetap, penerbangan militer mengikuti kebutuhan operasi. Gini mengatakan perintah dapat datang kapan saja sehingga seorang penerbang harus selalu berada dalam kondisi siap.
"Kita harus selalu siap sedia di waktu kapanpun itu perintah datang," jelasnya.
Dalam lingkup penerbangan kepresidenan, pesawat Hercules memiliki peran mendukung berbagai kebutuhan operasi. Pesawat tersebut dapat membawa personel maupun material yang dibutuhkan untuk mendukung pengamanan Presiden di lokasi tujuan.
Karena itu, kata Gini, seorang pilot militer tidak hanya dituntut mampu menerbangkan pesawat. Menurutnya, pemahaman terhadap sistem dan prosedur pengoperasian pesawat menjadi kemampuan penting yang harus terus dikuasai, terlebih pesawat saat ini, termasuk C-130J-30 Super Hercules, sudah menggunakan teknologi terbaru.
"Setelah memasuki fase dari memasuki sekolah penerbang atau menjadi seorang pilot, itu menjadi belajar prosedur yang diutamakan dan bagaimana cara mengoperasi dan mengerti tentang sistem cara kerja pesawat," katanya.
Gini kini memiliki sekitar 350 jam terbang dan masih berkualifikasi sebagai kopilot. Meski sudah menerbangkan Hercules dan terlibat dalam penerbangan yang berkaitan dengan kebutuhan kepresidenan, ia merasa perjalanan untuk mencapai cita-citanya masih panjang.
"Tujuan saya adalah saya menjadi seorang captain pilot pesawat C-130 Hercules dan untuk kedepannya saya ada keinginan untuk melanjutkan menjadi seorang instruktur," tuturnya.

Program Q&A mengangkat kisah pilot perempuan. Foto: Metro TV
Jawab Kekhawatiran
Di balik perjalanan Gini sebagai penerbang, tidak ada latar belakang keluarga militer yang membawanya masuk ke dunia tersebut. Kedua orang tuanya merupakan warga sipil, sehingga kehidupan militer justru menjadi pengalaman baru baginya."Pas awal-awal cita-cita saya itu dokter, cuman setelah ke sini kayaknya waktu SMA itu sempat ngeliat pesawat lewat, terus kayak, eh kok pesawat bagus ya. Dari situ mulai kayak suka kedirgantaraan," ucapnya.
Dari ketertarikan itu, Gini akhirnya memilih Akademi Angkatan Udara setelah lulus SMA. Sang ibu sempat tidak menyetujui keinginan Gini menjadi penerbang karena sebagai anak tunggal, orang tuanya khawatir terhadap risiko dan tingginya tanggung jawab yang melekat pada profesi tersebut.
"Tapi setelah saya membuktikan bahwa saya mampu, saya bisa, dan saya bisa membuktikan bahwa saya bisa membanggakan kedua orang tua saya," ucapnya.
Dari seluruh pengalaman yang pernah ia lalui, ada satu momen yang paling berkesan bagi Gini. Ia pernah membawa kedua orang tuanya terbang menggunakan Hercules yang ia terbangkan bersama pilot lainnya. Gini akhirnya menjadikan pencapaiannya sebagai cara untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Ketika mereka dapat melihat langsung dirinya menerbangkan pesawat, kekhawatiran tersebut perlahan berubah menjadi kebanggaan.
"Setelah saya berhasil membawa kedua orang tua saya dan membuktikan bahwa ini penerbangan aman, akhirnya ibu dan bapak mendukung dari pilihan saya yang saat ini," terangnya.