Kapan El Nino 2026 Berakhir? Simak Cara Mitigasi Kekeringan dan Daerah Terdampak

Ilustrasi kemarau. Foto: Pexels/Jonathan

Kapan El Nino 2026 Berakhir? Simak Cara Mitigasi Kekeringan dan Daerah Terdampak

Muhamad Marup • 20 August 2026 18:23

Jakarta: El Nino tahun ini diprediksi menjadi salah satu yang terkuat. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui informasi terkait periode El Nino tahun ini.

El Nino merupakan fenomena yang kerap menyertai datangnya musim kemarau. Banyak pandangan menyebut bahwa tahun ini menjadi salah satu yang terkuat, bahkan disebut sebagai El Nino Godzilla.

Berdasarkan unggahan Instagram @infobmkg, berikut informasi mengenai El Nino 2026.

Jadwal dan Lokasi Puncak Musim Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino akan berlangsung hingga awal tahun 2027. Dugaan tersebut berdasarkan perhitungan pada pertengahan Juli 2026.

El Nino berpotensi mencapai kategori sangat kuat dengan peluang intensitas mencapai 75 persen. Fenomena ini berdampak langsung terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian besar Indonesia, setidaknya hingga Oktober 2026.

Di sisi lain, puncak musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada Juli-September 2026. Meski demikian, tidak semua wilayah mengalami puncak kemarau pada waktu yang sama, sehingga penting untuk mengetahui kondisi di daerah masing-masing.

Selama bulan Agustus, kemarau terjadi di 369 Zona Musim (ZOM) atau 48,84 persen wilayah. Berikut daftar wilayahnya:
  • Sumatra bagian tengah
  • Sebagian besar Jawa
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Sebagian NTT
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian Maluku dan Maluku Utara
  • Sebagian besar Pulau Papua

Musim Kemarau Dominasi Indonesia, 509 ZOM Masuk Musim Kering

Ilustrasi. Medcom.id

Selama bulan September, kemarau terjadi di 169 Zona Musim (ZOM) atau 25,41 persen wilayah. Berikut daftar wilayahnya:
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Sebagian besar Sumatra Selatan
  • Lampung
  • Sebagian kecil Jawa
  • Sebagian besar NTT
  • Kalimantan bagian selatan
  • Sebagian besar Sulawesi
  • Sebagian besar Maluku Utara
  • Sebagian Maluku
  • Papua Pegunungan bagian tengah

Cara Mitigasi Kekeringan

Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Aditya Prana Iswara, mengatakan, fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia kerap berujung pada kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, El Nino juga berpotensi menimbulkan risiko bencana sekunder (secondary disaster).

Ia mengungkapkan bahwa mitigasi fenomena El Nino tidak akan berjalan optimal apabila penanganan bencana di lapangan masih cenderung reaktif. Menurutnya, upaya tersebut kerap terhambat oleh tata kelola bencana yang tumpang tindih di Indonesia.

"Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar," ujar Aditya, mengutip laman resmi UNAIR, Kamis, 20 Agustus 2026.

Aditya menyoroti pentingnya kepemilikan cadangan air mandiri sebagai solusi individu dalam meminimalisir risiko krisis air ketika kekeringan melanda. Ia menyebut, reservoir atau cadangan air dapat diupayakan dengan melakukan pemanenan air hujan (rain harvesting).

“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” ujarnya. Aliran air hujan dari talang rumah akan diarahkan ke satu sudut. Sedangkan sudut lainnya mengarah ke tandon dengan melewati proses sterilisasi sebelum digunakan.

Meski volume air yang berasal dari proses tersebut tidak sebanyak kebutuhan harian, Aditya menilai langkah tersebut efektif dalam menghasilkan cadangan air mandiri.

“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim ya, karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” lanjutnya.

(Muhamad Marup)