Ribuan ASN Ikuti Latihan Komcad, Simak Aturan dan Urgensinya

Ilustrasi komponen cadangan (komcad). Foto Antara

Ribuan ASN Ikuti Latihan Komcad, Simak Aturan dan Urgensinya

Muhamad Marup • 23 April 2026 18:37

Jakarta: Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi menggelar Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN). Program ini dilakukan untuk membentuk komponen cadangan (komcad) dalam rangka memperkuat sistem pertahanan nasional.

Tahun ini, Kemham menargetkan 4.000 ASN akan mengikuti latsarmil yang terbagi dalam dua gelombang pelatihan. Program ini merupakan upaya pemerintah dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.

Komponen Cadangan diatur dalam Peraturan Menhan Nomor 3 Tahun 2021 dan tidak spesifik mengatur keikutsertaan ASN. Landasan hukum keterlibatan ASN dalam Komcad lebih jelas diatur dalam Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Nomor 27 Tahun 2021.

"Pemerintah melalui Kemhan membuka kesempatan bagi Warga Negara Indonesia untuk bergabung ke dalam Komponen Cadangan Nasional. Pegawai ASN termasuk bagian yang diharapkan bergabung dalam pasukan Komponen Cadangan," begitu bunyi dalam SE tersebut.

Lantas, apa urgensi di balik kebijakan ini?

Jumlah Komcad Indonesia

Negara

Jumlah Komponen Cadangan

Keterangan

Indonesia

9050

Total Komcad sejak 2021 hingga 2023.

Amerika Serikat

811.000

Terdiri dari Army National Guard dan Army Reserve.

Korea Selatan

3.100.000

Terdiri dari Mobilization Reserve Forces dan Homeland Reserve Forces.

Singapura

252.500

Wajib militer 22–24 bulan, dilanjutkan status cadangan aktif.

Taiwan

1.660.000

Didukung oleh wajib militer dan program cadangan nasional.


Mengutip laman Kemhan, jumlah Komcad di Indonesia lebih sedikit dibanding negara-negara lain. Bahkan, jumlah Komcad Indonesia lebih sedikit dari Singapura yang secara jumlah penduduk dan wilayah lebih kecil.

Untuk memperjelas data, berikut ini konteks Komcad di masing-masing negara:
  • Indonesia: Program Komcad dimulai tahun 2021 sebagai upaya memperkuat pertahanan melalui pelibatan warga sipil yang terlatih.
  • Amerika Serikat: Mengandalkan sistem militer sukarela dengan cadangan signifikan melalui National Guard dan Reserve.
  • Korea Selatan: Memiliki sistem cadangan terbesar di dunia, berlandaskan wajib militer yang diikuti masa cadangan aktif.
  • Singapura: Menerapkan wajib militer universal bagi pria, dengan komitmen cadangan hingga usia tertentu.
  • Taiwan: Menghadapi ancaman regional, Taiwan memperpanjang masa wajib militernya dan memperkuat sistem cadangan nasional.
Jika melihat jumlah penduduk Indonesia sekitar 265 juta jiwa, sedangkan jumlah personel TNI hanya sekitar 438.410 orang, maka secara rasio, satu personel TNI harus “mengayomi” hampir 600 warga. Ini merupakan kondisi yang rentan terhadap potensi ancaman terhadap kedaulatan negara dan keutuhan wilayah nasional.

Kemenhan Pastikan 1.773 ASN Siap Jalani Pelatihan Komcad

Kepala Badan Cadangan Nasional Kemenhan Letjen TNI Gabriel Lema (kanan) didampingi Komandan Brigade Parako 1 Pasgat, Kolonel Pas Helmi A. Nange (kiri) saat upacara pembukaan pelatihan ASN Komcad di Lanud Halim Perdanakusuma, Jaktim. Foto: Antara.

ASN berperan strategis

Jumlah ASN yang besar merupakan potensi nyata untuk memperkuat komponen utama pertahanan negara. Dalam konteks inilah, keberadaan Komponen Cadangan menjadi sangat penting sebagai pelapis dan pendukung Komponen Utama.

Keberadaan ASN menjadi sumber daya yang sangat potensial. Selain jumlahnya besar, ASN memiliki fungsi strategis sebagai pemersatu bangsa dan penyelenggara pemerintahan.

Namun, pelibatan ASN dalam Komcad masih menghadapi beberapa kendala, salah satunya adalah belum adanya payung hukum. Meski sudah ada SE Menpan RB, tapi belum ada aturan turunan yang secara spesifik mengatur peran ASN dalam struktur Komponen Cadangan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)